Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    MENGHUBUNGKAN TRANSMISI...
    Home Aishah Prastowo Berita Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Pendidikan Spesial

    Kisah Aishah Prastowo, Penerima LPDP Lulusan S3 Oxford yang Pilih Jadi Guru di Yogyakarta - Kompas

    14 min read

     

    KOMPAS.com - Di tengah sorotan terhadap cuitan Dwi Sasetyaningtyas, awardee LPDP yang menyatakan kebanggaannya atas status kewarganegaraan Inggris sang anak, terselip kisah lain penerima beasiswa yang memilih pulang dan mengabdi di Tanah Air.

    Aishah Prastowo merupakan alumni LPDP generasi pertama (PK-6) yang menempuh pendidikan S3 di Oxford University, Inggris, dengan jurusan Engineering Science.

    Dengan jurusan serta kampus yang prestisius, Aishah justru memilih untuk tetap kembali ke negaranya dan mengabdi.

    Baca juga: Berapa Ratus Triliun Dana BGN dalam Anggaran Pendidikan?

    Ia memutuskan untuk membangun sekolah dan akhirnya menjadi guru SMA di Yogyakarta

    Hasto Soroti Beda Nasib Eks Jampidsus Febrie dengan Maling Ayam di Bali

    Kisah tersebut dimuat dalam situs resmi LPDP, yakni lpdp.kemenkeu.go.id pada Selasa (29/4/2025). 

    Lantas, bagaimana cerita Aishah memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengajar setelah sebelumnya berkuliah di Inggris?

    Baca juga: Cara Mendapatkan Beasiswa LPDP: Syarat, Ketentuan, dan Cara Daftar Lengkap

    Latar belakang keluarga dan kecintaannya terhadap Fisika

    Dunia pendidikan sudah akrab dengan Aishah sejak kecil. Ayahnya merupakan dosen fisika di Universitas Gadjah Mada, sedangkan ibunya adalah lulusan kimia dari kampus yang sama.

    Ketertarikan Aishah pada sains semakin kuat ketika ia sempat ikut sang ayah ke Kanada, yang saat itu tengah menempuh pendidikan doktoral di Queen’s University.

    Baca juga: Mati Lampu di Jakarta dan Tangsel Pagi Ini, PLN Ungkap Penyebabnya

    Sejak itu, fisika dan cita-cita berkuliah ke luar negeri tumbuh dalam diri Aishah.

    Ia kemudian mengambil S1 Teknik Fisika UGM pada 2007, saat usianya baru 16 tahun.

    “Menurut saya fisika itu sangat konkret ya, sesuatu yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang bola dilempar, kendaraan melaju. Seperti itu kan lebih mudah dipahami,” ucap Aishah, dikutip dari situs LPDP.

    Baca juga: Respons Korea Selatan soal Presiden Prabowo Siap ke Korea Utara untuk Buka Dialog

    Prestasinya di bidang sains juga terlihat sejak dini. Saat masih duduk di bangku SMP, Aishah meraih medali perak Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Pekanbaru pada 2004.

    Eksplorasi yang mendalam terhadap fisika kemudian mendorongnya mempelajari ilmu tersebut melalui pendekatan lintas disiplin.

    Aishah pun melanjutkan studi S2 Interdisciplinary Approach to Life Science di Universite Paris Descartes pada 2011 dengan beasiswa dari pemerintah Perancis. Saat itu, usianya baru menginjak 20 tahun.

    Baca juga: Imbas Konten Viral Cukup Aku yang WNI, Suami Alumnus LPDP Terancam Blacklist dan Refund Beasiswa

    Muncul keinginan untuk mendaftar LPDP.

    Selama menempuh pendidikan magister, Aishah diwajibkan menjalani magang penelitian di sejumlah laboratorium.

    Pengalaman berpindah dari satu laboratorium ke laboratorium lain justru memunculkan keinginan untuk mendalami riset secara lebih serius melalui pendidikan doktoral.

    “Karena saya merasa penelitian itu kalau cuma misalnya tiga bulan itu kayak baru nyiapin aja ya, belum benar-benar masuk ke dunia penelitian. Jadi saya memang waktu S2 itu langsung mencari untuk lanjut S3-nya seperti itu,” ungkapnya.

    Baca juga: Persib Vs Persija di Bali, Igor Tolic Hormati Piala Presiden meski Waswas

    Merasa penelitiannya di jenjang S2 belum tuntas, Aishah pun memutuskan melanjutkan studi ke tingkat tertinggi di usia yang terbilang muda untuk mahasiswa doktoral, bahkan belum genap 30 tahun.

