Antisipasi Invasi AS dan Israel, Militer Iran Siaga Penuh - SindoNews
2 min read
Antisipasi Invasi AS dan Israel, Militer Iran Siaga Penuh
Minggu, 11 Januari 2026 - 15:19 WIB
Antisipasi invasi AS dan Iran, militer Iran siaga penuh. Foto/X/@khamenei_ir
A
A
A
TEHERAN - Angkatan bersenjata Iran meningkatkan kesiapsiagaan tertinggi untuk menghadapi situasi apa pun. Itu diungkapkan Laksamana Muda Habibollah Sayyari, Kepala Staf dan Wakil Koordinator Angkatan Darat Republik Islam Iran (IRGC).
Menurut laporan yang diterbitkan oleh media berita yang berbasis di Iran, Tehran Times, Sayyari menguraikan kemampuan dan kesiapan keseluruhan pasukan keamanan. Ia mengatakan moral yang kuat di antara personel militer dan dukungan publik yang tak tergoyahkan telah menjadikan kesiapsiagaan ini sebagai kenyataan yang tak terbantahkan.
Laksamana Muda Sayyari menekankan peran anggota muda dalam memperkuat kemampuan tempur angkatan bersenjata. Ia mengatakan para prajurit muda yang berdedikasi ini membentuk tulang punggung pasukan. Merujuk pada kinerja mereka selama periode 'Pertahanan Suci', ia mencatat bahwa dengan pelatihan tingkat lanjut dan peralatan modern, mereka sekarang mampu melaksanakan tugas mereka dengan lebih efektif.
Merujuk pada apa yang disebut 'perang 12 hari' baru-baru ini yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel, Sayyari mengatakan tantangan yang dihadapi Iran selama konflik tersebut tidak melemahkan kesiapan, tetapi malah memperkuatnya. Ia menambahkan bahwa pelajaran dari perang tersebut telah digunakan untuk meningkatkan sistem pemeliharaan dan meningkatkan kemampuan strategis melalui langkah-langkah berkelanjutan.
Baca Juga: Taktik AS dan Israel Picu Demo di Iran Diklaim Tak Akan Sukses Gulingkan Khamenei
Perlu dicatat bahwa pada 13 Juni 2025, sementara pembicaraan nuklir sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, Israel melancarkan agresi yang tidak beralasan dan mengejutkan terhadap Iran. Setidaknya 1.064 orang tewas selama perang 12 hari yang terjadi setelahnya.
Selama konflik tersebut, Amerika Serikat secara langsung campur tangan melanggar hukum internasional dan melakukan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap instalasi strategis Israel serta pangkalan militer AS terbesar di Asia Barat, Al Udeid, yang terletak di Qatar.
Menurut laporan tersebut, Iran akhirnya mampu menghentikan agresi pada 24 Juni melalui operasi pembalasan yang sukses terhadap Israel dan Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman tersebut, Habibollah Sayyari mengklaim bahwa Iran sejak saat itu telah meningkatkan kemampuan militernya ke tingkat yang baru.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh media berita yang berbasis di Iran, Tehran Times, Sayyari menguraikan kemampuan dan kesiapan keseluruhan pasukan keamanan. Ia mengatakan moral yang kuat di antara personel militer dan dukungan publik yang tak tergoyahkan telah menjadikan kesiapsiagaan ini sebagai kenyataan yang tak terbantahkan.
Laksamana Muda Sayyari menekankan peran anggota muda dalam memperkuat kemampuan tempur angkatan bersenjata. Ia mengatakan para prajurit muda yang berdedikasi ini membentuk tulang punggung pasukan. Merujuk pada kinerja mereka selama periode 'Pertahanan Suci', ia mencatat bahwa dengan pelatihan tingkat lanjut dan peralatan modern, mereka sekarang mampu melaksanakan tugas mereka dengan lebih efektif.
Merujuk pada apa yang disebut 'perang 12 hari' baru-baru ini yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan rezim Israel, Sayyari mengatakan tantangan yang dihadapi Iran selama konflik tersebut tidak melemahkan kesiapan, tetapi malah memperkuatnya. Ia menambahkan bahwa pelajaran dari perang tersebut telah digunakan untuk meningkatkan sistem pemeliharaan dan meningkatkan kemampuan strategis melalui langkah-langkah berkelanjutan.
Baca Juga: Taktik AS dan Israel Picu Demo di Iran Diklaim Tak Akan Sukses Gulingkan Khamenei
Perlu dicatat bahwa pada 13 Juni 2025, sementara pembicaraan nuklir sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, Israel melancarkan agresi yang tidak beralasan dan mengejutkan terhadap Iran. Setidaknya 1.064 orang tewas selama perang 12 hari yang terjadi setelahnya.
Selama konflik tersebut, Amerika Serikat secara langsung campur tangan melanggar hukum internasional dan melakukan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir Iran. Sebagai tanggapan, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap instalasi strategis Israel serta pangkalan militer AS terbesar di Asia Barat, Al Udeid, yang terletak di Qatar.
Menurut laporan tersebut, Iran akhirnya mampu menghentikan agresi pada 24 Juni melalui operasi pembalasan yang sukses terhadap Israel dan Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman tersebut, Habibollah Sayyari mengklaim bahwa Iran sejak saat itu telah meningkatkan kemampuan militernya ke tingkat yang baru.
(ahm)