0
News
    Home Donald Trump Dunia Internasional Featured Qatar

    Trump Mau Pakai Jet Hadiah Qatar sebagai Air Force One, Pakar: Tidak Semudah Itu - Halaman all - TribunNews

    7 min read

     Dunia Internasional,

    Trump Mau Pakai Jet Hadiah Qatar sebagai Air Force One, Pakar: Tidak Semudah Itu - Halaman all - TribunNews

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden AS Donald Trump ingin mengubah pesawat Boeing 747 hadiah dari Qatar menjadi pesawat kenegaraan Air Force One.

    Namun, mengonversi Boeing 747 menjadi Air Force One baru bukanlah hal yang mudah.

    Proses ini diperkirakan membutuhkan dana yang sangat besar, waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya, serta menimbulkan kekhawatiran akan keterbatasan kemampuan dan kerentanan keamanan, menurut para ahli penerbangan.

    ABC News pertama kali melaporkan pada Minggu (11/5/2025) bahwa pemerintahan Trump bersiap menerima satu unit 747-8 mewah dari keluarga kerajaan Qatar, senilai sekitar 400 juta dolar AS, untuk digunakan sebagai Air Force One selama sisa masa jabatannya.

    Angkatan Udara AS akan mengambil alih pesawat berusia 13 tahun itu dan memodifikasinya agar layak digunakan oleh presiden.

    The Wall Street Journal melaporkan pada awal Mei bahwa L3Harris, perusahaan kontraktor pertahanan AS, telah ditunjuk untuk mengubah pesawat 747 milik Qatar itu menjadi Air Force One sementara di Texas.

    Proyek ini ditargetkan selesai akhir tahun ini.

    Mengutip Defense News, Richard Aboulafia, ahli pesawat militer dan Direktur Pelaksana AeroDynamic Advisory, mengatakan bahwa meskipun mengesampingkan isu etika, penggunaan pesawat tersebut sebagai Air Force One tetap bermasalah karena sejumlah alasan.

    "Semuanya didasarkan pada kesalahpahaman yang memalukan tentang apa sebenarnya fungsi Air Force One," kata Aboulafia.

    "Kalau Air Force One hanya dianggap sebagai istana berlapis emas di langit, silakan saja."

    "Tapi jika itu adalah alat utama dalam skenario terburuk — seperti perang nuklir — maka ini jelas bukan pesawat yang tepat."

    Baca juga: Trump Terima Jet Mewah 747-8 dari Qatar, Pengganti Sementara Air Force One, Ini Spesifikasinya

    Boeing awalnya dijadwalkan mengirim dua jet Air Force One baru pada 2024 di bawah program VC-25B.

    Namun pengiriman ditunda berulang kali karena pandemi, gangguan rantai pasokan, dan berbagai kendala teknis lainnya.

    Angkatan Udara AS pertama kali mengumumkan pada 2015 bahwa dua pesawat Boeing 747-8 akan dijadikan pesawat kepresidenan baru, di masa jabatan pertama Trump.

    Namun, biaya yang tinggi membuat Trump tidak senang.

    Pemerintahannya saat itu melakukan negosiasi ketat dengan Boeing untuk menekan biaya.

    Trump bahkan sempat mengumumkan penundaan proyek tersebut karena kecewa terhadap Boeing.

    Kini, pesawat Air Force One baru kemungkinan baru akan siap pada 2029, setelah masa jabatan Trump berakhir.

    Namun, seorang pejabat Angkatan Udara mengatakan pekan lalu kepada anggota parlemen bahwa saat ini sedang dipertimbangkan perubahan spesifikasi yang memungkinkan pesawat itu dikirim lebih awal, pada 2027.

    Trump Merasa Dapat Boeing Gratis dari Qatar

    Melalui unggahan di Truth Social pada Minggu malam, Donald Trump menyatakan bahwa "Departemen Pertahanan mendapatkan HADIAH, GRATIS" berupa pesawat tersebut, yang akan digunakan sebagai Air Force One sementara.

    Namun, Air Force One tidak sesederhana yang dipikirkan Trump.

    Air Force One bukan sekadar alat transportasi presiden Amerika Serikat, tetapi juga berfungsi sebagai ruang situasi bergerak yang memungkinkan presiden memimpin militer dan pemerintahan dalam keadaan darurat besar, termasuk dalam skenario seperti Perang Dunia III.

    Pesawat ini dilengkapi dengan sistem komunikasi terenkripsi, pasokan listrik berstandar militer, sistem pertahanan diri rahasia, serta fasilitas medis.

    "Air Force One memiliki salah satu sistem komunikasi paling canggih di dunia," kata Doug Birkey, Direktur Eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies.

    "Pesawat ini berfungsi sebagai pusat komando dan kendali dalam beberapa situasi paling ekstrem yang bisa dibayangkan."

    Baca juga: Dukung Ahmed al-Sharaa, Donald Trump Resmi Cabut Semua Sanksi AS untuk Suriah

    Air Force One juga dirancang dengan sistem redundansi untuk memastikan semua sistem vital tetap berfungsi dalam kondisi darurat, termasuk selama perang nuklir.

    “Jika Trump menginginkan semua kemampuan Air Force One, penggunaan pesawat dari Qatar akan menjadi langkah mundur,” ujar Aboulafia.

    “Mereka harus memulai dari nol, seperti yang mereka lakukan pada 747-8 dalam program VC-25B.”

    Meningkatkan 747-8 dari Qatar agar sekelas Air Force One bisa memakan waktu hingga dekade 2030-an dan menghabiskan miliaran dolar, tambahnya.

    “Bahkan untuk sekadar mengelola dan berkomunikasi dengan pasukan militer di seluruh dunia secara terenkripsi — itu adalah proyek yang sangat mahal,” kata Aboulafia.

    “Pekerjaan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun pada 747-8 lainnya dalam program VC-25B. Memulai dari awal dengan pesawat yang sama akan jauh lebih lama.”

    Salah satu fitur penting Air Force One, yakni kemampuan untuk mengisi bahan bakar di udara, kemungkinan besar tidak tersedia pada 747 Qatar yang dimodifikasi.

    Fitur ini juga tidak tersedia dalam pesawat VC-25B baru.

    Aboulafia menambahkan bahwa pemberian pesawat oleh keluarga kerajaan Qatar menimbulkan kekhawatiran besar, dan perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mendeteksi potensi perangkat penyadapan.

    “Hal ini mungkin membutuhkan investigasi mendalam terhadap seluruh sistem pesawat dan dapat menimbulkan risiko keamanan yang sangat serius,” ujarnya.

    Saat ditanya apakah mungkin meningkatkan 747-8 menjadi Air Force One dalam hitungan bulan, padahal jet VC-25B yang ada telah dikerjakan hampir satu dekade, Birkey menjawab, semua bergantung pada keputusan militer dan pemerintah soal fitur yang harus ada di pesawat tersebut.

    “Waktu pengerjaan sepenuhnya bergantung pada skala dan cakupan spesifikasi yang ditentukan,” kata Birkey.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

    Komentar
    Additional JS