Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    MENGHUBUNGKAN TRANSMISI...
    Home Berita Featured Hepatitis Kesehatan Pendidikan Pendidikan Tinggi Spesial UGM Universitas Gajah Mada

    Jutaan Warga RI Terinfeksi Hepatitis, Kenali Gejala Awal dan Cara Mengobatinya -

    4 min read

     

    Keberadaan penyakit hepatitis mungkin tak lagi asing di telinga masyarakat, namun hingga saat ini eksistensinya masih kerap disalahpahami. Penyakit ini kerap dikaitkan dengan gejala kulit dan mata yang menguning. Padahal, hepatitis merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh banyak hal. Hal itu mengemuka dalam podcast TropmedTalk bertajuk, “Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?” yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.

    Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM ini dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH menjelaskan bahwa penyakit ini paling banyak disebabkan oleh infeksi virus hepatitis. Meski demikian, ia menyatakan bahwa hepatitis juga dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, maupun penularan melalui makanan yang kurang terjaga kebersihannya. Lebih lanjut, dr. Fahmi menjelaskan bahwa virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E dengan cara penularan yang berbeda-beda. Misalnya, hepatitis A dan E menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Lalu, hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, seperti paparan darah. Sedangkan hepatitis D hanya dapat menginfeksi seseorang yang telah mengalami hepatitis B dan dapat memperberat penyakitnya. “Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C,” ungkap dr. Fahmi.

    Di antara berbagai jenis hepatitis tersebut, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama  karena keduanya berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis maupun kanker hati. Diperkirakan terdapat sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta penduduk yang terinfeksi hepatitis C. Dengan situasi kasus seperti ini, pencegahan sangat penting untuk dilakukan, disesuaikan dengan cara penularannya. “Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi,” lanjut Fahmi.

    Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat. Sedangkan hepatitis B dan C dapat dicegah dengan menghindari penggunaan jarum suntik bersama, tidak berbagi sikat gigi, alat cukur, atau gunting kuku, serta memastikan tindakan medis, termasuk tindik dan tato, dilakukan menggunakan jarum yang steril. Hepatitis B juga dapat dicegah melalui vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir dan kelompok dewasa yang berisiko tinggi. Vaksin hepatitis B hanya melindungi terhadap hepatitis B dan secara tidak langsung mencegah hepatitis D. “Sedangkan hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia sehingga pencegahannya berfokus pada upaya menghindari paparan darah yang terinfeksi,” ujarnya.

    Terkait pengobatan, peluang kesembuhan hepatitis berbeda pada setiap jenisnya. Hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak disertai kondisi yang memperberat penyakit hati. Hepatitis C dapat disembuhkan pada lebih dari 95 persen kasus  melalui pengobatan, terutama jika pengobatan dimulai sejak dini. “Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama dan pengobatannya harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Fahmi juga meluruskan mitos bahwa hepatitis B dan C dapat menular melalui makan bersama. Ia menjelaskan bahwa boleh makan bersama, boleh berpelukan, dan tidak masalah. Orang dengan hepatitis tidak perlu dijauhi ataupun menghentikan seluruh aktivitasnya. “Hepatitis juga tidak hanya menyerang orang dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi juga dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril.
    imbuhnya.

    Masyarakat diimbau segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran. Orang yang memiliki faktor risiko juga dianjurkan untuk mempertimbangkan pemeriksaan meskipun merasa sehat dan tidak mengalami gejala.

    Melalui podcast ini, PKT UGM mengajak masyarakat untuk memahami hepatitis berdasarkan fakta, melakukan pencegahan sesuai cara penularannya, serta tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan hepatitis. “Dengan deteksi dini, vaksinasi, pengobatan yang tepat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya eliminasi hepatitis di Indonesia diharapkan dapat semakin dipercepat,” pungkas Fahmi.

    Penulis : Leony

    Editor : Gusti Grehenson

    Foto : Dok. PKT UGM dan Magnific

    Komentar
    Additional JS