Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Lintas Peristiwa Spesial

    Heli WB dan Chinook Jepang Batal Operasi Akibat Jarak Pandang Rendah - berkatnewstv tv

    3 min read

     

    Beranda BREAKING NEWS Heli WB dan Chinook Jepang Batal Operasi Akibat Jarak Pandang Rendah


    Heli WB dan Chinook Jepang Batal Operasi Akibat Jarak Pandang Rendah
    Helikopter CH-47 Chinook milik Jepang dikabarkan batal terbang untuk penanganan karhutla di Kalbar disebabkan kabut asap yang semakin pekat sehingga mengakibatkan jarak pandang (visibility) yang rendah. Foto: berkatnewstv

    Pontianak, BerkatnewsTV. Helikopter CH-47 Chinook milik Jepang dikabarkan batal terbang untuk penanganan karhutla di Kalbar disebabkan kabut asap yang semakin pekat sehingga mengakibatkan jarak pandang (visibility) yang rendah.

    Kondisi ini juga dialami helikopter water boombing yang sudah lima hari tidak dapat menjalankan tugasnya lantaran kabut asap di Kawasan bandara Supadio.

    “Satgas Udara malam tadi memang direncanakan melakukan operasi, tetapi karena visibility sangat rendah sehingga operasi Udara tidak dapat dilakukan. Karena syarat untuk melakukan operasi Udara itu Jarak pandangnya minimal 2.000, normalnya 3.000 sampai 5.000. Jadi pembatalan operasi Udara itu dikarenakan visibility rendah,” jelas Kepala Satgas Informasi BPBD Kalbar, Daniel, Minggu (14/9/2026).

    Baca Juga:

    Memang ia sebutkan helikopter milik TNI dan BNPB tidak dapat maksimal melakukan operasi Udara selama lima hari lantaran kabut asap yang pekat.

    “Jadi operasi Water Boombing (WB) sudah lima hari tidak bisa dilakukan maksimal selama kabut asap yang pekat. Jika sudah visibility normal maka baru bisa dilakukan Kembali WB. Kabut asap pekat ini tidak hanya persoalan di Kalbar namun karena juga kiriman dari provinsi lain di Kalimantan yang ikut terbakar. Kalau kita lihat arah angin ke utara, maka termasuk lah Pontianak menjadi imbas sehingga asapnya sangat pekat,” ucapnya.

    Namun, ditambahkan Daniel Satgas Udara tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi visibility agar dapat kembali melakukan operasi Udara.

    “Visibility ini tidak bisa diramal seperti hujan atau kemarau karena berhubungan dengan gerakan angin. Namn, tetap kita monitor jika sudah normal maka baru bisa lakukan operasi Udara,” pungkasnya.(rob)

    Berita Terkait

    Komentar
    Additional JS