Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Kebutuhan Pengungsi Gempa NTT di Sejumlah Wilayah: Makanan hingga Air Bersih - Kompas

    12 min read

     


    KOMPAS.com – Para pengungsi korban gempa NTT di sejumlah wilayah terdampak masih membutuhkan perhatian terkait kebutuhan dasarnya. Mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, tenda hingga fasilitas sanitasi.

    Diketahui, dampak gempa magnitudo 7,7 tersebut membuat warga di sejumlah kabupaten mengungsi, baik di posko yang disediakan pemerintah maupun secara mandiri.

    Berdasarkan laporan dari sejumlah wilayah terdampak, kebutuhan para pengungsi gempa NTT belum sepenuhnya sama.

    Secara umum bantuan pangan menjadi yang utama. Meski begitu terdapat pula kebutuhan terkait fasilitas dasar di tempat pengungsian.

    China Pantau Gempa NTT: Warganya Terluka, Beijing Siap Kirim Bantuan

    Baca juga: Pertamina Salurkan 9.600 Paket Bantuan Untuk Warga hingga Karyawan Terdampak Gempa NTT

    1. Sikka: Makanan hingga obat-obatan

    Di Kabupaten Sikka, salah satunya akses menuju Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, terganggu setelah ruas jalan Waigete-Galit, tepatnya di kawasan Kali Buwer, tertutup longsoran tanah dan batu akibat gempa.

    Warga Desa Egon Gahar, Hilarius Carvalho, mengatakan ruas Waigete-Galit merupakan akses vital untuk pelayanan kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi hingga jalur evakuasi dalam kondisi darurat.

    “Kami sangat kesulitan kalau mau berobat ke Puskesmas Mapitara. Anak-anak dan bapak ibu guru yang mengajar di SMPN Mapitara dan SDI Galit serta sekolah di sekitarnya juga tidak bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar Hilarius, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

    Selain akses transportasi, warga juga membutuhkan bantuan dasar setelah gempa, terutama makanan dan obat-obatan.

    “Kami juga butuh bantuan obat-obatan dan makanan karena semenjak gempa kami belum mendapatkan sentuhan bantuan pemerintah. Padahal kami juga sebagai korban gempa,” tandasnya.

    Baca juga: Mentan Amran Salurkan 300 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT

    Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka, Margaretha M. Da Maga Bapa, mengatakan alat berat sedang dipersiapkan menuju lokasi longsor.

    Ia juga menambahkan, distribusi bantuan untuk korban gempa di 21 kecamatan sudah dilakukan sejak Senin (17/8/2026) dan akan terus dilanjutkan.

    2. Nagekeo: Sembako hingga air mineral

    Kebutuhan makanan menjadi persoalan yang dirasakan pengungsi di Kabupaten Nagekeo, salah satunya warga Dusun Marilewa, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae.

    Salah seorang warga, Sima, mengatakan hingga Selasa (18/8/2026) pagi, bantuan dari pemerintah daerah berupa kebutuhan pokok belum diterima warga di lokasi pengungsian.

    "Sudah datang data, tetapi sampai pagi ini belum ada uluran tangan dalam hal ini sembako," kata Sima, dilansir dari Kompas.com.

    Warga yang mengungsi terpaksa mengandalkan sisa makanan yang masih tersedia di masing-masing rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    "Kami spontanitas makan sisa yang ada di tiap rumah," ujarnya.

    Baca juga: Korban Gempa Flores Boleh Ambil Kebutuhan di Toko atau Kios, Pemprov NTT Bayar Kemudian

    Sementara itu, bantuan dari pemerintah desa yang telah diterima warga berupa beras sebanyak 25 kilogram, telur, dan air minum.

    Warga berharap pemerintah bersama TNI dan Polri segera menyalurkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    "Kami berharap melalui pemerintah, TNI dan Polri supaya bisa memberikan bantuan kepada kami untuk kebutuhan kami, seperti sembako, obat-obatan, makanan siap saji, air mineral, selimut, dan kelambu," tutur Sima.

