Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Spesial

    AS Tiba-tiba Latih Tentaranya untuk Penguburan Massal, Pertama Kali dalam 70 Tahun Lebih: Ada Apa? - Tribunnews

    9 min read

     



    Ringkasan Berita:
    • Angkatan Darat AS menggelar latihan penguburan massal di Fort Bragg, pertama kalinya dalam skala besar sejak Perang Korea pada 1950-an.
    • Latihan ini mempersiapkan militer menghadapi kemungkinan jatuhnya ribuan korban dalam konflik berskala besar.
    • Persiapan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran perang dengan Iran kembali memanas setelah pemilu sela AS pada 3 November.

    TRIBUNNEWS.COM - Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) dilaporkan melatih tentaranya untuk menggali kuburan massal di medan perang.

    Menurut laporan Newsweek, langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran akan kemungkinan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar jika konflik dengan Iran berlanjut.

    Perang AS-Iran yang sedang berlangsung telah memunculkan pertanyaan mengenai jumlah korban jiwa di kalangan personel militer AS.

    The Washington Post melaporkan pada September sekitar 22 tentara AS tewas, empat orang lebih banyak dibandingkan jumlah yang tercatat dalam basis data publik Pentagon.

    Laporan tersebut juga mencatat bahwa tidak semua kematian itu berkaitan langsung dengan konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Asia Barat.

    Sebagian melibatkan tentara AS yang ditempatkan di kawasan tersebut di tengah bentrokan yang masih berlangsung.

    Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai kebohongan.

    Bagaimana Praktik Penguburan Massal Dilakukan?

    Pekan lalu, Newsweek melaporkan latihan yang dijuluki "Operasi Dragon Covenant Fase II" dimulai pada September di Fort Bragg, Carolina Utara.

    Pelatihan tersebut melibatkan personel militer AS dari Komando Dukungan Korps ke-3 dan Brigade Insinyur ke-20, serta pendeta militer dan personel pendukung keagamaan lainnya.

    Seluruh personel tersebut turut berpartisipasi dalam latihan.

    Baca juga: Donald Trump Sesumbar Bisa Menangkan Perang Vietnam dalam Seminggu, tetapi Salah Sebut Nama Kota

    Operasi ini menggunakan alat penggali dan ekskavator untuk menguji seberapa efektif militer dapat memastikan jenazah tetap terawetkan sehingga dapat diidentifikasi dan dipulangkan ke Washington.

    Dengan menggunakan buldoser, ekskavator, dan alat berat lainnya, Angkatan Darat AS berlatih membangun lokasi pemakaman sementara serta menangani jenazah tentara yang gugur dalam pertempuran berskala besar.

    Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Darat mengatakan mereka belum pernah menyiapkan lokasi pemakaman massal sementara dalam skala sebesar ini sejak Perang Korea pada 1950-an.

    Sekitar 36.515 personel AS tewas atau dinyatakan hilang, sedangkan 7.245 lainnya ditangkap selama Perang Korea, menurut laporan tersebut.

    Sebuah lokasi pemakaman yang terdiri atas lima parit dengan kapasitas hingga 100 korban telah disiapkan.

    Menurut pernyataan militer, selama pelatihan di Carolina Utara, para tentara menggunakan alat berat untuk menyiapkan setiap petak pemakaman dalam waktu rata-rata 1 jam 15 menit.

    Mengutip Angkatan Darat, laporan tersebut menyebutkan delapan buldoser dan empat ekskavator militer dapat membantu menguburkan sementara hingga 2.400 jenazah tentara dalam waktu 24 jam.

    Praktik ini juga berfokus pada pengawetan jenazah agar dapat diidentifikasi dan kemudian dipulangkan ke Washington.

    Apa Tujuan Pelatihan Ini?

    Pelatihan ini terutama bertujuan mempersiapkan militer AS menghadapi situasi ketika jumlah korban tewas sangat tinggi, sehingga tim mungkin tidak dapat menguburkan setiap prajurit yang gugur secara terpisah atau mengadakan upacara keagamaan untuk masing-masing korban.

    Sersan Kelas 1 Delbert Ruede dari Komando Dukungan Korps ke-3 mengatakan kepada Newsweek bahwa latihan ini akan membantu militer mengevaluasi cara mengelola proses pemulihan jenazah sekaligus memberikan penghormatan kepada para prajurit yang gugur selama perang.

    Menurutnya, pelatihan ini bertujuan menetapkan prosedur sistematis yang telah diuji di lapangan untuk menangani jenazah secara terhormat selama masa perang, alih-alih mengandalkan tindakan improvisasi.

    Ruede mengatakan kepada Newsweek:

    "Latihan ini memungkinkan kami untuk melihat secara kritis bagaimana kami menghormati, menghargai, dan secara sistematis mengelola korban yang gugur dalam konflik intensitas tinggi."

    "Jika kita berperang besok, kita akan melakukannya sambil berjalan. Apa yang kita lakukan di sini adalah mengambil pendekatan ilmiah yang telah diuji di lapangan sehingga kita dapat mempertahankan kendali positif dan merawat korban yang gugur dengan hormat," tambahnya.

    Latihan tersebut juga menandai pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun para pendeta Angkatan Darat AS dan personel urusan keagamaan lainnya mendapatkan pelatihan mengenai dukungan keagamaan untuk penguburan sementara di medan perang.

    Baca juga: Iran Pertimbangkan Rencana 2 Hari untuk Buka Kembali Selat Hormuz, Tunggu AS Penuhi Syarat

    Berapa Banyak Tentara AS yang Masih Hilang di Korea?

    Menurut laporan BBC pada 2018, ribuan tentara AS masih belum ditemukan. Jumlahnya berbeda-beda di setiap negara bagian.

    Sebagai contoh, sebanyak 431 tentara dari Texas dan 593 tentara dari California masih belum diketahui keberadaannya.

    Sementara itu, satu tentara dari Alaska masih tercatat dalam daftar orang hilang, menurut laporan BBC tersebut.

    Badan pertahanan AS memperkirakan sekitar 5.300 tentara Amerika masih hilang di wilayah yang kini menjadi bagian dari Korea Utara.

    Angkatan Darat AS kemudian menegaskan mereka mengetahui secara pasti lokasi pemakaman banyak jenazah tersebut.

    Dalam 25 tahun terakhir, selama konflik di Irak dan Afghanistan, jenazah personel militer Amerika yang meninggal saat bertugas segera dipulangkan ke Washington. Karena itu, militer tidak memerlukan pembangunan lokasi pemakaman sementara berskala besar.

    Kekhawatiran Perang Iran Berlanjut Setelah Pemilu Sela 3 November

    Iran dilaporkan sedang berupaya meningkatkan kemampuan militernya sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan AS yang kembali terjadi setelah pemilu sela pada November mendatang.

    The Wall Street Journal melaporkan pada pertengahan Oktober Iran telah memperkuat pertahanan di sekitar lokasi-lokasi sensitif, termasuk situs nuklir.

    Iran juga disebut akan membalas setiap serangan baru AS dengan melancarkan serangan di berbagai wilayah Timur Tengah.

    Laporan The Wall Street Journal juga menyebutkan Iran sedang mempersiapkan penduduknya menghadapi perang.

    Upaya tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan demonstrasi, pengiriman personel paramiliter untuk membacakan kisah-kisah perang kepada anak-anak, serta promosi pelatihan penembakan rudal pertahanan.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pasukan Amerika tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.

    Perang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan ratusan serangan udara ke berbagai wilayah Iran.

    Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pejabat lainnya.

    Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS dan negara-negara Teluk.

    Iran kemudian menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 25 persen perdagangan minyak melalui laut dunia.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS