Dedi Mulyadi Jadikan Putri Satpam Waduk Jatiluhur Sebagai Anak Asuh, Jamin Pendidikan Hingga Dewasa - Tribunnews
TRIBUNSTYLE.COM - Kasus kematian Sumarna, seorang petugas keamanan Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masih diselimuti teka-teki besar.
Korban ditemukan tewas mengapung di perairan kawasan Tanggul Kayat pada Jumat (24/7/2026) menjelang siang.
Kondisi jasad korban saat dievakuasi amat mengiris hati, kedua tangannya dalam posisi terborgol ke belakang.
Tragedi ini bermula sewaktu Sumarna mendadak hilang kontak dan tak kunjung membalas panggilan rekan kerjanya saat menjalani tugas shift malam.
Rasa khawatir memicu tim keamanan melakukan penyisiran ke sejumlah titik, hingga akhirnya menemukan tubuh Sumarna yang sudah tak bernyawa.
Duka mendalam kini menyelimuti keluarga yang ditinggalkan, terlebih almarhum berpulang dengan menanggung dua anak yang masih menempuh pendidikan di jenjang sekolah.
Simpati pun membanjiri keluarga korban, mulai dari netizen hingga pejabat publik.
Salah satu kepedulian ditunjukkan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM itu menyerahkan santunan sebesar Rp25 juta demi meringankan beban keluarga almarhum.
Selain itu, ia juga menjadikan anak bungsa almarhum sebagai anak asuhnya. Seperti apa?
Baca juga: Gelombang Simpati Mengalir untuk Anak Satpam Jatiluhur, Dari Anggota DPR hingga Influencer

Penjelasan Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjawab tudingan dari publik soal pilih kasih memberikan bantuan kepada dua kasus berbeda.
Ia memang tengah disorot lantaran memberikan bantuan dengan nominal berbeda kepada dua kasus yang viral.
Dedi memberikan uang Rp50 juta kepada anak terduga maling di Bali yang ayahnya tewas dikeroyok warga.
Sedangkan untuk kasus satpam diduga dibunuh di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Dedi hanya memberikan bantuan berupa uang tunai Rp25 juta.
Hal itu rupanya jadi perbincangan netizen di media sosial.
"Pak @dedimulyadi71 jujur ini aneh, kenapa yang bukan warga nya sndri di ksh deposito 50jt sedangkan anak satpam yg di purwakarta hanya 25jt? Yg di bali itu istri dan anak nya sudah terjamin, kita yang hanya bisa melihat berita di medsos butuh kepastian tentang anak satpam ini gmna masa depan nya krna jujur kita punya rasa tanggung jawab moral, semoga bisa di UP segera apakah ada jaminan jangka panjang dari pemprov," tulis seorang netizen.
Bak sudah mendengar tudingan tersebut, Dedi akhirnya buka suara.
Lewat postingan di akun media sosialnya, Dedi mengaku sudah tahu bahwa ia tengah jadi perbincangan gara-gara memberikan bantuan dengan nominal berbeda pada dua anak yang kini yatim.
"Hayo sedang apa sekarang, sedang ngomongin perbedaan bantuan pembunuhan sekuriti dan korban pengeroyokan pencuri ayam di Bali ya? saya dianggap membeda-bedakan ya?" tanya Dedi Mulyadi dilansir TribunnewsBogor.com pada Kamis (30/7/2026).
Diungkap Dedi, ada alasan khusus kenapa ia hanya memberikan Rp25 juta kepada keluarga Sumarna, satpam yang tewas dibunuh.
Baca juga: Polisi Tekan Isu Miring Soal Video Viral Satpam di Jatiluhur: Bukan Status Korban, Milik Rekannya
Ada tiga alasan yang dijabarkan Dedi.
Pertama, Dedi mengaku bahwa dirinya lebih memilih memberikan uang Rp25 juta karena sisanya ia pakai untuk menyelesaikan kewajiban almarhum pada orang lain.
"Waktu itu saya tidak menyerahkan, uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," imbuh Dedi.
Alasan kedua adalah karena Dedi memikirkan pendidikan anak-anak korban.
Dedi memilih untuk mengalihkan bantuan uang tunai ke bantuan pendidikan.
Lagipula kata Dedi, selain bantuan berupa uang, ia juga memberikan bantuan lain yakni menjadikan anak korban sebagai anak asuhnya.
"Kedua, saya berfokus untuk pendidikan anaknya ke depan. Yang besar itu berfokus diselesaikan sekolah SMK dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan di sekitar rumah sehingga bisa menjamin kehidupan ibu dan adiknya," pungkas Dedi.
"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," sambungnya.
Alasan terakhir adalah lantaran korban sejatinya sudah memiliki asuransi ketenagakerjaan.
Anak dan istri Sumarna, kata Dedi, bakal diberikan santunan ratusan juta oleh BPJS Ketenagakerjaan.
Karenanya Dedi merasa bantuan Rp25 juta untuk keluarga Sumarna sudah cukup ia berikan.
"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak,"
"Semoga kita sama-sama berfokus menjadi orang yang peduli pada sesama. Terima kasih kalau perbedaan tunai yang saya berikan itu menimbulkan kegaduhan," ungkap Dedi.
(TribunStyle.com)(TribunnewsBogor.com/khairunnisa)