Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita BRIN Featured Spesial Tanah Gambut

    Tanah Gambut Sebenarnya Lahan Basah, Kenapa Malah Mudah Terbakar? Ini Kata Peneliti BRIN - Viva

    6 min read

     



    KOMPAS.com - Kebakaran hutan masih melanda sejumlah titik di Indonesia sejak akhir Agustus 2026.

    Lokasi kebakaran di tanah gambut dikaitkan sebagai penyebab kebakaran tak kunjung padam. Padahal, tanah gambut merupakan ekosistem lahan basah.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Dr. Dony Rachmanadi S.Hut., M.Si, menjelaskan tanah gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan.

    Menurut dia, sisa-sisa tumbuhan yang karena kondisi rawa, adanya genangan air, kemudian adanya topografi, menyebabkan tidak berjalannya dekomposisi dengan sempurna. Kemudian menumpuk sekian puluh ribu tahun menjadi suatu ekosistem.

    Karhutla Sulit Dipadamkan, BMKG Bongkar Rahasia "Api Bawah Tanah" Lahan Gambut

    Baca juga: UB dan BRIN Cari Cara untuk Lestarikan Sumber Daya Air

    Tanah gambut dapat mudah terbakar 

    "Sangat kaya bahan organik, menyimpan air dengan kemampuan yang sangat luar biasa, kemudian juga menyimpan karbon," jelas Dony dalam diskusi media di BRIN, Selasa (6/10/2026).

    Sekitar 50 persen dari total lahan gambut tropis di dunia berada di Indonesia. Luasnya 13,4 juta sampai 24 juta hektar.

    Dony mengatakan tanah gambut dapat mudah terbakar jika kondisi hidrologinya berubah.

    Baca juga: Rapor Calvin Verdonk Usai Lille Vs Le Havre 1-0: Jadi Pengganti, Pertahankan Nirbobol

    Misalnya, ketika manusia ingin memanfaatkan lahan dengan cara mengubah sifatnya antara lain mengeluarkan air dari dalam tanah, memberi pupuk karena tidak subur, atau memberinya dengan abu karena bersifat asam.

    "Nah padahal semua aktivitas itu, itu mendegradasi ekosistem gambut tadi," tuturnya.

    Pengaruh pengeringan air dari tanah gambut

    Yang paling berpengaruh terhadap terjadinya kebakaran adalah pengeringan air dari tanah gambut. Seperti tumpukan daun yang kering yang mudah sekali disulut api.

    Baca juga: KPU Solo Sebut Ijazah Gibran Sudah Diverifikasi, tapi Tidak Sampai Singapura

    Dari penelitiannya, Dony mendapati bahwa sekali tanah gambut mengalami kebakaran, kemampuannya untuk mengikat air atau memegang air hilang sampai 15 persen.

    "Begitu kebakarannya terjadi ulang-ulang, sampai empat kali, itu kehilangan kemampuannya sampai hampir dua kali lipatnya tadi. Tadinya 15 persen itu jadi 30 persen," papar Dony.

    Ekosistem tanah gambut umumnya berada di bagian hilir bawah. Tanah gambutlah yang sebetulnya menjaga hidrologi kawasan itu supaya stabil.

    "Begitu kemampuan dia mengikat airnya hilang, ya air tadi jadinya lari ke mana-mana, ke desa, ke kota, ke jalan semua," lanjut Dony.

    Baca juga: BRIN Diminta Prabowo Perkuat Riset Narkoba, Alat Deteksi Murah hingga Vape Dikaji

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN Dr. Dony Rachmanadi S.Hut., M.Si,dalam diskusi media tentang kebakaran lahan gambut, di BRIN, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026).

    Lihat Foto

    Asap dari kebakaran lahan gambut pun lebih pekat

    Itu sebabnya, peristiwa banjir, khususnya di Kalimantan, hampir beriringan dengan kejadian kebakaran.

    "Semakin sering kejadian kebakaran, semakin besar juga kejadian banjir yang terjadi," terangnya

    Asap dari kebakaran lahan gambut pun lebih pekat dan tidak mudah tersapu angin seperti kebakaran di lahan mineral.

    Saat tanah organik terbakar, pada kondisi yang masih lembab dan basah akan terbentuk seperti arang. Bak cara kerja arang di tukang sate.

    "Tukang sate itu kan dia enggak setiap kali menyalakan dengan korek api lagi kan. Begitu enggak ada yang beli, dibiarkan gitu kan asapnya enggak ada tuh. Begitu ada pembeli datang, dia kipas sedikit kan, nyala lagi, itu persis seperti gambut gitu kalau dia sudah mengalami kebakaran," kata Dony.

    Baca juga: BRIN Ungkap Pengguna Vape Rentan Kena Diabetes dan Paru-paru

    "Teman-teman relawan itu, hari ini sedemikian banyak air yang disemprotkan di situ, besok balik lagi dia nyala lagi, begitu dapat oksigen dia nyala lagi. Dia bisa betul-betul padam, kalau direndam dengan air," jelas Dony terhadap istilah api mandiri.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS