Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Jawa Tengah Spesial

    Kemiskinan Jateng Turun, Ahmad Luthfi Dorong Penanganan Berbasis Pemberdayaan - Times Indonesia

    3 min read

     

    A-AA+

    SOLO – Penanganan kemiskinan di Jawa Tengah diarahkan tidak hanya melalui bantuan sosial, tetapi juga pemberdayaan berkelanjutan. Pendekatan kolaboratif yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dan Badan Pusat Statistik (BPS).

    Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai langkah pengentasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem yang dilakukan Gubernur Jateng tergolong progresif.

    “Langkah-langkah para bupati, wali kota, dan juga Pak Gubernur tadi sangat progresif, agresif, inovatif, bahkan kreatif dalam menangani semua masalah kemiskinan, khususnya kemiskinan ekstrem,” kata Muhaimin dalam Rapat Koordinasi Daerah Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Graha Wisata Niaga, Kota Surakarta, Jumat (4/9/2026).

    Menurut Muhaimin, kepemimpinan kepala daerah menjadi salah satu penentu keberhasilan kebijakan pengentasan kemiskinan. Gubernur memiliki peran strategis sebagai koordinator di tingkat provinsi untuk menyelaraskan program daerah dengan kebijakan nasional, memastikan pemutakhiran data, serta mengoordinasikan bupati dan wali kota.

    Pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem dapat ditekan hingga nol persen pada 2026 dan angka kemiskinan turun menjadi lima persen pada 2029. Muhaimin memastikan berbagai inovasi daerah akan didorong melalui program pemerintah pusat dan koordinasi lintas sektor.

    “Semua program para bupati dan wali kota tadi akan saya dorong dan bantu melalui koordinasi lintas sektor, sesuai dengan prioritas masing-masing bupati dan wali kota,” ujarnya.

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti turut menilai penurunan kemiskinan Jawa Tengah berlangsung konsisten. Tingkat kemiskinan yang masih berada di angka 11,8 persen pada 2021 berhasil ditekan menjadi 9,21 persen dalam kurun lima tahun.

    “Kalau kita lihat kemiskinan di Jawa Tengah, dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan,” kata Amalia.

    Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menjelaskan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah tidak dicapai secara instan. Pemprov menerapkan pendekatan collaborative government atau pemerintahan kolaboratif dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten dan kota, BUMN, BLUD, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat.

    Pendekatan tersebut turut mendorong penurunan tingkat kemiskinan Jawa Tengah menjadi 9,21 persen pada Maret 2026. Angka tersebut turun 0,18 poin dibandingkan September 2025 dan membuat sekitar 59,39 ribu penduduk keluar dari kategori miskin.

    Untuk mempercepat penurunan tersebut, Luthfi mengarahkan intervensi secara menyeluruh terhadap setiap keluarga miskin. Perbaikan rumah diikuti dengan pemeriksaan kondisi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, serta kebutuhan perlindungan sosial seluruh anggota keluarga.

    “Jadi, masyarakat miskin ekstrem tidak hanya dibantu rumahnya saja. Sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaannya kita tangani bersama-sama,” kata Luthfi.

    Melalui kolaborasi berbagai sumber pembiayaan, sekitar 270 ribu rumah tidak layak huni telah ditangani sepanjang 2025.

    Dari sekitar 1,2 juta keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan, sebanyak 46.542 keluarga juga telah mengikuti graduasi atau keluar dari jerat kemiskinan.

    Penguatan kemandirian masyarakat turut ditopang penciptaan lapangan kerja. Realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar Rp110 triliun dan menyerap 257 ribu tenaga kerja.

    Pemprov Jateng selanjutnya memperkuat intervensi berdasarkan karakteristik wilayah, terutama di perdesaan. Daerah pesisir, kawasan pertanian dan lahan kering, serta wilayah perbukitan mendapatkan penanganan berbeda agar program semakin tepat sasaran.

    “Kebijakan kita (harus) bergeser, tidak hanya bantuan sosial, tapi harus kepada pemberdayaan yang berkelanjutan. Di antaranya adalah bagaimana masyarakat kita mempunyai daya saing terkait dengan potensi wilayah masing-masing,” kata Luthfi.

    Pada 2026, Pemprov Jawa Tengah mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,65 triliun untuk penanganan kemiskinan. (*)

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS