Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kasus Spesial Sungai Jagir

    Ribuan Ikan Mati Massal di Sungai Jagir Surabaya, Ecoton Temukan Kadar Fosfat Melonjak 6 Kali Lipat - Ngopi Bareng

    15 min read

     



    Home  ngopiDAERAH  Surabaya

    Surabaya

    Ecoton menerjunkan personel untuk melakukan pemantauan serta pengujian kualitas air langsung di sekitar lokasi kejadian pada Senin, 7 September 2026. (Foto: Ecoton)
    Ecoton menerjunkan personel untuk melakukan pemantauan serta pengujian kualitas air langsung di sekitar lokasi kejadian pada Senin, 7 September 2026. (Foto: Ecoton)

    Fenomena kematian ikan secara massal melanda aliran Sungai Jagir, Wonokromo, Surabaya. Menindaklanjuti temuan tersebut, tim yayasan Ecoton menerjunkan empat personel untuk melakukan pemantauan serta pengujian kualitas air langsung di sekitar lokasi kejadian pada Senin, 7 September 2026.

    Dari hasil pemantauan di lapangan, petugas masih menemukan sejumlah bangkai ikan serta indikasi ikan "munggut" atau mabuk yang berenang tidak normal di permukaan air.

    “Beberapa jenis ikan yang ditemukan mati antara lain bader bang, bader putih, hampala, dan keting,” ujar Jofanny Ahmad Arianto, Koordinator Ronda Sungai Ecoton 2026.

    Baca Juga

    Kronologi dan Dugaan Asal Pencemaran Sungai Jagir

    Sebelum insiden kematian ikan terjadi, warga sempat dihebohkan dengan fenomena sungai berbusa di sekitar Bendungan Rolak Gunungsari. Berdasarkan konfirmasi dari Perum Jasa Tirta (PJT), busa tersebut disinyalir berasal dari sisa proses pemadaman kebakaran di pabrik PT Wings, Driyorejo, Gresik, yang mengalir mengikuti arus hingga ke wilayah hilir.

    Ecoton menyoroti pola kejadian ini karena memiliki kemiripan dengan beberapa tragedi pencemaran kimia berantai:

    1. Sungai Jaletreng (Tangerang Selatan, Feb 2026): Ikan mati massal setelah air sungai tercemar limbah kimia akibat kebakaran gudang pestisida di Pergudangan Taman Tekno.

    2. Tragedi Sandoz (Basel, Swiss, 1986): Air bekas pemadaman kebakaran gudang kimia masuk ke Sungai Rhine, menewaskan ekosistem perairan hingga ke wilayah hilir.

    Uji Kualitas Air Ecoton: Fosfat Melampaui Baku Mutu Kelas II

    Tim Ecoton mengambil sampel dan menguji kualitas air di dua lokasi utama, yakni Pintu Air Jagir dan depan Stikosa AWS. Hasil tes mengonfirmasi adanya parameter yang melanggar baku mutu Kelas II berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VI.

    Alaika Rahmatullah, Koordinator Tim Investigasi Ikan Mati Ecoton, menjelaskan bahwa parameter Fosfat dan Dissolved Oxygen (DO) berada di kondisi kritis.

    “Konsentrasi fosfat tercatat sangat tinggi. Di Pintu Air Jagir mencapai 0,6 mg/L (3 kali lipat dari ambang 0,2 mg/L). Sementara di depan Stikosa AWS, konsentrasinya melonjak hingga 1,2 mg/L atau sekitar 6 kali lipat dari baku mutu,” papar Alaika.

    Ia menambahkan, fosfat yang tinggi mengindikasikan lonjakan beban nutrien berlebih (eutrofikasi) yang memicu pertumbuhan alga secara masif. Ditambah kondisi musim kemarau saat debit air sungai menyusut, konsentrasi limbah cair otomatis meningkat drastis hingga menguras kadar oksigen terlarut (DO).

    Meski begitu, Ecoton menegaskan bahwa uji awal ini belum menyimpulkan fosfat sebagai penyebab tunggal. Pemeriksaan laboratorium yang lebih komprehensif masih diperlukan.

    Hasil Pengujian Parameter Kualitas Air Sungai Jagir

    Parameter

    Pintu Air Jagir

    Depan Stikosa AWS

    Baku Mutu Kelas II (PP 22/2021)

    Total Dissolved Solid (TDS)

    284 mg/L

    319 mg/L

    $\le$ 1.000 mg/L

    Dissolved Oxygen (DO)

    2,4 mg/L (Drop)

    3,1 mg/L (Drop)

    $\ge$ 4 mg/L

    pH

    7,6

    7,7

    6 – 9

    Suhu

    30,3°C

    30,2°C

    Deviasi 3

    Fosfat

    0,6 mg/L (Tinggi)

    1,2 mg/L (Sangat Tinggi)

    0,2 mg/L

    Peringatan Bahaya: Jangan Tangkap atau Konsumsi Ikan Mabuk

    Menanggapi maraknya warga yang mencoba mengambil ikan terdampar, Jofanny mengimbau masyarakat untuk tidak menangkap, menjual, maupun mengonsumsi ikan yang mati atau mabuk dari Sungai Jagir.

    “Kami khawatir jika ada polutan atau racun kimia yang terserap ke dalam jaringan tubuh ikan. Jika dikonsumsi, senyawa beracun tersebut berpotensi berpindah ke tubuh manusia dan menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang,” tegas Jofan.

    Masyarakat diminta menunggu hasil analisis resmi dari pihak berwenang sebelum memanfaatkan hasil perikanan dari kawasan tersebut.

    Rekomendasi Ecoton: Pengawasan Real-Time hingga Restocking Populer Ikan

    Guna mencegah pencemaran berulang di aliran sungai Surabaya, Ecoton mendesak pemerintah dan instansi terkait untuk mengambil langkah strategis:

    1. Pemasangan Sensor & CCTV Real-Time: Memasang teknologi pemantau kualitas air berbasis sensor otomatis dan CCTV terintegrasi di setiap outlet pembuangan limbah industri. Sensor akan berbunyi otomatis saat ada parameter limbah yang melebihi baku mutu.

    2. Normalisasi Sungai Berbasis Ekologis: Melakukan pengerukan sedimentasi dasar sungai secara hati-hati agar tidak merusak habitat alami organisme perairan.

    3. Restocking Ikan Lokal: Menjalankan program breeding dan pelepasan kembali (restocking) benih ikan lokal terdampak, seperti bader bang, bader putih, hampala, dan keting.

    tercemar etilen glikol Tercemar Mikroplastik Kali Surabaya Ecoton

    0 Like

    Komentar
    Additional JS