Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Bencana Berita Featured Gunung Meletus Kesehatan Lintas Peristiwa Sesak Nafas Spesial

    Abu Vulkanik Anak Krakatau Bukan Debu Biasa, Bisa Picu Sesak Napas - Kabar6

    2 min read

     


    Kabar6 – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Selain mengikuti informasi resmi pemerintah, masyarakat diminta memahami dampak abu vulkanik terhadap kesehatan, khususnya sistem pernapasan.

    Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Tangerang dr. Virginia Nurya Hikmawati menjelaskan, abu vulkanik tidak dapat disamakan dengan debu biasa. Keduanya memiliki karakteristik dan kandungan berbeda sehingga dampaknya terhadap tubuh juga perlu diperhatikan.

    **Baca Juga:Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi, Gubernur Banten Perpanjang PJJ

    “Kalau debu biasa kandungannya bisa berupa tanah, serat kain, jamur, maupun alergen. Sementara abu vulkanik memiliki partikel mineral dan logam, termasuk kuarsa dan silika,” jelasnya, Selasa (8/9/2026).

    Menurut Virginia, partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke saluran pernapasan. Jika terhirup hingga mencapai paru-paru, partikel tersebut dapat memicu reaksi peradangan pada jaringan pernapasan.

    Tubuh akan mengenali abu vulkanik yang masuk sebagai benda asing. Kondisi itu kemudian dapat memicu peningkatan produksi lendir pada saluran pernapasan. Dampaknya dapat lebih terasa pada masyarakat yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan.

    “Orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan sebelumnya, bisa mengalami kekambuhan, seperti asma,” ungkapnya.

    Ia menjelaskan, gejala akibat paparan abu vulkanik dapat berbeda tergantung bagian tubuh yang terkena. Paparan pada mata dapat menimbulkan rasa perih dan gatal. Sementara paparan pada hidung dan tenggorokan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, batuk, hingga sakit tenggorokan.

    Jika partikel masuk lebih jauh ke saluran pernapasan dan mencapai paru-paru, masyarakat dapat mengalami batuk yang lebih berat hingga sesak napas. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar abu vulkanik.

    “Kalau sudah ada sesak napas, itu menjadi salah satu tanda bahwa kita perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan,” katanya.

    Selain menggunakan masker, masyarakat disarankan segera membersihkan diri setelah kembali ke rumah. Cuci tangan dan wajah, serta menjaga kebersihan tubuh untuk mengurangi paparan partikel yang menempel.

    “Intinya, kurangi pajanan, kurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama bagi kelompok rentan. Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta pantau informasi resmi dari pemerintah,” pungkasnya. (Tyo)

    Komentar
    Additional JS