    Di tempat lain, RT 30, Kelurahan Danga, warga juga masih bertahan di dua tenda darurat yang dibangun secara mandiri.

    "Yang paling dibutuhkan di sini itu air bersih, makanan dan juga kebutuhan bayi balita," ujar Ketua RT 30, Cindy Mitang, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Tribunnews.

    RT 30 dihuni 215 jiwa yang terdiri atas 71 kepala keluarga (KK). Sebagian warga mengungsi ke wilayah perbukitan yang dianggap lebih aman. Sebagian lainnya bertahan di dua tenda darurat yang dibangun secara swadaya.

    "Di sini ada dua tenda darurat yang dibuka secara mandiri, yang satunya itu 50 orang, dan yang di sini ada sekitar 60 orang. Ada bayi tiga untuk tenda di sebelah, lansia ada enam orang," kata Cindy.

    Baca juga: Terdampak Gempa, Desa di Manggarai Timur NTT Ini Belum Dapat Bantuan dari Pemerintah

    Bantuan pemerintah memang mulai diterima warga, di antaranya beras, telur, dan air kemasan. Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya menutup kebutuhan warga yang masih tinggal di tenda.

    Selain kebutuhan pangan dan air bersih, sejumlah warga juga mengalami luka, batuk, dan pilek.

    3. Manggarai: Distribusi logistik masih terhambat

    Di Kabupaten Manggarai, bantuan logistik terus berdatangan ke Posko Barangkolong, Kecamatan Reok. Namun, pembagian bantuan kepada pengungsi belum merata.

    Camat Reok, Kabupaten Manggarai, Rita Udin mengatakan, terdapat 10 posko pengungsian yang terdata di kantor Kecamatan Reok. Di luar itu, masih banyak posko mandiri yang tersebar di wilayah tersebut.

    Udin mengakui pembagian logistik kepada para pengungsi masih terhambat karena keterbatasan relawan.

    "Kita kesulitan. Relawan sangat kurang. Pembagian jadinya terhambat," kata Udin, Rabu (19/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

    Baca juga: BNPB Ungkap Kesulitan Penyaluran Bantuan Logistik Pasca-gempa NTT

    Salah seorang warga Kampung Kedindi, Kecamatan Reok, Wihelmina Kartini (43), mengaku sejak awal belum mendapat bantuan logistik sama sekali.

    Wihelmina mengungsi secara mandiri ke tempat kerabatnya di Kampung Wae Selung, Desa Salama, karena rumahnya hancur. Ia mengungsi bersama putranya dan beberapa orang lainnya.

    Menurut Wihelmina, kebutuhan mereka saat ini meliputi bahan makanan, pakaian dan obat-obatan.

    Persoalan lain terjadi di Posko Pengungsian Kampung Barangkolong yang dihuni lebih dari 1.300 pengungsi.

    Dapur darurat di posko tersebut masih minim sehingga kebutuhan makan pengungsi, petugas dan relawan belum sepenuhnya terpenuhi.

    Hampir semua pengungsi terpaksa memasak sendiri di tenda masing-masing.

    "Waktu awal-awal kami harus tunggu sampai tengah malam untuk dapat makan malam," kata Nursiah (45), Rabu (19/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

    Baca juga: Kisah Warga Sikka Patah Kaki Saat Selamatkan Diri dari Gempa NTT, Merangkak Keluar Rumah

    Warga memasak nasi, sayur dan mi instan yang dibagikan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

    "Dari hari pertama kita dikasih mi terus. Tidak ada telur," lanjut dia.

    Camat Reok, Rita Udin mengatakan, pihaknya sejak awal sudah mengajukan pembangunan dapur yang layak untuk pengungsian. Namun, hingga hari kelima setelah gempa, posko masih menggunakan dapur darurat.

    "Dari hari kedua kita ajukan soal dapur ke BNPB. Tidak ada yang respons," ucapnya.

    Ia mengatakan, bahan makanan yang dimasak di dapur berasal dari donasi yang datang. Persediaan makanan dari dapur tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh pengungsi, petugas dan relawan.

    4. Manggarai Timur: Makanan, air bersih, hingga MCK

    Keterbatasan kebutuhan dasar juga masih dirasakan warga Kampung Nasaret, Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

    Ratusan warga masih bertahan di tenda pengungsian darurat yang dibangun secara swadaya di area perbukitan.

    Warga memilih mengungsi ke perbukitan setelah gempa mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).

    Sebanyak 17 tenda pengungsian didirikan secara mandiri oleh warga. Namun, hingga hari keempat pascagempa, mereka mengaku belum menerima bantuan logistik dari pemerintah.

    "Kami membuat tenda sendiri dan makan seadanya. Kami minta tolong dibantu makanan dan obat-obatan. Kami membutuhkan bantuan dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat," kata Remigildus Ndiru, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

    Baca juga: Update Gempa NTT: Korban Jiwa Bertambah Jadi 71 Orang

    "Rumah sudah tidak ada. Semuanya rusak. Kami terus bertahan karena ingin selamat dan tetap aman jika terjadi gempa susulan," tuturnya.

    Keluhan kebutuhan dasar juga datang dari pengungsi di Posko Barang Kolong Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

    Maria Stevania mengapresiasi bantuan makanan yang mulai diterima pengungsi. Namun, ia mengatakan ketersediaan air bersih masih minim.

    "Masih minim pelayanan air bersih. Kadang kami tidak mendapatkan air. Padahal, kebutuhan air ini sangat penting, terutama untuk anak-anak," ujar Maria, Selasa (18/8/2026) malam.

    Selain air bersih, pengungsi juga menghadapi persoalan listrik dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

    Pengungsi lainnya, Kamarudin, mengatakan warga di posko mandiri tidak memiliki toilet dan kamar mandi.

    "Di sini sulit karena tidak ada toilet dan kamar mandi. Jadi, kalau kami ingin buang air besar atau keperluan lainnya, harus ke sekolah terdekat atau kembali ke rumah keluarga," kata Kamarudin.

    Baca juga: Kemenkeu Bawa Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Ada 4,6 Ton Beras hingga Selimut

    Untuk mendapatkan penerangan, pengungsi meminjam sambungan listrik dari sekolah terdekat.

    "Kami yakin memang ini baru beberapa hari dan masih tahap awal. Namun, kami berharap ke depannya keluhan ini menjadi perhatian pemerintah," tambah Kamarudin.

    5. Ngada: Tenda hingga alat pemurnian air

    Di Kabupaten Ngada, sebanyak 552 kepala keluarga (KK) mengungsi akibat gempa magnitudo 7,7.

    Kepala BPBD Kabupaten Ngada, Yohanes Ghae, mengatakan para pengungsi tersebar di 12 kecamatan terdampak.

    "Data sementara 552 kepala keluarga yang mengungsi. Ada yang mengungsi mandiri dan di rumah keluarga," ujar Yohanes Ghae dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

    Baca juga: Usai Diguncang Gempa, Labuan Bajo dan TN Komodo Mulai Pulih

    Menurut Yohanes, kebutuhan mendesak para pengungsi cukup beragam, terutama perlengkapan untuk mendukung kehidupan di lokasi pengungsian.

    "Kebutuhan itu di antaranya tenda keluarga, tenda pleton, velbed," ujar Yohanes.

    Selain tenda dan velbed, para pengungsi juga membutuhkan paket makanan, perlengkapan tidur, peralatan pemurnian air dan obat-obatan.

    Hingga Selasa (18/8/2026), Pemkab Ngada baru mendistribusikan bantuan ke empat kecamatan, yakni Riung, Riung Barat, Aimere dan Bajawa.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS