Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Fenomena Fenomena Alam Hujan Meteor Meteor Spesial

    Sederet Fenomena Astronomi pada Oktober 2026, Ada 2 Puncak Hujan Meteor - Kompas

    7 min read



    KOMPAS.com - Beragam fenomena astronomi menarik diprediksi akan menghiasi langit malam sepanjang bulan Oktober 2026.

    Peristiwa langit yang dimaksud termasuk dua puncak hujan meteor. Fenomena tersebut mungkin bisa dilihat secara langsung tanpa bantuan alat pengamatan.

    Adapun hujan meteor itu terjadi ketika Bumi melewati area luar angkasa yang dipenuhi puing atau debu antariksa dalam jalurnya mengelilingi Matahari.

    Baca juga: Harvest Moon Muncul Malam Ini, BMKG Ungkap Waktu Terbaik Pengamatan

    Puing tersebut berasal dari komet atau asteroid yang bergerak. Kemudian, debu-debu antariksa itu memasuki atmosfer Bumi hingga terbakar dan tampak seperti “bintang jatuh”.

    BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok 14 September 2026, Ini Wilayahnya!

    Karena jumlah puing atau debu luar angkasa yang memasuki atmosfer Bumi banyak, maka terlihat “hujan meteor” dari arah yang sama.

    Selain hujan meteor, ada beberapa fenomena astronomi lain, yang juga terjadi akibat dinamika pergerakan Bumi serta benda-benda langit lainnya.

    Karena beberapa di antaranya merupakan momen langka yang hanya berlangsung satu kali dalam setahun, sayang jika peristiwa astronomi Oktober 2026 dilewatkan begitu saja.

    Lantas, apa saja fenomena astronomi pada Oktober 2026 tersebut?

    Baca juga: Viral Meteor Hijau Melintas di Langit Yogyakarta, Ini Penjelasan pakar

    Fenomena astronomi Oktober 2026

    Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ini sederet fenomena astronomis utama yang bakal terjadi sepanjang Oktober 2026:

    1. Saturnus pada titik oposisi (4 Oktober)

    Saturnus akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi, dengan permukaannya akan sepenuhnya diterangi oleh Matahari.

    Planet bercincin tersebut akan tampak lebih terang dibandingkan pada waktu lain sepanjang tahun dan dapat diamati sepanjang malam.

    Dikutip dari SeaSky, fase ini adalah waktu terbaik untuk mengamati dan memotret Saturnus beserta satelit-satelitnya.

    Dengan teleskop berukuran sedang atau lebih besar, pengamat dapat melihat cincin Saturnus dan beberapa satelitnya yang paling terang.

    Baca juga: Mengenal Perbedaan Meteor, Asteroid, dan Komet

    2. Puncak hujan meteor Draconid (7 Oktober)

    Draconid adalah hujan meteor yang menghasilkan sekitar 10 meteor per jam. Hujan meteor ini terbentuk dari debu astronomi yang ditinggalkan oleh komet 21P Giacobini-Zinner.

    Hujan meteor ini terjadi pada 6-10 Oktober dengan fase puncaknya diperkirakan terjadi pada tanggal 7 Oktober malam.

    Adapun Draconid merupakan hujan meteor yang tidak biasa karena waktu pengamatan terbaiknya adalah pada sore hari, bukan dini hari seperti kebanyakan hujan meteor lainnya.

    Nantinya, meteor-meteor akan tampak berasal dari rasi bintang Draco, tetapi bisa muncul di mana saja di langit.

    Baca juga: Apa Beda Meteor, Meteoroid, dan Meteorit? Berikut Penjelasannya

    3. Bulan Baru (10 Oktober)

    Bulan akan berada di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak akan terlihat di langit malam.

    Fase itu terjadi pada pukul 15.50 UTC, menjadi waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati objek-objek yang redup seperti galaksi dan gugus bintang karena tidak ada cahaya Bulan yang mengganggu.

    4. Merkurius pada elongasi timur terjauh (12 Oktober)

    Planet Merkurius mencapai elongasi timur terjauh sebesar 19,6 derajat dari Matahari pada 12 Oktober 2026 mendatang.

    Fase ini adalah waktu terbaik untuk mengamati Merkurius karena planet tersebut akan berada pada titik tertinggi di atas cakrawala di langit senja.

    Baca juga: Ternyata Inti Bumi Hampir Sepanas Matahari, Ini Penjelasan Ilmuwannya

    5. Puncak hujan meteor Orionid (21-22 Oktober)

    Hujan meteor Orionid adalah hujan meteor dengan intensitas sedang yang menghasilkan hingga 20 meteor per jam pada puncaknya.

    Hujan meteor tersebut disebabkan oleh butiran debu yang ditinggalkan oleh komet Halley, yang telah dikenal dan diamati sejak zaman kuno.

    Orionid terjadi setiap tahun mulai tanggal 2 Oktober hingga 7 November. Puncaknya tahun ini terjadi pada malam tanggal 21 Oktober dan pagi hari tanggal 22 Oktober.

    Hujan meteor ini akan berakhir setelah tengah malam, sehingga langit akan tetap gelap dan berpotensi menghadirkan pertunjukan yang luar biasa di pagi buta.

    Waktu terbaik untuk mengamati fenomena astronomi ini adalah setelah tengah malam dari lokasi yang gelap.

    Baca juga: Tak Cuma Mencemari Tubuh, Mikroplastik di Atmosfer Ternyata Ikut Memanaskan Bumi

    6. Bulan purnama (26 Oktober)

    Bulan akan berada di sisi Bumi yang berlawanan dengan Matahari, dan permukaannya akan sepenuhnya diterangi.

    Fase Bulan purnama kali ini terjadi pada pukul tanggal 26 Oktober 2026 sekitar pukul 04.13 UTC.

    Bulan purnama ini dikenal oleh suku-suku asli Amerika pada masa lalu sebagai “Hunter’s Moon” (Bulan Pemburu).

    Sebab, periode tersebut terjadi ketika hewan buruan sudah gemuk serta siap untuk diburu.

    Baca juga: Berbagai Mitos dan Fakta soal Gempa Megathrust, Apakah Selalu Berkekuatan Besar?

    Bulan purnama pada 26 Oktober 2026 itu juga dikenal sebagai “Travel Moon” (Bulan Perjalanan) dan “Blood Moon” (Bulan Darah).

    Dilansir dari NationalGeographic, Kamis (24/9/2026), Bulan akan mencapai puncaknya tepat setelah tengah malam pada 26 Oktober (dini hari).

    Namun demikian, waktu terbaik untuk mengamatinya disarankan ketika Bulan terbit dan terbenam.

    Bulan tidak hanya tampak lebih besar dari biasanya, tetapi juga mungkin berpotensi memancarkan semburat oranye.

    Baca juga: Ramai soal Kemunculan “Rip Current” di Pantai Parangtritis dan Disebut Berbahaya, Apa Itu?

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS