Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kesehatan Sayuti Melik Spesial

    Kisah Putra Sayuti Melik: Dulu Berkarier di Amerika, Kini Melawan Sakit di Kontrakan Bekasi - Kompas

    19 min read

     

    BEKASI, KOMPAS.com – Ingatan Heru Baskoro (84) memang tak lagi setajam dahulu. Penyakit diabetes yang telah lama dideritanya, ditambah gangguan penglihatan, perlahan menggerus kondisi fisik dan daya ingat putra kedua tokoh Proklamasi Kemerdekaan RI, Sayuti Melik, itu.

    Namun, ketika nama sang ayah disebut, sorot wajah Heru seketika berubah. Di tengah keterbatasan yang kini membelenggu tubuhnya, ingatan tentang sosok Sayuti Melik masih tersimpan kuat.

    Dengan suara lirih, ia mengenang ayahnya sebagai pribadi yang tegas, disiplin, sekaligus sederhana.

    Baca juga: Bagaimana Nasib Ojek dan Area Jemput Setelah Integrasi Stasiun Karet-BNI City?

    "Ayah saya orang yang sangat disiplin dan keras dalam menerapkan aturan. Beliau selalu mengajarkan agar kami mengikuti peraturan dan tidak melanggarnya," ujar Heru saat ditemui Kompas.com di rumah kontrakannya di Rawalumbu, Kota Bekasi, Senin (13/7/2026).

    Iran Bantah Ada Negosiasi dengan AS, Selat Hormuz Tetap Ditutup

    Ingatan Heru soal Sang Ayah yang Hobi Bermain Catur

    Bagi Heru, kedisiplinan bukan sekadar nasihat yang diucapkan sang ayah, melainkan nilai yang dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip itu pula yang berusaha terus ia pegang hingga sekarang.

    Di mata masyarakat, Sayuti Melik dikenang sebagai tokoh yang mengoreksi sekaligus mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Namun, bagi Heru, ayahnya adalah sosok sederhana yang memiliki kegemaran bermain catur.

    Baca juga: Setiba di Larantuka, 2 Pengantar Baru Sadar Jenazah yang Dikawal dari Jakarta Tertinggal di Kupang

    Heru Baskoro (84) anak dari penulis naskah proklamasi Sayuti Melik, saat ditemui di kontrakan dua petak, di Bojongmenteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Senin (13/7/2026). Ia dikabarkan hidup terlantar bersama sang istri dan kehabisan biaya pengobatan mata.

    Lihat Foto

    "Ayah sangat menyukai catur. Karena beliau, saya juga belajar bermain catur. Dulu beliau sering bermain catur sambil makan di rumah makan sederhana," kata Heru.

    Selain hobi bermain catur, Heru juga masih mengingat kedekatan ayahnya dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

    Menurut dia, hubungan Sayuti Melik dan Bung Karno tidak hanya sebatas rekan seperjuangan, tetapi juga dibangun atas saling memahami cara berpikir satu sama lain.

    Baca juga: Jadi Tersangka Kecelakaan Bus ALS, Bos Truk Tangki: Saya Dizalimi dan Dikriminalisasi

    Heru bercerita, setiap kali Soekarno hendak berpidato di suatu daerah, Sayuti Melik selalu menyiapkan berbagai informasi mengenai kondisi masyarakat setempat agar pidato yang disampaikan sesuai dengan karakter dan kebutuhan warga.

    "Jadi pidato Bung Karno sesuai dengan kondisi masyarakat," kata Heru.

    Kini Menjalani Hari Tua di Rumah Kontrakan

    Heru lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 1 Juni 1942. Ia merupakan putra kedua dari pasangan Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti, dua tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

    Dalam kehidupan pribadinya, Heru menikah dengan Treyzia Noviani (65), cucu tokoh pergerakan nasional KH Agus Salim, putri pasangan Arlena Marcia dan Abdoel Muherti Martunus. Setelah menikah, keduanya menetap di Kanada sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk menjalani pengobatan mata Heru.

    Baca juga: Sudah Puluhan Kali Lapor ke JAKI, tapi Sampah Tidak Diangkut Semuanya

    Kini, pasangan lansia itu menjalani hari-hari berdua tanpa kehadiran anak. Mereka sempat menyewa sebuah rumah kontrakan dua petak di Jalan Cipendawa Baru, RT 002/RW 003, Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

    Heru Baskoro (84) anak dari penulis naskah proklamasi Sayuti Melik, saat ditemui di kontrakan dua petak, di Bojongmenteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Senin (13/7/2026). Ia dikabarkan hidup terlantar bersama sang istri dan kehabisan biaya pengobatan mata .

    Lihat Foto

    Dengan biaya sewa Rp 560.000 per bulan, pasangan lansia itu bertahan hidup di tengah kondisi kesehatan Heru yang terus menurun.

    Ruangan sempit itu menjadi tempat mereka beristirahat sekaligus menyimpan barang-barang yang dibawa setelah beberapa kali berpindah tempat tinggal. Tas, koper, dan kardus tersusun di sudut ruangan berdampingan dengan perabot sederhana yang digunakan sehari-hari.

    Baca juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok 4 Agustus 2026, Ini Daftar Wilayahnya

    Mereka tidur di atas kasur yang diletakkan langsung di lantai tanpa ranjang. Sebuah kipas angin menjadi satu-satunya alat untuk mengurangi hawa panas di dalam rumah.

    Kondisi Kesehatan Heru Semakin Menurun hingga Tak Bisa Operasi Mata

    Saat ditemui Kompas.com, Heru tampak semakin renta. Rambutnya telah memutih seluruhnya. Meski penglihatannya terus menurun dan kesehatannya memburuk, ia masih berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

    Penglihatannya pun semakin terbatas. Mata kanan Heru kini sudah tidak dapat melihat, sedangkan mata kirinya hanya menyisakan sedikit kemampuan untuk menangkap cahaya.

    Baca juga: Jenazah Nirmal Purja Ditemukan, Pendaki yang Taklukkan 14 Gunung dalam 189 Hari

    Menurut Treyzia, suaminya masih membutuhkan operasi lanjutan menggunakan kornea buatan, tindakan medis yang hingga kini belum dapat dilakukan di Indonesia.

    Treyzia menyebut, operasi tersebut hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman. Namun, rencana pengobatan itu harus tertunda karena keterbatasan biaya.

    Meski kini kesehatannya terus menurun dan hidup dalam keterbatasan, Heru mengaku masih menyimpan harapan sederhana. Ia ingin kembali sehat agar tetap dapat memberi manfaat bagi orang lain.

    "Saya ingin bisa sehat kembali dan tetap dapat membantu lingkungan serta sesama manusia," ucapnya.

    Baca juga: Warga Kota Bogor Alami Kekeringan Sebulan, Andalkan Tampungan Air dan Minta Tetangga

    Ia pun menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan.

    "Saya berharap anak-anak muda selalu menaati peraturan, hidup disiplin, dan tidak melanggar aturan. Sekarang kita sudah menjadi bangsa yang merdeka, jadi kita harus menjaga dan menaati aturan negara sendiri," kata Heru.

    Sempat Menjadi Pemegang Permanen Residence Amerika Sebelum Pindah ke Kanada

    Sebelum kembali ke Indonesia, Heru dan Treyzia tinggal di Kanada sejak akhir 1990-an. Saat itu, kondisi ekonomi keluarga masih cukup mapan karena Heru memiliki pekerjaan tetap.

    Baca juga: Permintaan Erick Thohir Usai Timnas Indonesia Terkapar Lawan Vietnam

    Menurut Treyzia, suaminya semula merupakan pemegang Green Card (kartu tetap tinggal) di Amerika Serikat. Namun, setelah menikah, keduanya memutuskan pindah ke Kanada.

    Keputusan tersebut diambil setelah Treyzia mengalami kesulitan beradaptasi selama tinggal di Amerika Serikat.

    Atas saran seorang pengacara imigrasi, mereka mencoba memulai kehidupan baru di Kanada yang saat itu dinilai memiliki sistem jaminan kesehatan yang lebih baik.

    Baca juga: Satpam Bundaran HI Diperiksa Bidpropam Polda Jabar Selama 4 Jam, Dicecar 22 Pertanyaan

    "Suami saya permanent resident Amerika sebelum kenal saya. Jadi dicoba ke Kanada, dan akhirnya pindah ke sana karena kesehatan lebih terjamin," ujar Treyzia

    Selama tinggal di luar negeri, Heru memiliki perjalanan karier yang cukup baik. Ia pernah bekerja di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat, dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan di Trans Bakrie.

    Seluruh Tabungan Habis untuk Berobat

    Kehidupan pasangan itu mulai berubah ketika Heru mengalami gangguan penglihatan.

    Kini mata kanan Heru sudah tidak dapat melihat, sedangkan mata kirinya hanya menyisakan kemampuan melihat yang sangat terbatas.

    Baca juga: Driver Ojol Tewas Ditikam Saat Istirahat di Tangerang, Polisi Masih Dalami Motif Pelaku

    Kondisi tersebut membuat mereka beberapa kali bolak-balik Kanada dan Indonesia demi mencari pengobatan terbaik.

    Di Indonesia, Heru sempat menjalani perawatan di Jakarta Eye Center menggunakan biaya pribadi. Pada 2021, ia juga menjalani transplantasi kornea menggunakan donor manusia.

    "Semua pakai uang sendiri. Kami bahkan sudah jual rumah. Waktu itu berharap setelah operasi kondisinya membaik," ujar Treyzia.

    Baca juga: Hasil Timnas Indonesia Vs Vietnam 0-3, Kekalahan Terbesar John Herdman Bersama Garuda

    Harapan itu belum terwujud. Kondisi Heru tidak mengalami perkembangan sesuai yang diharapkan.

    Menurut Treyzia, suaminya masih membutuhkan operasi lanjutan menggunakan teknologi kornea buatan yang hingga kini belum tersedia di Indonesia. Tindakan tersebut hanya dapat dilakukan di Kanada, Amerika Serikat, atau Jerman.

    Namun, upaya melanjutkan pengobatan kembali terkendala biaya. Setelah kembali ke Kanada, biaya pengobatan yang telah mereka keluarkan tidak mendapatkan penggantian.

    Baca juga: 7 Sekolah Ajukan Mundur dari Program Sekolah Gratis Pemprov Banten, Andra Soni Ungkap Nasib Siswa

    "Begitu balik lagi ke Kanada, biaya pengobatan itu tidak di-reimburse. Sementara kondisi bapak masih sakit dan sudah tidak bisa bekerja. Uang habis untuk pengobatan," ujarnya.

    Diabetes Memperburuk Kondisi Heru

    Selain kehilangan penglihatan, Heru juga harus berjuang melawan diabetes yang dideritanya selama bertahun-tahun. Menurut Treyzia, penyakit tersebut perlahan memengaruhi fungsi tubuh hingga jaringan saraf di otak sang suami.

    "Jadi diabetes kan pengaruhnya ke mana-mana. Jaringan-jaringan ke otaknya juga mengalami gangguan, akhirnya agak demensia, lebih cepat dari seharusnya," tutur Treyzia.

    Baca juga: Warga Keluhkan Kandang Ayam di Tengah Permukiman Ciputat Tangsel karena Bau

    Operasi mata lanjutan sebenarnya telah dijadwalkan berlangsung di Kanada pada akhir Juli ini. Namun, rencana tersebut kembali tertunda karena mereka tidak memiliki biaya untuk berangkat.

    "Sudah dijadwalkan, tapi karena tidak ada dana untuk ke sana, akhirnya mundur lagi," katanya.

    Mengandalkan Bantuan untuk Bertahan Hidup

    Sejak kembali ke Indonesia pada 2024, Heru dan Treyzia beberapa kali berpindah tempat tinggal sebelum akhirnya menyewa rumah kontrakan di Rawalumbu sekitar empat bulan lalu.

    Baca juga: PM Anutin Minta Prabowo Impor Beras, Daging, Susu dari Thailand, Imbalannya Beli Pupuk

    Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan bantuan dari kerabat dan teman-teman dekat.

    "Dulu sempat dibantu pihak gereja, tapi karena ada syarat-syarat yang tidak bisa kami penuhi akhirnya bantuan itu berhenti," kata Treyzia.

    Ia mengaku juga telah berupaya meminta bantuan kepada berbagai pihak, termasuk instansi pemerintah. Namu, hingga kini belum ada bantuan yang benar-benar mereka terima.

    Baca juga: Polisi Pengitimidasi Satpam Bundaran HI Disebut Tengah Bertugas di Kemendagri

    Tetangga Ungkap Sosok Heru dan Treyzia saat Mengontrak di Bekasi

    Maria Ulfah (43), tetangga yang tinggal tidak jauh dari kontrakan pasangan lansia tersebut, mengatakan Heru dan istrinya hampir tidak pernah keluar rumah. Kondisi kesehatan Heru yang terus menurun membuat seluruh aktivitasnya harus didampingi orang lain.

    Maria berujar, pasangan itu biasanya hanya keluar ketika memiliki keperluan mendesak, seperti mengambil uang di ATM atau mencari makanan.

    "Bapak sama ibunya enggak pernah keluar rumah. Paling kalau mau minta makan baru keluar. Enggak pernah pergi jauh-jauh, soalnya kan bapaknya enggak bisa ditinggal," ungkap Maria ditemui di sekitar kontrakan Heru.

    Maria mengaku baru mengetahui bahwa Heru merupakan putra Sayuti Melik setelah mendengar cerita dari Heru sendiri ketika pertama kali tinggal di lingkungan tersebut.

