Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gunung Anak Krakatau Gunung Meletus Lintas Peristiwa Spesial Tsunami

    Perbedaan Tsunami Akibat Anak Krakatau dengan Gempa Bumi - SindoNews

    10 min read

     


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Senin, 07 September 2026 - 15:30 WIB

    Perbedaan Tsunami Akibat...

    Perbedaan Tsunami Akibat Anak Krakatau. Foto/ BBC

    A A A

    JAKARTA - Tsunami akibat longsoran gunung api memiliki karakter berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa tektonik.

    Pada tsunami akibat gempa, sistem peringatan dapat memanfaatkan data gempa untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya tsunami.

    Namun, pada tsunami akibat longsoran tubuh gunung api, gelombang dapat terbentuk sangat dekat dengan sumbernya.

    BMKG mencatat tsunami Selat Sunda pada 2018 sebagai salah satu contoh tsunami nontektonik.

    Saat itu, longsoran lereng Gunung Anak Krakatau ke laut yang dipicu aktivitas erupsi menghasilkan gelombang tsunami tanpa didahului gempa bumi tektonik yang signifikan.

    Karena itu, tanda-tanda alam di wilayah pesisir menjadi sangat penting untuk diperhatikan.

    Masyarakat yang berada di pantai perlu segera menjauh menuju tempat yang lebih tinggi apabila melihat air laut tiba-tiba surut atau naik secara tidak wajar, mendengar suara gemuruh dari arah laut, atau melihat gelombang besar datang.

    Selain potensi bahaya di laut, erupsi Anak Krakatau saat ini juga berdampak terhadap atmosfer dan aktivitas penerbangan.

    BMKG berdasarkan analisis citra satelit pada Minggu (6/9/2026) pukul 08.00 WIB mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik.

    Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan perairan sekitarnya.

    Sementara abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, bagian selatan Selat Sunda hingga Samudra Hindia.

    Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta bahkan telah menerbitkan 50 Significant Meteorological Information atau SIGMET sejak erupsi awal pada 4 September 2026.

    Sebaran abu tersebut berdampak langsung terhadap penerbangan. Sejumlah bandara ditutup sementara, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto.

    Dampak paling besar terjadi di Bandara Soekarno-Hatta. Sebanyak 209 penerbangan terdampak akibat penutupan sementara bandara, dengan sekitar 22.800 penumpang terkena dampaknya.

    Kementerian Perhubungan memperpanjang penghentian sementara operasional Bandara Soekarno-Hatta hingga pukul 09.30 WIB karena sebaran abu vulkanik masih menjadi pertimbangan keselamatan penerbangan.

    BMKG menegaskan keputusan terkait operasional penerbangan dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan sebaran abu vulkanik.

    (wbs)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

    Rekomendasi

    Infografis

    10 Negara Paling Sering...

    10 Negara Paling Sering Diguncang Gempa Bumi, Indonesia Nomor 2

    Terpopuler

    1

    2

    3

    4

    5

    Berita Terkini

    Ilmuwan Prediksi Letusan...

    Gunakan VIDA Sign, Kyrim...

    AI Melesat Cepat, Satu...

    Naik ke Layar Lebar,...

    Anthropic Memohon untuk...

    Polimer Jadikan Televisi...

    Komentar
    Additional JS