Dokter: Kualitas Udara Buruk Dapat Tingkatkan Risiko Kanker Paru - Nusa Bali

MASYARAKAT diingatkan perlu mengurangi paparan polusi, karena kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan paru, termasuk kanker paru.
“Kanker paru hampir 85 persen penyebabnya karena merokok, dan 15 persen penyebabnya bisa karena non-smoker. Jadi kalau kita perokok pasif, itu kemungkinan kanker parunya meningkat 20 sampai 30 persen,” kata Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi dr. Linda Masniari, SpP(K) dalam MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9).
Linda mengatakan rokok tetap menjadi faktor risiko utama kanker paru. Namun, orang yang tidak merokok juga dapat memiliki risiko akibat paparan lingkungan dan faktor lainnya.
Faktor lingkungan tersebut, kata dia, meliputi paparan asap kendaraan bermotor, asap dari pembakaran kayu bakar untuk memasak, serta kondisi lingkungan tempat tinggal.
“Lingkungan seperti tinggal dekat pembuangan sampah juga ada faktor risiko,” ujarnya.
Risiko kanker paru juga dapat meningkat pada orang yang bekerja di lingkungan dengan paparan tertentu. Linda menyebut pekerja pertambangan, galangan kapal, dan pabrik semen sebagai kelompok yang perlu memperhatikan risiko dari lingkungan kerja.
Selain faktor lingkungan, riwayat keluarga juga perlu diperhatikan. Menurut Linda, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker paru dapat memiliki risiko lebih tinggi karena faktor genetik.
Linda mengatakan masyarakat perlu mengenali faktor risiko yang dimiliki dan mengurangi paparan polusi dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi udara yang sehat itu penting sekali,” katanya.
Dia menyarankan masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan kualitas udara buruk untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna mengurangi paparan polusi.
“Kalau udara di lingkungan kita tidak bagus, kita lebih baik kurangi aktivitas outdoor,” ujarnya.
Linda juga mengingatkan pentingnya menghindari paparan asap rokok. Dia menganjurkan anggota keluarga yang merokok untuk berhenti karena hubungan antara paparan rokok dan kejadian kanker paru sangat kuat.
Dikatakannya, kanker paru di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 50 tahun. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan faktor risiko serta melakukan pemeriksaan sesuai kondisi dan tingkat risikonya.
Kanker paru pada stadium awal sering tidak menimbulkan gejala sehingga pasien tidak menyadari keberadaan penyakit tersebut.
Linda menjelaskan kanker paru stadium 1 dan 2 umumnya belum menunjukkan gejala yang khas. Ketika gejala muncul, keluhannya dapat berupa batuk, sesak napas, batuk darah, atau nyeri dada.
Menurut dia, gejala tersebut juga dapat ditemukan pada penyakit paru lainnya sehingga masyarakat dapat kesulitan membedakannya. Di Indonesia, gejala kanker paru bahkan kerap menyerupai tuberkulosis (TB) paru.
“Di Indonesia, gejalanya sering kali mirip dengan penyakit TB paru. Jadi kadang suka ‘saru’, apakah ini TB atau kanker?” ujarnya. *ant