Hasil Lab Keracunan MBG Selalu Positif Bakteri, Emil Dardak Tawarkan 2 Solusi - Kompas


SURABAYA, KOMPAS.com - Kepala Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Jawa Timur sekaligus Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memberikan solusi agar kasus keracunan MBG tidak hanya berhenti di hasil laboratorium.
Sebelumnya, hasil uji laboratorium sampel makanan pada kasus keracunan MBG yang menimpa ratusan santri-santriwati Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo telah keluar dan salah satu sampel positif terkontaminasi bakteri.
Emil Dardak mengatakan, tidak hanya di Sidoarjo, kasus keracunan MBG di daerah pun hasilnya selalu menunjukkan adanya bakteri dalam makanan tersebut.
“Sama aja, ada bakteri keracunan, ada bakteri keracunan, ada bakteri keracunan. Kan sudah saya tebak, hasilnya sudah keluar di situ, terus apa?” kata Emil kepada Kompas.com di Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, harus ada solusi konkret pada kasus MBG agar tidak selalu berhenti di hasil uji lab. Harus ada tata kelola yang dibenahi, baik sistem maupun standar operasional prosedur (SOP).
“Dari dulu sama aja kan, enggak menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah itu harus dibenahi,” sambungnya.
Emil tawarkan dua solusi
Pertama, satu SPPG dipimpin oleh dua orang, kepala SPPG dan pemilik atau mitra. Menurut Emil, apabila mitra yang harus bertanggung jawab, maka kepala SPPG harus mitra, bukan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Karena ternyata BGN memang sistemnya tidak komando. Karena BGN ini bekerja sama dengan mitra. Nah yang kayak gini-gini harus diperjelas,” ungkapnya.
Kedua, proses pengolahan bahan baku menjadi MBG harus dilakukan dua kali apabila dilakukan pengiriman dua kali. Sistem tersebut untuk menghindari adanya makanan basi.
“Jangan ngirim SMA siang, tapi masaknya dirapel pagi. Akhirnya labelnya enggak sesuai jamnya. Itu solusinya, bukan sekadar nyari ada bakteri, perbaikannya enggak clear,” jelasnya.
Emil mengaku telah mengkoordinasikan hal tersebut kepada BGN.
Saat ini, pihaknya merekapitulasi seluruh isu dan akan melakukan pembenahan.
“Mereka betul-betul ingin berbenah. Kami di Pemda tentu meskipun bukan pelaksana, harus memberikan dukungan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.