Kepala SPPG Karanganyar Diduga Keracunan MBG, Sekda Jateng Soroti Peran Ahli Gizi - Republika
Sekda Jateng menilai ahli gizi di SPPG semestinya melakukan asesmen lebih awal.
Rep: Kamran Dikarma

Republika/Thoudy Badai Ilustrasi menu MBG. Pelajar menyantap hidangan makan bergizi gratis (MBG) di SD Negeri Pejaten Barat 01, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Sumarno mengingatkan tentang peran ahli gizi di satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang bertugas memastikan kelayakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataannya berkaitan dengan dugaan keracunan yang dialami kepala SPPG Jati di Kabupaten Karanganyar.
“Sebetulnya kan di sana ada ahli gizi. Mereka yang harusnya mengasesmen lebih awal. Tidak harus kepala SPPG-nya,” kata Sumarno ketika diwawancara di Kantor DPRD Jateng dan dimintai tanggapan perihal kasus dugaan keracunan yang dialami ketua SPPG Jati Karanganyar, Jumat (14/8/2026).
Menurut Sumarno, isu yang muncul dalam pelaksanaan MBG salah satunya adalah besarnya kuantitas porsi makanan yang harus diolah dan disajikan oleh satu dapur. Dia berpendapat, menyiapkan sekitar 3.000 porsi makanan tentu membutuhkan pengaturan waktu dan sumber daya manusia yang memadai.
Sumarno mengungkapkan, dalam sejumlah kasus dugaan keracunan MBG, jarak antara waktu memasak hingga penyaluran dan penyajian terlalu panjang. “Durasinya mungkin agak terlalu lama. Sehingga kemarin kan sebenarnya juga identifikasinya ada beberapa ya karena agak lama itu akhirnya muncul bakteri,” ujarnya.
Dia menambahkan, Pemprov Jateng sebenarnya memiliki konsep pelaksanaan MBG saat program tersebut diluncurkan. Konsep tersebut dapat melonggarkan beban pengolahan dan penyajian makanan yang terlalu besar pada satu dapur. Caranya yakni dengan memberdayakan kantin sekolah.
“Kenapa dulu kita di Jawa Tengah mengajukan konsep MBG itu memberdayakan kantin sekolah? Karena kita di Jawa Tengah ini sudah ada program dinas pendidikan untuk kantin sehat. Kita juga sudah kerja sama dengan BPOM,” ucap Sumarno.
Kendati demikian, Sumarno menilai Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan Sudaryono akan melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan MBG.
Halaman 2 / 2
Diduga Keracunan
Kepala SPPG Jati di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Abra Yodha Raya, diduga mengalami keracunan setelah mencicipi menu MBG yang hendak didistribusikan pada Rabu (12/8/2026). Menu MBG ayam rempah yang berjumlah 2.800-an porsi akhirnya batal disalurkan.
Abra mengungkapkan, pada Rabu lalu, sekitar pukul 07.30 WIB, dia mencicipi menu MBG ayam rempah yang hendak didistribusikan. Dia mengatakan, sebelumnya koki di SPPG-nya sempat melaporkan adanya aroma kurang sedap yang menguar dari makanan.
“Sesuai dengan juknis dan protap, sebelum didistribusikan kita uji organoleptik: aroma, warna, rasa, tekstur. Itu kita uji dulu sebelum didistribusikan ke penerima manfaat. Jadi ada ahli gizi, chef, dan kepala SPPG yang ibaratnya tester dulu makanan ini baik atau tidak,” ucap Abra saat diwawancara, Jumat (14/8/2026).
Menurut Abra, makanan yang dicicipinya termasuk dalam kelompok pendistribusian batch atau gelombang dua. MBG tersebut bakal dikirim ke sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Sekitar satu jam setelah mencicipi makanan tersebut, Abra merasakan mual.
“Saya merasa mual, yang pertama itu mual. Yang perlu diklarifikasi adalah pusingnya. Saya nggak pusing,” ujar Abra.
Kendati demikian, Abra masih menolak jika gejala yang dialaminya merupakan gejala keracunan. “Mungkin efek dari tubuh saya sendiri yang kurang fit saat itu,” katanya.
Setelah merasakan mual, Abra segera memerintahkan agar MBG dengan menu ayam rempah itu tidak disalurkan. “Walaupun yang batch satu aman, tetap kami tarik. Kami menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Makanya kami tarik semua,” ucap dia.
“Jadi untuk yang ditarik sekitar 800 sampai 900 porsi. Lalu yang belum didistribusikan sekitar 2.000-an,” tambah Abra.
Meski mengalami mual setelah mencicipi menu MBG ayam rempah, Abra mengaku tidak pergi ke fasilitas medis seperti puskesmas atau klinik. “Setelah itu sudah aman kok, sehat semua. Makanya saya menyimpulkan apakah ini efek dari makanan atau tubuh saya,” katanya.
Abra mengungkapkan, terdapat 21 sekolah, dari jenjang SD hingga SMA, yang menjadi penerima manfaat dari SPPG-nya. Terkait dugaan keracunan yang dialaminya, Abra mengatakan dia hanya melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
“Yang jelas saya hanya menegakkan SOP demi program ini. Saya bertanggung jawab atas apa yang berada di SPPG ini,” ujarnya.
Menurut Abra, setelah kejadian itu, SPPG-nya kembali beroperasi seperti biasa.
Berita Terkait
Ketua SPPG Diduga Keracunan Setelah Cicip MBG, Taj Yasin: Bentuk Tanggung Jawab
Jateng - 15 August 2026, 01:49
Mendikdasmen: Anggaran MBG Mulai Dipisahkan dari Anggaran Pendidikan pada 2028
Nasional News - 14 August 2026, 20:08
Diberitakan Keracunan Usai Cicipi MBG, Kepala SPPG Karanganyar: Mungkin Tubuh Saya Kurang Fit
Jateng - 14 August 2026, 19:41
SLHS Jadi Syarat Mutlak, 9 Dapur MBG di DIY yang Belum Kantongi Sertifikat Dilaporkan
Kabar Jogja - 14 August 2026, 19:18
Menjaga Seporsi MBG Tetap Aman untuk Dikonsumsi
Inpicture - 14 August 2026, 19:12