Tragedi Ibu Hamil di RSUD Borong, Suami Ungkap Keluhan Tak Digubris hingga Kondisi Istri Kritis - Info Labuan Bajo

Tragedi Ibu Hamil di RSUD Borong, Suami Ungkap Keluhan Tak Digubris hingga Kondisi Istri Kritis
INFOLABUANBAJO.ID – Kisah pilu dialami keluarga Selviana Tijung, seorang ibu hamil asal Desa Satar Punda Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selviana meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong pada akhir Agustus 2026.
Sang suami, Petrus Forfier Insano, kemudian menyampaikan sejumlah keluhan terkait proses pelayanan medis yang diterima istrinya sebelum meninggal dunia.
Menurut Petrus, persoalan tersebut bermula ketika istrinya diminta melakukan pemeriksaan di Dampek setelah mendapatkan arahan dari bidan desa.

Berawal dari Pemeriksaan di Dampek
Petrus menuturkan, dirinya bersama istrinya pergi ke Dampek untuk menjalani pemeriksaan.
“Kalau bicara soal pelayanan, karena tujuan kami ke Dampek untuk periksa sesuai penjelasan Bidan Desa bahwa harus periksa di Dampek,” jelas Petrus.
Sesampainya di Dampek, Selviana kemudian diperiksa oleh tenaga medis.
Dalam pemeriksaan tersebut, menurut Petrus, pihak medis menyampaikan bahwa air ketuban di dalam kandungan istrinya sudah habis.
Kondisi tersebut kemudian membuat Selviana dirujuk ke RSUD Borong.
Petrus mengatakan, dirinya memahami bahwa rujukan tersebut bertujuan agar istrinya mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk tindakan operasi.
“Bahwa dalam rujukannya berbunyi istri saya rujuk ke Borong bukan untuk disuruh baring tapi ditangani untuk operasi,” kata Petrus.
Namun, menurut pengakuannya, setelah tiba di RSUD Borong, istrinya justru hanya menjalani perawatan tanpa segera mendapatkan tindakan operasi sebagaimana yang diharapkannya.
Suami Mengaku Dua Kali Keluhkan Kondisi Istri
Petrus mengaku telah dua kali menyampaikan keluhan kepada bidan yang menangani istrinya di RSUD Borong.
Ia mempertanyakan mengapa tindakan terhadap istrinya belum dilakukan.
Namun, menurut Petrus, keluhan tersebut tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkannya.
“Dua kali saya keluhkan ke bidan yang tangani istri saya di sana. Mengapa tidak ditindaklanjuti, tetapi mereka tidak pernah respon,” ujarnya.
Petrus mengatakan, jawaban yang diterimanya hanya sebatas diminta menunggu.
Menurut dia, kondisi tersebut berlangsung hingga beberapa hari.
“Kami sudah tiga hari di rumah sakit hanya datang tidur saja,” ungkapnya.
Ia juga mengaku melihat kondisi istrinya semakin memburuk selama menjalani perawatan.
Bahkan, Petrus menduga kondisi istrinya semakin parah karena tindakan medis yang menurutnya terlambat dilakukan.
“Bahkan mereka paksa sampai bengkak bagian saluran kencing istri saya, makanya nyawanya melayang sampai tidak bisa tertolong,” tuturnya.
Tindakan Baru Dilakukan Saat Kondisi Disebut Kritis
Petrus mengatakan, pihak rumah sakit baru merespons permintaannya ketika kondisi istrinya sudah sangat kritis.
Menurut dia, permintaan yang sebelumnya telah disampaikannya baru dilayani pada hari ketiga.
“Setelah mereka tahu pasien sekarat, baru jam 6 mereka terima keluhan saya. Baru mereka layani di hari ketiga untuk operasi, tetapi dengan kondisi sekarat istri saya,” katanya.
Selviana kemudian menjalani operasi.
Dalam tindakan tersebut, bayi yang dikandung Selviana disebut berhasil diselamatkan.
Namun, kondisi Selviana justru semakin kritis hingga akhirnya mengalami koma.
“Begitu habis dioperasi, bayi selamat, tetapi kondisi ibunya koma,” ujar Petrus.
Suami Mengaku Tidak Mendapat Penjelasan Detail
Petrus juga mempertanyakan komunikasi antara pihak medis dengan keluarga selama kondisi istrinya memburuk.
Ia mengaku tidak mendapatkan penjelasan secara rinci mengenai kondisi Selviana ketika pasien mulai dalam keadaan kritis.
Penulis : Tim Info Labuan Bajo
Editor : Redaksi
Halaman : 1 2 Selanjutnya