Dikabarkan Alami Kesulitan Keuangan, AirAsia Bantah Butuh Dana Talangan Pemerintah - Kompas
KOMPAS.com - Kabar yang menyebut AirAsia membutuhkan dana talangan dari pemerintah Malaysia dibantah langsung oleh pendirinya, Tony Fernandes. Ia menyebut laporan tersebut tidak berdasar dan menyesatkan.
Bantahan itu disampaikan Fernandes dalam konferensi pers di Bangkok, Jumat (18/9/2026), menanggapi pemberitaan kantor berita Reuters yang terbit pekan ini.
Sebelumnya, Reuters pada Rabu (16/9/2026) mengutip dua sumber anonim yang menyebut pemerintah Malaysia telah menghubungi dua maskapai pesaing, Malaysia Airlines dan Batik Air, untuk menanyakan kesiapan mereka menyerap pangsa pasar domestik AirAsia jika terjadi skenario terburuk.
Laporan itu menyebut diskusi tersebut menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi keuangan AirAsia, maskapai berbiaya rendah terbesar di Asia Tenggara.
Pemerintah Akan Buka Rekening untuk 200 Juta WNI, Saldo Awal Rp 50.000
Menanggapi hal itu, Fernandes bereaksi keras.
"Ini adalah pernyataan paling menggelikan yang pernah saya lihat dalam 25 tahun terakhir," ujar Fernandes seperti dikutip media Malaysia.
Ia menilai laporan Reuters tidak bertanggung jawab dan mengandung banyak ketidakakuratan.
"Tidak ada, tidak ada, kami tidak mendapatkan (apa pun) dari pemerintah. Saya tidak tahu dari mana cerita ini berasal," kata Fernandes.
"Sumber terpercaya saya mengatakan percakapan seperti itu tidak pernah terjadi. Hentikan saja (cerita) itu. Kami tidak membutuhkan penyelamatan atau dana talangan sama sekali," tegasnya.
Baca juga: Korea Selatan Tolak Kirim Militer ke Perang AS-Iran meski Didesak Trump
Soroti kerugian dan biaya avtur
Dalam laporannya, Reuters mencatat AirAsia membukukan kerugian bersih sebesar RM 831 juta (Rp 3,6 triliun) pada kuartal II yang berakhir 30 Juni 2026.
Kerugian itu, menurut laporan tersebut, dipicu oleh lonjakan biaya bahan bakar jet atau avtur yang naik 66 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, menjadi rata-rata 183 dollar AS per barel. Kenaikan itu dikaitkan dengan perang AS-Israel di Iran.
Reuters juga menyebutkan AirAsia telah melakukan restrukturisasi agresif, mulai dari memangkas rute yang tidak menguntungkan, mengembalikan 25 pesawat tua kepada lessor, hingga menegosiasikan ulang kontrak dengan vendor untuk menekan biaya.
Namun bagi Fernandes, tantangan saat ini masih jauh lebih ringan dibandingkan masa pandemi Covid-19. Ia menilai permintaan perjalanan udara yang masih tinggi menjadi penopang utama bisnis.
Menurutnya, kuartal II 2026 memang menjadi periode tersulit bagi AirAsia tahun ini. Kondisi diprediksi akan membaik seiring penyesuaian tarif untuk mengimbangi kenaikan harga avtur.
Baca juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok 20 September 2026
AirAsia klaim ambil pendekatan disiplin
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (18/9/2026), AirAsia menegaskan fundamental bisnisnya tetap kuat.
Manajemen menyebut model bisnis berbiaya rendah yang tangguh, dikombinasikan dengan optimalisasi tarif dan pertumbuhan pendapatan tambahan, membuat perusahaan mampu menyerap tekanan industri sambil tetap fokus pada pertumbuhan jangka panjang.
"Kami telah melewati banyak krisis sebelumnya dalam perjalanan 25 tahun kami, dan Covid-19 adalah yang paling menantang. Yang berbeda hari ini adalah orang-orang masih bisa terbang dan perjalanan tetap berlanjut," ujar salah satu petinggi AirAsia, Lingam.
Lingam menyebut perusahaan mengambil pendekatan disiplin dalam mengelola bisnis. AirAsia mengeklaim berhasil memulihkan sekitar 70 persen kenaikan harga bahan bakar melalui penerapan tarif dinamis dan efisiensi biaya operasional non-bahan bakar.
Pada kuartal III tahun ini, kapasitas penumpang sengaja dikurangi 20 hingga 25 persen, mengingat periode tersebut merupakan musim perjalanan yang lebih lemah di kawasan.
AirAsia kini bersiap meningkatkan kembali kapasitas mendekati level sebelum perang pada kuartal IV 2026, sejalan dengan masuknya musim puncak perjalanan akhir tahun.
"Kami mengelola tantangan yang dihadapi seluruh industri dari posisi yang kuat, menjalankan rencana yang jelas dan strategis untuk pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan," tulis pernyataan resmi AirAsia.
"Kami merasa optimis dengan prospek puncak kuartal keempat dan tetap yakin dengan potensi jangka panjang AirAsia. Fokus kami adalah pada fundamental bisnis kami dan kami tidak akan terganggu oleh spekulasi yang tidak berdasar dari sumber anonim," pungkasnya.
Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan 1448 H Tanggal 8 Februari 2027, Idul Fitri 9 Maret
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.