Ricuh di Depan Kantor Grab dan Jeritan Ojol Soal Layanan Berbayar - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa puluhan pengemudi ojek online (ojol) di depan Kantor Grab, Kompleks South Quarter, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026), sempat berlangsung ricuh sebelum akhirnya dimediasi aparat kepolisian.
Kericuhan terjadi di area underpass dekat gedung South Quarter. Massa driver terlihat mendorong pagar kawat hingga miring, sementara aparat kepolisian berjaga tidak jauh dari lokasi.
Kasi Humas Polsek Cilandak Bripka Nuryono membenarkan insiden tersebut. Ia menyebut kericuhan dipicu keinginan massa untuk masuk ke dalam area kantor.
Baca juga: Demo Ojol di Depan Kantor Grab Sempat Ricuh, Driver Minta Hapus Layanan Berbayar
“Namun dari pihak kepolisian dan dari pihak manajemen (Grab) diberikan tempat untuk audensi dan orasi penyampaian pendapat di muka umum,” ujar Nuryono saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu.
Untuk mencegah gangguan lalu lintas, demonstran juga diminta menepi ke sisi kanan dan kiri gedung.
Setelah situasi memanas, Kapolsek Cilandak Kompol Febriman Sarlase turun langsung memediasi perwakilan driver dengan pihak manajemen.
“Dan dapat dimediasi. Sampai saat ini sudah aman tidak ada kericuhan. Kedua pihak sudah dipertemukan oleh Bapak Kapolsek,” jelas Nuryono.
Baca juga: Buruh Kembali Demo, Pramono Tegaskan Tak Ubah UMP 2026
Pantauan Kompas.com pada Rabu malam, kondisi di depan South Quarter kembali lengang. Tidak terlihat massa driver maupun kerusakan akibat aksi yang sempat ricuh tersebut.
Tuntutan driver
Kericuhan itu tak lepas dari tuntutan driver ojol yang mendesak manajemen menghapus layanan berbayar. Salah satu driver, Arman (30), mengatakan demonstrasi dimulai sejak pukul 14.00 WIB dan memanas pada sore hari.
“Iya tadi ramai. Ribut-ribut. Kan driver minta audiensi. Ketemu manajemen. Ricuh karena tempat ini dijaga padahal driver sudah menyampaikan ingin bertemu manajemen,” kata Arman.
Driver lainnya, Ramadhani (29), mengaku mengikuti aksi sejak siang, namun memilih meninggalkan lokasi lebih awal untuk kembali menarik penumpang.
Baca juga: Demo Buruh di Medan Merdeka Selatan Selesai, Jalan Kembali Dibuka
“Saya jam 14.00 WIB ikut. Mendekati ashar saya cabut karena kan mau narik kan. Saya ngejar jam orang pulang kantor biar pemasukan maksimal,” ujar dia.
Menurut Ramadhani, tuntutan utama driver adalah penghapusan program berbayar seperti layanan hemat, yang dinilai membebani penghasilan driver.
“Misalnya harga hemat Rp 7.000 itu yang masuk segitu, tapi dipotongnya ke kita (driver). Belum lagi kalau pakai layanan hemat, tapi jarak penjemputan jauh,” ungkap Ramadhani.
Ia menjelaskan, jarak jemput yang panjang tidak sebanding dengan jarak antar dan pendapatan yang diterima.
“Jemputnya jauh, tapi pengantaran itu dekat, 1-3 kilometer misalnya. Tapi jemputnya 3 kilometer. Ya jadi jauh dan tidak sebanding dengan pendapatan kami,” sambung dia.
Baca juga: Demo Buruh Mulai Digelar, Jalan Medan Merdeka Selatan Arah Patung Kuda Ditutup
Selain soal potongan, Ramadhani menilai persaingan harga antar aplikator semakin menekan kondisi driver di lapangan.
“Perang harga dengan GoJek dengan Maxim. Driver masih harus bersaing juga di jalan kan. Ya memang Kondisinya sulit,” tambah Ramadhani.
(Reporter: Dian Erika Nugraheny, Ambaranie Nadia Kemala Movanita)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang