Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    5 Malam Usai Gempa, Warga Manggarai Masih Tidur di Tenda Swadaya - Kompas

    5 min read

     

    MANGGARAI, KOMPAS.com - Sejumlah warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di tenda swadaya hingga lima malam setelah gempa.

    Mereka memilih tidak kembali ke rumah karena masih takut terhadap kondisi bangunan yang rusak akibat guncangan, dan khawatir terjadi gempa-gempa susulan.

    Cypri (47), warga Kampung Carep, Kecamatan Langke Rembong, mengatakan bahwa dirinya bersama warga sekitar sudah lima malam tinggal di tenda.

    "Kami di tenda ini sudah malam yang kelima," ujar Cypri saat ditemui di posko pengungsian di depan rumahnya, Rabu (19/8/2023).

    Gempa NTT Hancurkan Masjid dan Gereja, Tangis Warga Pecah di Manggarai Timur

    Baca juga: Cerita Pengungsi Gempa Flores di Manggarai Timur, 4 Hari Tanpa Bantuan Makanan dan Obat

    Menurut Cypri, warga membangun tenda tersebut secara swadaya agar bisa tinggal dan berteduh sementara dengan aman.

    Tenda yang dihuni oleh enam keluarga itu dibangun dengan terpal dan tiang-tiang bambu seadanya.

    "Jadi ketika malam angin datang, kemudian siangnya begitu angin datang langsung debu masuk semua ke dalam. Jadi memang agak mau tidak mau kita harus terima dengan situasi," kata dia.

    Cypri mengatakan, warga setempat masih membutuhkan tenda yang lebih layak untuk menghadapi kondisi setelah gempa.

    Baca juga: Listrik Masih Padam di Manggarai Timur, Mendagri Tito Langsung Telepon Dirut PLN

    Menurut dia, kondisi malam hari di Ruteng sangat dingin, sedangkan kondisi siang hari gersang dan membuat debu mudah masuk ke dalam tenda.

    "Iya, langsung masuk. Ini Ruteng ini Pak kalau malam dia semakin dingin dia. Dia semacam kulkas, dingin sekali rasanya," kata Cypri.

    "Jadi kadang kalau siang memang agak panas ya cerah, debu melayang ke mana-mana, ini saja makanan ini tidak steril karena dimasak dalam kondisi debu begitu," sambung dia.

    Oleh karena itu, Cypri berharap warga mendapatkan tenda dan selimut yang lebih layak untuk mereka tinggal sementara, sampai rumah mereka diperbaiki.

    Baca juga: Gempa NTT: Bantuan Logistik Terus Datang, namun Pembagian Terhambat

    "Harapannya memang seperti itu untuk perbaikan rumah. Kemudian yang pertama sekali ini kondisi kami di tenda ini mungkin bisa selimut, kemudian tenda yang lebih layaklah buat kami bisa berteduh di bawah," kata dia.

    Kondisi serupa juga dialami Ambrosius Lay (48), warga Kampung Watu Alo, Kelurahan Tadong, Kecamatan Langke Rembong.

    Ambrosius mengatakan dirinya masih memilih tinggal di basecamp yang dia dan warga sekitar buat di depan rumah.

    "Masih takut kami tinggal di dalam rumah atau di mana. Jadi saya masih di basecamp. Kami buat sendiri depan," kata Ambrosius saat ditemui di Posko Bersama Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Manggarai, Rabu.

    Baca juga: Kunjungi NTT, Purbaya Pastikan Dana Penanganan Bencana Cukup, Siap Tambah Anggaran

    Menurut Ambrosius, warga sebenarnya memiliki pilihan untuk mengungsi ke lokasi terpusat yang disediakan pemerintah.

    Namun, dia masih merasa takut berada di dekat bangunan, setelah melihat kerusakan akibat gempa.

    "Ada, cuma di sana juga kan masih ada gedung-gedung walaupun di tanah lapangnya. masih trauma pak liat gedung tinggi," ujar dia.

    Ambrosius mengatakan, warga membuat tempat tinggal sementara dengan memanfaatkan bambu dan bahan yang tersedia di sekitar rumah.

    Namun, warga masih membutuhkan terpal untuk melindungi tempat tinggal sementara dari embun dan udara dingin pada malam hari.

    Baca juga: Dapur Darurat Minim, Pengungsi Gempa NTT Memasak Sendiri di Tenda Masing-masing

    Selain terpal, warga juga membutuhkan matras dan selimut.

    "Yang kurang terpal, itu memang terpal ya. Tenda mungkin bikin sekat sendiri Pak, banyak bambu di sini, mereka bikin sendiri tapi kurangnya itu terpal," kata Ambrosius.

    "Terus alasnya matras-matras ya, selimut ya. Yang mungkin itu yang pertama itu mungkin terpal itu. Terpal dulu," sambung dia.

    Baca juga: Rumah-rumah di Kemayoran Porak-poranda...

    Ambrosius mengatakan, warga khawatir kondisi malam yang dingin dapat mengganggu kesehatan, mengingatkan mereka masih dalam kondisi darurat.

    "Karena embun itu kalau malam. Kalau malam dingin kan, berembun, bisa flu," kata dia.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS