Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kemarau Lintas Peristiwa Spesial

    81,1% Wilayah Indonesia Masih Berada di Musim Kemarau - Sindo news

    4 min read

     

    A A A

    BMKG melaporkan bahwa sekitar 81,1% wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau hingga awal September 2026. Foto/Dok.SindoNews

    JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa sekitar 81,1% wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau hingga awal September 2026. BMKG mengungkapkan curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian, diprakirakan masih mendominasi sebagian besar Sumatera bagian selatan, seluruh Pulau Jawa.

    Selain itu di sebagian besar Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta sebagian besar Papua, sehingga kondisi kering diprediksi masih akan berlanjut.

    Baca juga: Hotspot Karhutla Turun di 4 Provinsi, Pengendalian dan OMC Terus Diperkuat

    “Memasuki September 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, atau sekitar 0–150 mm per dasarian,” tulis BMKG dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

    “Meskipun demikian, peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah. Pada periode 11–17 September 2026, hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi di sebagian Sumatera, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Pegunungan, dan Papua,” kata BMKG.

    BMKG menjelaskan potensi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas beberapa dinamika atmosfer, seperti Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sejumlah wilayah Indonesia.

    Baca juga: Akui Kekeringan Terjadi di Jakarta, Pramono: Bisa Teratasi, Airnya Masih Cukup

    Kondisi atmosfer yang cukup labil, terutama di sebagian Sumatera dan Papua, juga mendukung pertumbuhan awan hujan. Selain itu, faktor konvektif lokal diprediksi memberikan pengaruh signifikan dalam pembentukan awan hujan di musim kemarau.

    “Dengan demikian, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, potensi hujan sedang-lebat/sangat lebat secara lokal tetap perlu diwaspadai. Pada saat yang sama, wilayah yang masih mengalami curah hujan rendah juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap,” ungkap BMKG.

    Potensi hujan sepekan ke depan di wilayah Indonesia:

    - Periode 11 – 13 September 2026

    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Papua.

    Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh dan Sumatera Utara.

    Angin Kencang: Nusa Tenggara Timur, Kalimantan barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

    - Periode 14 – 17 September 2026

    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi cerah berawan hingga hujan sedang. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Papua Pegunungan, dan Papua.

    Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Aceh

    Angin Kencang: Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

    BMKG pun mengimbau masyarakat untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering seiring musim kemarau yang masih berlangsung. Penggunaan tabir surya diperlukan guna mengurangi paparan langsung sinar matahari.

    “Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan,” kata BMKG.

    Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.

    “Masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api,” imbau BMKG.

    (shf)

    Komentar
    Additional JS