Danantara: Benahi BUMN Karya Berat, Satu Selesai Muncul Masalah Baru - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria mengungkap beratnya proses membenahi perusahaan-perusahaan BUMN Karya di bidang properti yang selama ini menghadapi berbagai persoalan keuangan.
Menurutnya, penyelesaian satu masalah kerap diikuti munculnya persoalan lain sehingga restrukturisasi harus dilakukan secara bertahap.
Baca juga: 10 Agustus, Pemerintah Serahkan Sertifikat Tanah Gratis buat MBR
"Memang butuh berkesinambungan. Energi kita juga terbatas. Selesai satu, masuk satu lagi," ujar Dony usai menghadiri acara akad massal 62.710 rumah subsidi di Batang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Dony mengatakan, kondisi yang dihadapi tidak hanya terjadi pada satu perusahaan. Saat proses restrukturisasi di satu BUMN selesai, tim kembali menemukan persoalan serupa di perusahaan lainnya.
Di depan Hakim MK, Ahli Ungkap MBG dan Kopdes Merah Putih "Kuras" Dana Daerah, Berdampak Negatif
"Baru masuk ke Pos, kondisinya begitu lagi. Baru masuk ke properti, saya juga frustrasi. Bayangkan, bagaimana tidak frustrasi? Kita lakukan repairment (perbaikan), aset tinggal Rp 7 triliun, sementara utangnya Rp 24 triliun. Mau diapakan?" katanya.
Danantara Ogah Tutupi Kondisi BUMN
Dia menegaskan, Danantara tidak menutup-nutupi kondisi yang dihadapi sejumlah BUMN.
Menurutnya, keterbukaan diperlukan agar publik memahami tantangan yang sedang dihadapi dalam proses penyehatan perusahaan negara.
Baca juga: Gaji MBR Habis buat Kontrakan, Danantara Gelar Pameran Rumah
"Saya orangnya apa adanya. Saya ingin masyarakat tahu bahwa kita sedang memperbaiki kondisi yang memang tidak baik-baik saja," ujarnya.
Sebagai contoh, Dony menyebut PT PP Properti Tbk yang harus melakukan perbaikan aset dalam jumlah besar sebelum perusahaan dapat dipulihkan.
"PP Properti itu impairment-nya hampir Rp 13 triliun. Tidak sedikit. Satu per satu kita perbaiki," ucapnya.
Dia juga menyinggung sejumlah perusahaan lain yang menjalani restrukturisasi, seperti PT Wijaya Karya Realty, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Pos Indonesia (Persero), hingga PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.
Menurut Dony, restrukturisasi perusahaan tidak cukup dilakukan hanya dengan satu langkah, seperti penyesuaian nilai aset atau restrukturisasi utang. Penanganannya membutuhkan berbagai aksi korporasi yang saling melengkapi.
"Satu kasus itu tidak cukup hanya repairment. Ada financial restructuring (restrukturisasi keuangan), ada langkah-langkah korporasi lainnya. Jadi, memang rumit," katanya.
Pada sektor properti, Dony mengatakan Danantara juga tengah mengonsolidasikan aset yang sebelumnya dikelola secara terpisah oleh masing-masing perusahaan BUMN.
Langkah tersebut dilakukan agar persediaan rumah dan apartemen milik BUMN dapat dipasarkan secara lebih efektif.
"Nanti setelah kita sehatkan semua, kita lihat total inventory yang kita punya. Seluruh inventory itu akan kita konsolidasikan dan dipasarkan sehingga masyarakat bisa mengaksesnya," ujar Dony.
Ia menambahkan, hasil konsolidasi tersebut akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui Housing Expo yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026–30 Agustus 2026.
Dalam pameran itu, Danantara juga akan menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menyediakan skema pembiayaan yang lebih terjangkau bagi masyarakat yang ingin membeli rumah maupun apartemen milik BUMN.
Baca juga: Rusun Subsidi Meikarta Bakal Dibangun Danantara Housing
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Deretan Jaksa yang Bikin Heboh karena Terjerat Korupsi