    Pada periode tersebut, LPDP baru mulai beroperasi pada 2013. Informasi mengenai Beasiswa LPDP ia peroleh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris.

    Aishah kemudian mendaftar dan resmi diterima sebagai mahasiswi doktoral di University of Oxford pada 2014, saat usianya menginjak 23 tahun.

    Baca juga: Di Tengah Isu Awardee LPDP, Tasya Kamila Bagikan Kontribusinya sebagai Penerima Beasiswa

    Penelitian terkait Mikrofluida

    Selama menempuh pendidikan doktoral, Aishah menekuni riset di bidang mikrofluida multifase.

    Bidang ini berfokus pada teknologi pemrosesan dan pemindahan fluida atau cairan dalam volume yang sangat kecil.

    Pemanfaatan mikrofluida skala mikro dinilai mampu mengoptimalkan berbagai eksperimen, baik di laboratorium maupun untuk kebutuhan diagnosis di bidang kesehatan.

    Baca juga: Robert Budi Hartono Resmi Jadi Pengendali Tunggal BCA

    Salah satu contoh penerapannya adalah drug screening untuk mengetahui respons sel terhadap obat-obatan.

    Aishah menjelaskan, jika sebelumnya eksperimen membutuhkan banyak tabung reaksi dengan volume cairan besar, teknologi mikrofluida memungkinkan proses tersebut dilakukan melalui droplet dengan volume hanya dalam hitungan nanoliter hingga mikroliter.

    Riset yang digeluti Aishah memiliki potensi besar dalam menghadirkan efisiensi, khususnya bagi pengembangan teknologi kesehatan.

    Baca juga: Peserta Ungkap Kejanggalan Tangsel Fun Walk & Run Festival sejak Pengambilan Race Pack

    Dalam laporan BBC pada 2015, ia menyebut penelitiannya relevan untuk diterapkan di Indonesia.

    “Misalnya untuk membuat alat diagnostik penyakit secara murah dan dapat dilakukan di pelosok yang kurang terjangkau oleh alat laboratorium yang kompleks,” ujarnya.

    Sejumlah hasil penelitian Aishah telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Q1 dan dikutip puluhan kali.

    Baca juga: 25 Syarat Daftar Beasiswa LPDP 2026, Apa Sanksi bagi Penerima yang Melanggar?

    Disibukkan dengan aktivitas mengajar

    Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Aishah melangsungkan pernikahan dengan sang kekasih.

    Dalam fase awal pascawisuda, ia sempat bergabung sebagai tim peneliti dosen sebelum memasuki masa jeda karena kehamilan dan mengurus anak pertamanya.

    Situasi tersebut bertepatan dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang turut memengaruhi arah karier dan bentuk kontribusinya.

    Baca juga: Penyebab 48.000 Migran Pilih Pulang Setelah Susah Payah Berenang 5 Km Menuju Spanyol

    Pada masa pandemi itulah Aishah justru banyak terlibat dalam berbagai aktivitas pengajaran.

    Ia membuka kelas belajar, mengajar academic writing untuk mahasiswa, serta membimbing penelitian dan penulisan ilmiah bagi penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM).

    Selain itu, Aishah juga menjadi konsultan bagi mahasiswa yang hendak melanjutkan studi ke luar negeri.

    Baca juga: Mikrofon Dimatikan dan 'Ongkos' Diplomatik

    Keterlibatannya di dunia pendidikan tidak berhenti di situ. Aishah turut mendampingi siswa SMP dan SMA yang mengikuti berbagai lomba penelitian nasional, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

    Interaksi dengan para peserta didik dari berbagai daerah, baik secara daring maupun luring, memperkaya pengalamannya dalam pengajaran dan pendampingan riset.

    Pengalaman tersebut kemudian membawanya bergabung sebagai guru penelitian di Alta Global School, sebelum akhirnya mendapat tawaran untuk merintis sekolah alternatif pada 2024.

    Baca juga: Perjalanan Kasus Awardee LPDP Viral “Cukup Aku WNI” hingga Disanksi Blacklist dan Kembalikan Dana

    Mendirikan Praxis High School, siapkan siswa menghadapi tantangan AI dan robotika

    Praxis High School merupakan SMA alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art) yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

    Sekolah ini didirikan pada 2024 dan beroperasi di Desa Bimomartani dengan konsep ruang terbuka yang masih dikelilingi area persawahan.

    “Praxis High School sendiri adalah sekolah setingkat SMA. Sebelumnya kami adalah Praxis Academy, itu semacam IT bootcamp. Jadi visinya itu memang menjembatani antara lulusan kuliah atau dunia akademik dengan dunia kerja,” jelas Aishah.

    Baca juga: Lionel Messi Potong Libur Piala Dunia, Tampil Impresif Bersama Inter Miami

    Transformasi dari bootcamp menjadi sekolah formal tetap membawa visi yang sama, yakni membekali peserta didik tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga kesiapan profesional.

    Aishah menjelaskan, pendekatan tersebut dirancang untuk menjawab tantangan masa depan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh otomatisasi.

    “Kemarin mengacu pada penelitian bahwa di masa depan ini nanti dunia kerja akan dipengaruhi banyak hal, terutama otomasi seperti robotika dan AI, itu akan banyak menutup lapangan kerja yang sekarang sudah ada," kata Aishah.

    Baca juga: Perjalanan Kasus Awardee LPDP Viral “Cukup Aku WNI” hingga Disanksi Blacklist dan Kembalikan Dana

    "Namun, hal itu juga membuka banyak lapangan kerja baru. Jadi kita melihat ini sebagai tantangan dan peluang. Para siswa kami kemarin belajar AI di kelas satu, belajar coding, kemudian mengikuti kompetisi robotika juga saat ini,” lanjutnya.

    Mendirikan sekolah, menurut Aishah, bukan perkara mudah. Tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kurikulum, tetapi juga kepemimpinan dan pengelolaan institusi.

    Proses belajar pun terus ia jalani seiring berkembangnya sekolah.

    Baca juga: Mati Lampu di Jakarta dan Tangsel Pagi Ini, PLN Ungkap Penyebab Sementara

    Sejumlah capaian mulai ditorehkan. Selain meraih kemenangan dalam kompetisi robotika internasional di Vietnam, salah satu murid Praxis juga tercatat sebagai co-author dalam publikasi artikel ilmiah .

    Artikel tersebut terbit di bidang Ilmu Tanah yang dimuat di Terra: Journal of Forest Management. Capaian ini menjadi indikator awal keberhasilan pembelajaran berbasis STEM.

    Dengan bekal pendidikan tinggi yang ditempuh melalui Beasiswa LPDP, Aishah mampu membawa Praxis High School berkembang.

    Baca juga: Kisah Hapu Ammah, Penerima Beasiswa LPDP yang Pulang ke Sumba untuk Bantu Atasi Malaria

    Dunia pendidikan dan pesan Aishah untuk guru di Indonesia

    Meski sempat memiliki peta jalan sebagai peneliti, ia menilai jalur yang kini dijalaninya masih beririsan dengan dunia riset.

    “Sebenarnya saya terjun ke dunia pendidikan bisa dibilang tidak sengaja. Karena waktu itu ada pandemi, terus peluang yang besar saat itu menjadi pengajar secara online. Yang saya ajarkan itu juga masih terkait dengan dunia penelitian," cerita Aishah.

    "Jadi ketika merefleksikan pengalaman tersebut ternyata saya tetap mencintai dunia penelitian, tetapi love language-nya sekarang berbeda saja,” sebutnya.

    Baca juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok 3 Agustus 2026, Ini Daftar Wilayahnya

    Dari Oxford ke Yogyakarta, dari laboratorium ke ruang kelas, Aishah memaknai ulang kontribusinya.

    Meski rencana hidup tidak selalu berjalan sesuai skenario, fokus untuk memberi manfaat tetap ia jaga.

    “Jangan takut atau merasa minder, jangan down. Kalau misalnya dirasa belum memberi impact yang besar, ya justru impact-impact yang kecil ini yang bisa lebih dirasakan manfaatnya buat orang-orang sekitar,” pesannya.

    Menutup perbincangan, Aishah menekankan pentingnya peningkatan kualitas pendidik melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    “Saya mengajak guru-guru di Indonesia untuk yang ingin lanjut S2, S3 untuk bisa memperjuangkan dan meraih mimpi-mimpinya dengan Beasiswa LPDP,” kata Aishah.

    Baca juga: Di Tengah Isu Awardee LPDP, Tasya Kamila Bagikan Kontribusinya sebagai Penerima Beasiswa

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS