BANGKALAN, GEMADIKA.com – Rezeki datang dari arah yang tak terduga. Itulah yang dialami Nuryasin, seorang guru sekaligus kepala SDN Pejagan IV di Madura, ketika menemukan harta karun bersejarah senilai miliaran rupiah pada 1991 silam.

Kisah bermula dari hujan deras yang terus mengguyur kawasan sekolah. Lapangan sekolah menjadi becek dan berlumpur. Nuryasin kemudian berinisiatif mengambil cangkul untuk menggali tanah kering guna menutup genangan air.

“Saya menggali tanah di halaman, untuk menimbun bagian lainnya yang becek bekas hujan,” ungkap Nuryasin, seperti dilansir CNBC Indonesia.

Penggalian berjalan lancar. Satu per satu titik becek berhasil ditutup dengan tanah kering. Namun, saat cangkul menggali lebih dalam sekitar 25-30 sentimeter, terjadilah kejutan yang mengubah hidupnya.

Mata Nuryasin terbelalak. Di dasar galian, tampak sebuah gerabah kuno. Ketika dibuka, gerabah tersebut berisi ratusan koin logam mengkilap bertuliskan “VOC” dan lambang Kerajaan Belanda.

Menurut catatan Suara Karya tertanggal 1 Februari 1991 yang dikutip CNBC Indonesia, koin-koin tersebut berasal dari dua periode berbeda.

“Uang yang ditemukan bertuliskan VOC dan lambang Kerajaan Belanda, dengan tahun pemakaian antara tahun 1746 s/d 1760, berdiameter 2,1 cm. Lalu, jenis kedua berdiameter 2,9cm yang pada pemukannya bertuliskan Indiae Batav 1819 s/d 1828,” tulis pewarta Suara Karya (1 Februari 1991).

Kabar penemuan harta karun ini langsung menyebar ke seluruh Indonesia. Pihak berwenang dan tim arkeologi segera datang untuk memverifikasi temuan tersebut.

Setelah dilakukan penelitian, temuan Nuryasin dipastikan sebagai koleksi koin perak asli peninggalan masa VOC dan penjajahan Belanda. Total berat seluruh koin mencapai 13 kilogram dengan nilai ekonomis mencapai miliaran rupiah.

Banyak pihak menduga Nuryasin akan menjadi miliarder dalam semalam. Tak sedikit yang menyarankan agar koin-koin bersejarah itu dijual ke kolektor atau pasar antik yang menawarkan harga fantastis.

Namun, pilihan Nuryasin justru mengejutkan. Ia memutuskan menyerahkan seluruh temuan kepada negara.

“Tapi, itu tak mungkin saya lakukan. Uang temuan ini akan kami serahkan pada museum, atas dasar petunjuk Depdikbud,” kata Nuryasin.

Keputusan mulia ini membuat Nuryasin kehilangan kesempatan menjadi miliarder. Namun, namanya tercatat dalam sejarah sebagai penemu harta karun yang rela berbagi warisan budaya bangsa kepada masyarakat luas.

Jejak Sejarah Mata Uang di Nusantara

Temuan di lapangan SDN Pejagan IV membuka tabir sejarah tentang sistem transaksi ekonomi masyarakat Nusantara ratusan tahun lalu. Jauh sebelum VOC datang, masyarakat sudah mengenal sistem mata uang, bukan sekadar barter.

Dikutip dari CNBC Indonesia, dalam buku Uang Indonesia: Sejarah dan Perkembangannya (2021), Erwin Kusuma mencatat bahwa masyarakat Jawa kuno telah menggunakan koin emas untuk transaksi perdagangan. Koin emas umumnya dipakai untuk transaksi besar seperti jual-beli tanah, sementara transaksi pasar sehari-hari menggunakan alat tukar lain.

Ketika VOC tiba di Nusantara, kongsi dagang asal Belanda ini mulai menyeragamkan mata uang yang beredar. Museum Bank Indonesia mencatat, VOC mengedarkan berbagai jenis koin seperti rijksdaalder, dukat, stuiver, gulden, dan doit.

Koin-koin tersebut terbuat dari emas, perak, tembaga, hingga nikel dengan bentuk bundar dan pipih. Yang paling menarik, istilah “doit” akhirnya diserap menjadi kata “duit” dalam bahasa Indonesia hingga saat ini.

Produksi koin VOC semakin masif setelah mereka mendirikan pabrik mata uang di dalam negeri. Seluruh lapisan masyarakat menggunakan koin ini untuk bertransaksi hingga VOC runtuh pada 1799.

Setelah kejatuhan VOC, pemerintah Hindia Belanda mengedarkan mata uang baru. Koin-koin era VOC pun tinggal menjadi kenangan sejarah. Sebagiannya terpendam dalam tanah sebagai harta karun, seperti yang ditemukan Nuryasin 33 tahun lalu.