Dorong Pelestarian Tradisi Minum Jamu, Perusahaan Jamu ini Gelar Pelatihan bagi Pelaku Angkringan - Tribunnews
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNNEWS.COM, SOLO - Angkringan telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat, khususnya sebagai tempat bersantai, berbincang, sekaligus menikmati berbagai minuman tradisional. Teh hangat, kopi, hingga wedang jahe menjadi menu yang umum ditemukan di warung sederhana yang kerap beroperasi hingga malam hari ini.
Di tengah kebiasaan tersebut, angkringan juga memiliki peluang untuk menghadirkan pilihan minuman yang lebih beragam, termasuk jamu. Selain menambah variasi menu, kehadiran jamu di angkringan dapat menjadi salah satu cara untuk mendekatkan kembali minuman herbal khas Indonesia kepada masyarakat.
Hal inilah yang kemudian didorong PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) melalui Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul, sebuah program yang mengajak pelaku usaha angkringan untuk menghadirkan jamu sebagai salah satu pilihan minuman sekaligus turut melestarikan budaya minum jamu di Indonesia.
Sebagai permulaan, Sido Muncul menggelar pelatihan bagi 100 pelaku usaha angkringan di Yogyakarta pada 2025 lalu, lalu dilanjutkan kembali bagi pelaku usaha angkringan di Surakarta dan sekitarnya dengan jumlah sama, yang digelar di Novotel Solo, Kamis (3/9/2026). Program ini merupakan salah satu rangkaian menyambut peringatan 75 tahun Sido Muncul.

Bekali Pelaku Angkringan dengan Pengetahuan dan Inovasi
Dalam pelatihan ini, Sido Muncul tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan mengenai manfaat jamu, namun juga memberi pelatihan tentang cara meracik jamu, menjaga standar kebersihan dan sanitasi, hingga mengembangkan variasi penyajian agar lebih menarik bagi konsumen.
Baca juga: Disorot Akademisi China, Perusahaan Jamu ini Disebut Layak Jadi Rujukan Global
Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani Hidayat mengatakan, Surakarta menjadi kota kedua yang dipilih setelah Yogyakarta karena memiliki budaya angkringan yang kuat dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Surakarta dan Yogyakarta sama-sama memiliki budaya angkringan yang sangat kuat. Kami ingin berbagi pengetahuan mengenai jamu, mulai dari manfaatnya, cara meracik, menjaga kebersihan, hingga bagaimana mempromosikannya melalui media sosial,” kata Maria.
Maria menuturkan, banyak angkringan yang sebenarnya telah menjual minuman tradisional seperti wedang jahe. Karenanya, kehadiran jamu diharapkan dapat melengkapi pilihan menu sekaligus membuat masyarakat semakin akrab dengan minuman herbal khas Indonesia.
“Tak hanya menyajikan jamu dalam bentuk seduhan, peserta juga dikenalkan dengan berbagai kreasi menu berbahan dasar produk Sido Muncul. Inovasi tersebut diharapkan membuat jamu terasa lebih dekat dengan selera masyarakat masa kini tanpa meninggalkan manfaat maupun nilai budayanya,” kata Maria.

Gandeng Pedagang Angkringan untuk Pelestarian Jamu
Unit Pelayanan Fungsional Pelayanan Kesehatan Tradisional RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu Yogyakarta, Saryanto, S.Farm., Apt berpendapat bahwa kehadiran jamu di angkringan menjadi cara jitu untuk mengenalkan kembali budaya minum jamu kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Menurutnya, angkringan mampu menjadi jembatan penyambung berkembangnya tempat berkumpul yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas lokal, selama kualitas produk dan kebersihan tetap dijaga.
“Jamu adalah warisan budaya yang perlu terus dilestarikan. Sekarang inovasinya juga semakin banyak, mulai dari pilihan rasa hingga penyajiannya yang praktis sehingga lebih mudah diterima masyarakat,” kata dia.
Salah satu peserta pelatihan, Haryani Yuliana (46), pedagang angkringan di kawasan Alun-alun Utara Solo, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari pelatihan tersebut yang dapat diterapkan di tempat usahanya.
“Angkringan kami jadi terasa naik level. Selain menambah menu, kami juga ikut memperkenalkan kekayaan rempah-rempah Indonesia kepada masyarakat. Semoga semakin banyak orang tertarik minum jamu,” pungkasnya.
Sementara itu, Wempy, pedagang angkringan di depan BTC, mengaku berterima kasih atas perhatian Sido Muncul kepada para pedagang angkringan seperti dirinya.
Menurut Wempy, pelatihan yang diberikan Sido Muncul, mulai dari cara meracik hingga menyajikan jamu dengan benar, memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan di tempat usahanya.
Tak hanya itu, pelatihan mengenai cara mempromosikan jamu juga dinilai dapat membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan para pedagang angkringan.
“Yang pasti kami mengucapkan terima kasih kepada Sido Muncul dan kita mengapresiasi. Kita kan selama ini hanya menjual wedangan biasa saja. Otomatis dengan adanya jamu ini, yang pasti menambah perbendaharaan kita dan income kita,” kata Wempy.
Ia menambahkan, pelatihan tersebut memberikan banyak ilmu yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun pedagang angkringan lainnya.
Salah satu pengetahuan yang dinilai paling berharga adalah cara meracik dan menyajikan jamu yang tepat sehingga dapat memberikan pengalaman yang lebih baik bagi konsumen.
“Yang pasti kita dapat ilmu bagaimana cara meracik jamu yang benar dan pasti kita dengan konsumen itu mendapatkan kepuasan tersendiri,” ujarnya.
Kolaborasi ini menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan budaya minum jamu di tengah perkembangan gaya hidup masyarakat. Dengan kehadiran jamu di tempat ini, angkringan pun dapat menjadi ruang yang mempertemukan budaya lokal, memperluas peluang pengembangan usaha kecil, serta menghadirkan pilihan gaya hidup sehat dalam satu tempat.
Baca juga: Inovasi di Dunia Herbal, Perusahaan Jamu ini Luncurkan Platform Berbasis AI untuk Edukasi Kesehatan