    Meski kini hidup dalam keterbatasan, Maria menilai Heru tetap menunjukkan sikap yang mencerminkan latar belakang dan pengalaman hidupnya.

    Baca juga: Keterangan Berubah-ubah, Motif Pengirim Pesan Teror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Masih Didalami

    "Saya mikir kelihatan ini memang orang berada, maksud saya dari cara-caranya dia. Orang hebat," katanya.

    Sebagai pedagang makanan, Maria mengaku beberapa kali membantu memenuhi kebutuhan makan Heru dan istrinya. Menurut dia, Heru bukan sosok yang banyak meminta. Menu sederhana seperti telur, kecap, atau ayam semur sudah cukup baginya.

    "Makannya sebenarnya gampang banget, makannya juga dikit. Paling makan telur sama kecap, dia sukanya itu," ujar Maria.

    Baca juga: Pengelola Six Nine Padel Mengaku Tak Tahu Penebangan 10 Pohon di Cihapit, Siap Dipanggil Satpol PP

    Maria mengatakan, interaksi Heru dengan warga sekitar memang tidak banyak karena sebagian besar penghuni lingkungan tersebut bekerja sebagai pedagang sehingga lebih sering berada di luar rumah.

    Kemensos Bawa Heru ke Sentra Terpadu

    Kondisi Heru dan Treyzia yang hidup dalam keterbatasan akhirnya mendapat perhatian Kementerian Sosial (Kemensos).

    Heru Baskoro (84) anak dari penulis naskah proklamasi Sayuti Melik, dijemput petugas Kemensos untuk dipindahkan ke STPL Bekasi Timur. Senin (13/7/2026).

    Lihat Foto

    Pada Senin siang, keduanya dipindahkan ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Timur untuk mendapatkan penanganan yang lebih layak.

    Baca juga: Sektor Kiper Timnas Indonesia Jadi Sorotan Usai Dibobol Vietnam Tiga Gol

    Lurah Bojong Menteng, Kodriana, mengatakan pemindahan dilakukan setelah pemerintah mengetahui kondisi kesehatan dan ekonomi pasangan lansia tersebut.

    "Alhamdulillah hari ini dari Kemensos juga hadir dan akan membawa beliau ke tempat yang lebih layak, yaitu di STPL Bekasi Timur," ujar Kodriana.

    Ia menjelaskan, pihak kelurahan baru mengetahui keberadaan Heru dan Treyzia pada 11 Juli 2026. Setelah menerima informasi itu, kelurahan langsung berkoordinasi dengan Camat Rawalumbu serta pengurus lingkungan untuk memastikan kondisi keduanya.

    Menurut Kodriana, kondisi tempat tinggal Heru saat itu cukup memprihatinkan.

    "Menurut saya tinggal di kontrakan seperti ini cukup miris. Awalnya mereka hanya tidur di atas karpet biasa. Makanya kami inisiatif bersama Pak RW membelikan kipas angin karena memang cuacanya panas," katanya.

    Baca juga: Untuk Apa Sensus Ekonomi 2026? Ini Penjelasan Pramono bagi Warga Jakarta

    Selain kipas angin, pihak kelurahan bersama pengurus lingkungan juga memberikan kasur agar pasangan lansia tersebut dapat beristirahat lebih nyaman.

    Kodriana juga memastikan identitas Heru sebagai putra Sayuti Melik berdasarkan dokumen serta foto-foto yang ditunjukkan kepada pihak kelurahan.

    "Terkait kebenaran bahwa keduanya benar keluarga pahlawan Proklamasi Sayuti Melik, kalau lihat dari foto-foto dan dokumen, iya," ujar Kodriana.

    Baca juga: Polemik Pagar Kota Kasablanka Dinilai Muncul karena Pemerintah Kurang Jelaskan Kebijakan

    Jalani Asesmen untuk Menentukan Pengobatan

    Kepala STPL Bekasi, Budi Satriyo, membenarkan bahwa Heru dan Treyzia telah tiba di sentra tersebut.

    "Benar. Saat ini keduanya sudah berada di STPL," kata Budi.

    Menurut dia, STPL akan segera melakukan asesmen menyeluruh untuk menentukan bentuk intervensi yang paling sesuai dengan kondisi Heru.

    Baca juga: Judi Online Jadi Salah Satu Pemicu Perceraian di Blora, Penghasilan Suami Habis untuk Berjudi

    "Dalam waktu dekat, kami maksimalkan pelayanan kesehatan dan fasilitasi kebutuhan dasar lainnya," ujarnya.

    Hasil asesmen tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan melanjutkan pengobatan Heru di Indonesia atau memfasilitasi rencana perawatan yang sebelumnya sempat tertunda di Kanada.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS