Gempa Magnitudo 7 Guncang Tibet China, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia - Tribunnews
Gempa magnitudo 7 mengguncang Tibet, China. Dua orang terluka dan sejumlah rumah retak; simak lokasi episentrum serta dampak terbaru.
Tayang:
Tribun Timur
GEMPA BUMI - Ilustrasi gempa bumi. Gempa bermagnitudo 7,0 mengguncang Nagqu, Tibet, China, pada Kamis (22/10/2026) pukul 22.33 waktu setempat atau 21.33 WIB, dan BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami di Indonesia.
Ringkasan Berita:
- Gempa bermagnitudo 7 mengguncang Nagqu, Tibet, China, pada Kamis malam waktu setempat.
- Otoritas melaporkan sedikitnya dua orang terluka dan sejumlah rumah mengalami retakan di desa dekat episentrum.
- BMKG menyatakan gempa tidak berpotensi memicu tsunami di Indonesia; CENC mencatat gempa susulan bermagnitudo 3–4.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Gempa bumi bermagnitudo 7,0 mengguncang wilayah Nagqu, Tibet, China, Kamis (22/10/2026) pukul 22.33 waktu setempat atau 21.33 WIB.
Sedikitnya dua orang dilaporkan terluka dan sejumlah rumah mengalami retakan di desa dekat pusat gempa.
Laporan Reuters yang mengutip media pemerintah China menyebut tim pemadam kebakaran dan penyelamat telah dikerahkan ke wilayah terdampak.
Warga di sekitar episentrum dilaporkan merasakan guncangan kuat dan keluar dari rumah.
Episentrum Berada di Dataran Tinggi Tibet
Pusat Jaringan Gempa China (China Earthquake Networks Center/CENC) mencatat episentrum gempa berada di wilayah Nagqu, Tibet bagian utara, pada kedalaman 10 kilometer.
Lokasi tersebut berjarak sekitar 400 kilometer dari Lhasa, ibu kota Tibet.
Ketinggian rata-rata wilayah dalam radius lima kilometer dari episentrum mencapai sekitar 4.864 meter di atas permukaan laut.
CENC menyebut gempa tersebut sebagai yang terkuat mengguncang China sejak Januari 2024. Sejumlah gempa susulan bermagnitudo 3 hingga 4 juga tercatat di wilayah sekitarnya.
Baca juga: Kabut Asap dari Indonesia Ganggu Malaysia-Singapura, Bisakah Dijerat Hukum Lintas Negara?
BMKG: Gempa Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tersebut bermagnitudo 6,9 pada Kamis (22/10/2026) pukul 21.33.39 WIB.
Perbedaan angka magnitudo dengan laporan CENC yang mencapai 7,0 dapat terjadi karena perbedaan analisis dan pengolahan data oleh masing-masing lembaga.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyebut pusat gempa berada di darat dengan kedalaman 10 kilometer. Berdasarkan analisis BMKG, gempa berkaitan dengan aktivitas sesar di zona graben Dataran Tinggi Tibet dengan mekanisme sesar normal.
BMKG menyatakan hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di Indonesia.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI DI WILAYAH INDONESIA,” ujar Wijayanto.
Pernyataan BMKG tersebut merujuk pada potensi tsunami di wilayah Indonesia, bukan pada dampak gempa di sekitar episentrum di Tibet.
Baca juga: KPK Ungkap Korupsi Dana Bencana BNPB: Karhutla Kalimantan-Papua, Gempa NTT, Banjir Aceh-Sumatera
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/GEMPA-BUMI-Ilustrasi-gempa.jpg)