Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Featured Karhutla Lintas Peristiwa Spesial Sulawesi Selatan

    Karhutla Sulsel Ancam Lukisan Gua Tertua di Dunia Berusia 67.800 Tahun - Tribunnews

    8 min read



    KOMPAS.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia mengancam kelestarian lukisan gua prasejarah tertua di dunia yang berada di Sulawesi.

    Panas dan asap dari kebakaran dikhawatirkan mempercepat kerusakan karya seni berusia lebih dari 67.000 tahun tersebut.

    Dikutip dari Reuters, Jumat (23/10/2026), Indonesia tengah menghadapi kebakaran hutan dan lahan paling intens sejak 2015.

    Baca juga: 2 Gua Lukisan Tertua Dunia Ini Sekarang Jadi Cagar Budaya Indonesia

    Fenomena El Nino yang parah menyebabkan suhu meningkat dan curah hujan menurun, sehingga hutan serta lahan gambut semakin rentan terbakar.

    BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui

    Sumatera dan Kalimantan menjadi wilayah yang paling terdampak. Namun, kebakaran juga meluas ke Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan, yang menyimpan sejumlah lukisan gua prasejarah di kawasan karst Maros-Pangkep.

    Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu lokasi penting bagi penelitian sejarah manusia. Di sana, lukisan gua menjadi bukti aktivitas artistik manusia purba yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

    Baca juga: Menata Lanskap Tanpa Asap

    Peneliti dari Griffith University, Australia, sebelumnya mengidentifikasi lukisan di sebuah gua di Maros-Pangkep yang menggambarkan sosok menyerupai manusia berinteraksi dengan seekor babi. Lukisan itu diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun.

    Sementara itu, di Pulau Muna, lepas pantai Sulawesi, ditemukan lukisan berupa cetakan telapak tangan berwarna kemerahan yang diperkirakan berusia sedikitnya 67.800 tahun.

    Kebakaran yang mendekati kawasan gua tersebut kini memunculkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu bukti penting sejarah manusia.

    Baca juga: WMO Soroti Karhutla Indonesia, Kabut Asap di ASEAN Diprediksi Sampai Akhir Tahun

    Api mendekati kawasan lukisan gua

    Di sekitar gua-gua prasejarah Maros-Pangkep, petugas pemadam kebakaran berjibaku memadamkan api yang menjalar di lanskap karst, ciri khas kawasan taman nasional sekaligus UNESCO Global Geopark tersebut.

    Petugas pemadam kebakaran Muhammad Ikfar mengatakan, kebakaran sempat berlangsung selama lebih dari sepekan pada awal Oktober dan mendekati gua hingga berjarak sekitar 800 meter.

    Menurut Ikfar, lebih dari 270 hektare kawasan taman nasional terbakar dalam periode 30 September hingga 18 Oktober 2026.

    Baca juga: Kabut Asap Indonesia Picu Status Siaga Tertinggi di Asia Tenggara

    Hingga Kamis dan Jumat, petugas masih berupaya memadamkan api di bagian lain kawasan taman nasional.

    Kondisi yang kering dan belum turunnya hujan turut menyulitkan upaya pengendalian kebakaran.

    Meski api tidak sampai menyentuh langsung permukaan lukisan, panas yang dihasilkan tetap dapat merusak peninggalan tersebut.

    Baca juga: 51 Orangutan Dievakuasi akibat Karhutla di Kalbar, 90 Persen Habitat Hangus

    Arkeolog Griffith University, Basran Burhan, menjelaskan bahwa perubahan suhu di sekitar lukisan dapat mempercepat proses korosi atau pelapukan pada permukaan batuan dan pigmen lukisan.

    Menurut dia, panas merupakan dampak awal sekaligus salah satu yang paling merusak. Perubahan suhu di sekitar gua berpotensi mempercepat kerusakan meskipun tidak terjadi kontak langsung antara api dan lukisan.

    Asap dapat membuat lukisan memudar

    Selain panas, asap kebakaran juga menjadi ancaman serius bagi lukisan prasejarah.

    Baca juga: 56 Titik Panas Terdeteksi di Lampung Timur, Mayoritas di TN Way Kambas

    Burhan menjelaskan, asap dapat meninggalkan jelaga yang menutupi permukaan lukisan. Lapisan tersebut membuat gambar terlihat kabur dan semakin sulit dikenali.

    Dampak ini menjadi perhatian karena lukisan gua merupakan peninggalan yang sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan.

    Kerusakan pada pigmen maupun permukaan batuan dapat mengurangi keterbacaan gambar yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

    Baca juga: Orangutan hingga Trenggiling Jadi Korban Karhutla Kotim, Relawan Hadapi Medan Sulit

    Jika tidak segera ditangani, kombinasi panas, asap, dan kondisi lingkungan yang kering berisiko mempercepat degradasi lukisan tersebut.

    Burhan memperingatkan, tanpa langkah mitigasi taktis yang cepat, dunia berisiko kehilangan salah satu bukti luar biasa dari sejarah manusia yang tersimpan di Maros-Pangkep.

    Ia menilai, kehilangan tersebut akan menjadi kerugian besar bagi warisan sejarah dan arkeologi dunia.

    Baca juga: Kondisi Orangutan Korban Karhutla di Ketapang yang Baru Dievakuasi, Ada yang Kurus dan Penuh Luka

    Ancaman terhadap warisan sejarah manusia

    Lukisan gua di Sulawesi memiliki arti penting bagi pemahaman mengenai perkembangan kemampuan artistik dan kehidupan manusia pada masa prasejarah.

    Usianya yang mencapai puluhan ribu tahun menjadikan situs-situs tersebut sumber informasi penting tentang bagaimana manusia purba merepresentasikan dunia di sekitar mereka melalui gambar.

    Karena itu, ancaman karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi menghilangkan bukti sejarah yang tidak dapat dipulihkan jika rusak atau musnah.

    Baca juga: Karhutla Kalbar Rusak Habitat Orangutan, 30 Satwa Dievakuasi dari Area Sawit

    Kebakaran yang terus mendekati kawasan gua memperlihatkan bagaimana perubahan kondisi iklim dan cuaca ekstrem dapat membahayakan warisan budaya yang selama ini bertahan selama ribuan generasi.

    Di tengah kondisi kering akibat El Nino, upaya pemadaman dan mitigasi menjadi semakin mendesak untuk melindungi kawasan karst Maros-Pangkep beserta peninggalan prasejarah di dalamnya.

    Tanpa penanganan cepat, panas dan asap kebakaran berpotensi meninggalkan kerusakan jangka panjang pada lukisan yang menyimpan jejak kehidupan manusia puluhan ribu tahun silam.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS