Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Ini Rahasia Rumah Tahan Gempa BRIN di NTT Tidak Ambruk - Kompas

    9 min read

     

    KOMPAS.com - Tiga prototipe rumah tahan gempa yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), tetap berdiri setelah wilayah tersebut diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.

    Rahasia ketahanan bangunan tersebut terletak pada teknologi konstruksi yang dirancang khusus untuk menghadapi guncangan gempa, salah satunya melalui sistem interlock 304.

    Dikutip dari akun Instagram resmi BRIN, teknologi tersebut menerapkan prinsip strong column and weak beam. Artinya, kolom bangunan dirancang lebih kuat dibandingkan balok.

    Baca juga: Gempa Tak Bisa Dicegah, Seberapa Siap Indonesia Menghadapinya?

    Konsep ini memungkinkan sendi plastis terbentuk pada bagian balok ketika bangunan menerima beban gempa. Dengan demikian, kerusakan dapat lebih terkendali dan struktur utama bangunan tetap mampu mempertahankan kestabilannya.

    Nurbiyati Pengungsi Gempa di Manggarai Beli Tenda Pakai Uang Sendiri, Belum Dapat Selimut dan Tikar

    Selain itu, rumah prototipe BRIN memiliki struktur yang simetris dan ringan. Desain tersebut membuat bangunan lebih stabil saat menerima guncangan sekaligus memudahkan proses pembuatan, pengangkutan, dan pemasangan.

    Teknologi Sistem Interlock

    Dari sisi konstruksi, rumah modular tersebut menggunakan sejumlah komponen yang dirancang untuk mendukung ketahanan terhadap gempa, termasuk gempa NTT belum lama ini.

    Baca juga: Teruji, Prototipe Rumah BRIN Tetap Berdiri Kokoh usai Gempa M 7,7 NTT

    Komponen yang digunakan antara lain joint interlock, baja tahan karat atau stainless steel 316, rangka atap baja ringan, dinding panel, pondasi batu kali, serta kusen aluminium.

    Sistem interlock menjadi salah satu bagian penting karena memungkinkan komponen struktur saling terhubung secara modular. Konsep ini juga membuat rumah tahan gempa relatif lebih mudah dirakit di lokasi pembangunan.

    Penerapan konstruksi modular tersebut dikembangkan BRIN sebagai salah satu alternatif hunian untuk wilayah yang memiliki tingkat risiko kegempaan tinggi, termasuk gempa NTT.

    Sistem interlock padas rumah tahan gempa BRIN yang sudah teruji pada kasus gempa NTT.

    Lihat Foto

    Baca juga: Dosen ITB Kembangkan Model AI untuk Prediksi Keruntuhan Bangunan Akibat Gempa

    Sementara itu dikutip dari laman resmi BRIN, Perekayasa Ahli Muda BRIN Vian Marantha Haryanto mengatakan, rumah-rumah tersebut sejak awal memang dirancang menggunakan teknologi konstruksi tahan gempa.

    “Rumah-rumah ini dirancang khusus dengan teknologi konstruksi tahan gempa untuk wilayah rawan bencana seperti NTT," ujar Vian.

    "Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini,” kata dia lagi.

    Rumah Tahan Gempa BRIN Tetap Berdiri

    Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian langsung bagi teknologi rumah modular tahan gempa yang dikembangkan BRIN.

    Baca juga: Rumah Gadang, Bangunan Tahan Gempa Warisan Kearifan Lokal Minang

    Di tengah guncangan gempa NTT tersebut, ketiga prototipe rumah BRIN di Labuan Bajo dilaporkan tetap berdiri.

    Dokumentasi kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 yang tercantum dalam laporan BRIN juga menunjukkan ketiga prototipe masih dalam kondisi baik.

    Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di lokasi yang berdekatan terdapat bangunan SD Rangko yang mengalami kerusakan pada struktur bangunan akibat gempa.

    Baca juga: Peneliti Unair Ungkap Keamanan BPA pada Air Galon Polikarbonat

    Meski pemantauan lapangan menunjukkan struktur ketiga rumah prototipe tersebut tetap baik, BRIN belum berhenti pada hasil pengamatan visual.

    Vian mengatakan, pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memperoleh validasi teknis melalui pengujian di laboratorium.

    Pengujian direncanakan menggunakan metode uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di Laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur. Metode pengujian dalam skala laboratorium tersebut telah dipersiapkan dan direncanakan dilaksanakan pada 2026.

    Baca juga: Kenapa BRIN Bikin Penelitian Genteng?

    “Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut,” tambah Vian.

    Dikembangkan Sejak 2019

    Teknologi rumah modular tahan gempa BRIN tidak dikembangkan secara instan. Penelitiannya telah dilakukan sejak 2019 dan terus mengalami penyempurnaan.

    Pengembangan awal rumah tahan gempa antara lain diwujudkan melalui pembangunan dua unit rumah di Kabupaten Tangerang.

    Baca juga: AHY Wajibkan Infrastruktur Pascagempa NTT Ekstra Kuat dan Tahan Gempa

    Kemudian pada 2021, BRIN mengembangkan prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak. Pada akhir tahun yang sama, tiga unit rumah tahan gempa prototipe dibangun di NTT.

    Pengalaman dari sejumlah prototipe tersebut kemudian digunakan untuk mengembangkan teknologi konstruksi pada generasi berikutnya.

    Salah satu penyempurnaan yang dilakukan adalah penambahan rubber bearing seismic pada rumah modular tahan gempa generasi kedua.

    Baca juga: Pengamat Soroti Tantangan Pembiayaan Molinas

    Komponen tersebut dirancang untuk membantu meredam dampak getaran gempa yang diterima struktur bangunan.

    Teknologi rubber bearing seismic merupakan hasil penelitian Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN. Material dasarnya memanfaatkan karet alam atau polimer elastis.

    Vian menjelaskan, komponen tersebut bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan bagian atas bangunan.

    Baca juga: Dibanding-Diinjak Prabowo Tak Pecah, Segini Harga Genteng Buatan BRIN

    Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi,” jelasnya.

    Rumah Tahan Gempa Tipe 36

    Rumah tahan gempa prototipe yang dikembangkan BRIN memiliki luas bangunan 36 meter persegi.

    Di dalamnya terdapat dua kamar tidur, satu ruang keluarga, satu kamar mandi, dan satu dapur.

    Baca juga: Retakan Tanah dengan Pola Mirip Akar Besar Usai Gempa Flores, Ini Penjelasan BMKG dan Badan Geologi

    Dengan konsep modular, rumah tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan bangunan yang lebih tahan terhadap gempa, tetapi juga untuk mempermudah proses pembangunan di daerah yang memiliki risiko bencana.

    Ketahanan struktur, bobot bangunan yang relatif ringan, serta sistem sambungan modular menjadi bagian dari pendekatan teknologi yang dikembangkan BRIN.

    Hasil pengamatan terhadap tiga rumah di NTT setelah gempa M 7,7 menjadi salah satu evaluasi penting bagi pengembangan teknologi tersebut.

    Namun, BRIN masih akan melakukan pengujian laboratorium untuk memastikan kinerja struktur berdasarkan standar teknis yang berlaku.

    Dengan demikian, hasil uji lapangan setelah gempa besar di NTT dapat menjadi bahan penting untuk penyempurnaan teknologi rumah modular tahan gempa agar semakin siap diterapkan di wilayah rawan bencana.

    Baca juga: Bikin Atap Rumah Tipe 36 dengan Genteng BRIN, Biayanya Rp 11 Juta

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS