GRIB Jaya Merasa Jadi Korban Framing, Punya Alasan Kuat Turun ke Jalan Saat Ricuh Demo 27 Agustus - AFU

Penulis: Fandi PermanaReporter: Fandi Permana
JAKARTA, AFU.ID - Kuasa hukum DPP Grib Jaya, Wilson Colling, menegaskan bahwa ormas GRIB bukan aktor intelektual dalam kerusuhan Demo 27 Agustus 2026. Wilson menegaskan, turunnya massa GRIB Jaya di kawasan Slipi, Jakarta Barat, murni untuk menghalau massa anarkis yang berasal dari Pejompongan, Jakarta Pusat.
Menurut Wilson, Hercules dan anggota GRIB Jaya tidak sampai ke wilayah Pejompongan karena tertahan di wilayah Slipi dan sekitar Polres Jakarta Barat lama di Jalan S Parman. "Ketua Umum dan massa tidak bisa tembus sampai ke Pejompongan karena areanya tertahan di Slipi dan Polres Jakarta Barat yang lama (di Jalan S Parman). Oleh karenanya, mengaitkan kematian itu dengan GRIB sangat salah dan tidak sesuai dengan fakta sebenarnya," ucap Wilson saat ditemui AFU.id, Selasa (1/9/2026).
Selain kasus kematian Bambang Setiawan, Wilson juga membantah dugaan bahwa anggota GRIB Jaya melakukan pemukulan terhadap seorang pelajar bernama Faturrohman (18) di Pejompongan. Ia mengatakan, anggota GRIB Jaya memiliki ciri tertentu yang dapat dibedakan dengan kelompok lain.
"Kalau kita lihat, orang-orang kita (GRIB) itu sudah ada tandanya. Semua orang tahu dari video, ada ikat kepala putih. Sekarang, yang memukul dan menyeret itu pakai ikat kepala putih atau tidak? Kan jauh berbeda," kata Wilson.
Baca Juga
GRIB menyatakan bahwa tugas menjaga ketertiban bukan hanya tugas TNI dan Polri. Wilson menjabarkan bahwa apa yang dilakukan GRIB Jaya bersama Hercules merupakan pengejawantahan Pasal 27 Ayat 3 UUD 1945. "Dalam Pasal 27 Ayat 3 UUD 1945, jelas bahwa bela negara bukan hanya tugas TNI atau Polri, tetapi bentuk tanggung jawab sekaligus hak bagi setiap warga negara Indonesia. GRIB dalam hal ini melaksanakan undang-undang itu," papar Wilson.
Wilson juga meminta masyarakat membedakan antara massa yang menyampaikan aspirasi secara konstitusional dengan pihak yang melakukan tindakan anarkis. Hal itu tampak dari sikap dan gelagat massa yang sejak awal ingin merusuh dan mengganggu ketertiban masyarakat. "Makanya saya bilang, harus dipisahkan antara orang yang berbuat anarkis dengan orang yang murni demo menyampaikan aspirasi secara konstitusi," sambung dia.
Wilson menegaskan, aksi Hercules di Slipi disebut sebagai upaya menjaga keamanan wilayah Jakarta Barat dan bukan untuk menghalangi penyampaian aspirasi masyarakat. Ia juga mengatakan, pihaknya tengah mengumpulkan bukti untuk membantah isu yang menyebut anggota GRIB Jaya terlibat dalam aksi kekerasan terhadap massa aksi. "Sekarang kita sedang mengumpulkan bukti-bukti, karena isu-isu yang beredar di luar saat ini hanya sekadar framing. Jadi, kita kumpulkan bukti," ujar Wilson. (FAP)