Stok Makanan Terbatas, Warga Terdampak Gempa NTT di Sikka Andalkan Ubi - Kompas
SIKKA, KOMPAS.com - Persediaan bahan makanan warga Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak gempa cukup terbatas.
Kondisi itu diperparah dengan akses jalan penghubung antardesa di Pulau Palue yang masih terputus akibat material longsor.
Akibatnya, kendaraan roda dua maupun roda empat belum dapat melintas untuk membawa pasokan makanan ke wilayah tersebut.
Warga pun harus menghemat persediaan bantuan makanan yang ada. Salah satunya dengan mengonsumsi ubi kayu putih dan ubi putih yang merupakan makanan lokal masyarakat Palue.
Kisah Pilu Korban Gempa NTT, Ayah Tewas Lindungi Putrinya dari Reruntuhan Rumah
“Kami makan ubi kayu tambah ubi putih Palue. Irit-irit makanannya,” jelas Lory Kadi, warga Desa Nitung Lea, Jumat (21/8/2026), dilansir dari TribunFlores.
Baca juga: Kisah Warga di Sikka Pascagempa NTT, Jalan 5 Km Lewati Longsor untuk Ambil Bantuan
Stok makanan di kios mulai habis
Menurut Lory, terbatasnya persediaan makanan juga dirasakan karena sejumlah kios di sekitar permukiman warga tidak mendapat pasokan baru.
“Ada kios, tapi persediaan habis karena akses jalan yang belum bisa dilalui,” katanya.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur persediaan makanan yang masih tersedia sambil menunggu akses jalan kembali terbuka.
Sebelumnya, Lory bersama sejumlah warga harus berjalan kaki sekitar 5 kilometer dari Desa Nitung Lea menuju Desa Rokirole untuk mengambil bantuan pascagempa NTT.
Mereka berangkat pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 08.00 WITA dengan melewati bebatuan dan material longsor yang menutupi jalan.
Baca juga: Update Gempa NTT: Korban Meninggal Dunia Tembus 83 Orang
Ambil Bantuan Sembako, Harus Jalan 5 Km
Warga sebelumnya mendapat informasi dari posko Kili-Cawalo agar segera datang untuk mengambil bantuan berupa terpal dan sembako.
Terpal tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai tenda darurat karena sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat gempa.
Namun, saat tiba di lokasi, terpal yang dijanjikan belum tersedia. Warga hanya menerima bantuan sembako berupa beras 10 kilogram dan 10 butir telur untuk lima kepala keluarga.
“Kami harus berangkat pagi sekali berjalan kaki 5 kilometer untuk bisa ambil terpal dan sembako, tetapi ternyata sampai di sana terpalnya belum ada dan hanya dapat sembako,” terangnya.
Lory mengatakan bantuan tersebut harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan 15 jiwa.
Baca juga: Dari Pasta Gigi hingga Beras, Koster Serahkan Bantuan Rp 1 Miliar untuk Korban Gempa NTT
Akses jalan Palue dibuka bertahap
Pemerintah masih berupaya membuka kembali akses jalan penghubung antardesa di Pulau Palue dengan menggunakan alat berat.
Pembersihan material longsor dilakukan secara bertahap agar jalan dapat kembali dilalui kendaraan. Dengan terbukanya akses, distribusi bantuan dan pasokan kebutuhan pokok diharapkan bisa kembali berjalan.
Camat Palue, Rudolfus Riba, mengatakan proses pembukaan jalan telah dilakukan sejak 17 Agustus 2026.
“Sudah digusur hari ketiga, sore ini sudah bisa lewat,” tukas Rudolfus.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT
Tiga Hari Pascagempa, Warga Reo Masih Trauma dan Bertahan di Tenda Seadanya