0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dewan Perdamaian Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Mahfud MD Spesial

    Buntut Konflik Iran Vs AS-Israel, Mahfud: Keterlibatan Indonesia di BoP Perlu Dipertimbangkan Lagi - Tribunnews

    9 min read

     

    Buntut Konflik Iran Vs AS-Israel, Mahfud: Keterlibatan Indonesia di BoP Perlu Dipertimbangkan Lagi

    Eks Menko Polhukam Mahfud MD menilai keterlibatan Indonesia di BoP harus dipertimbangkan kembali oleh Pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto.

    Ringkasan Berita:
    • Eks Menko Polhukam Mahfud MD menilai keterlibatan Indonesia di BoP harus dipertimbangkan kembali oleh Pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto.
    • Apalagi kini setelah meletusnya konflik antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel, sejak 28 Februari 2026 kemarin.
    • Mahfud menyebut, banyak yang merasa keterlibatan Indonesia di BoP lebih banyak mudaratnya.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menilai Pemerintah Indonesia harus mempertimbangkan kembali keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian buatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, atau Board Of Peace (BoP).

    Terlebih setelah kini pecahnya konflik antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel, pada 28 Februari 2026.

    Mahfud MD menegaskan, sejak awal Kemerdekaan Indonesia, sikap politik luar negeri kita adalah politik bebas aktif.

    Selain itu Bung Karno juga sejak awal mendukung untuk kemerdekaan Palestina.

    Untuk itu Mahfud MD menilai Indonesia harus kembali ke sikap politik bebas aktifnya seperti sedia kala.

    "Pertama iya sejak awal kemerdekaan itu kalau sikap (politik luar negeri) Indonesia tuh kan sudah bebas aktif ya. Artinya bebas, tidak terikat pada satu kekuatan manapun, tetapi aktif untuk membangun perdamaian dunia. Kan itu sejak awal."

    "Lalu sikap terhadap Palestina Indonesia juga sejak awal Dasasila Bandung juga kan salah satunya, jelas-jelas Bung Karno itu mendukung Palestina. Karena apa? Kemerdekaan Indonesia itu ya di awal-awalnya kan didukung oleh Mesir, Liga Arab, Palestina dan sebagainya."

    "Ketika negara-negara lain belum banyak atau bahkan belum ada ketika itu yang mau mengakui kemerdekaan Indonesia ketika itu. Oleh sebab itu menurut saya memang Indonesia harus kembali ke bebas aktif itu tadi," kata Mahfud dalam Podcast 'Terus Terang' di kanal YouTube Mahfud MD Official, Selasa (3/3/2026).

    Mahfud menyebut, banyak yang merasa keterlibatan Indonesia di BoP harus dipertimbangkan lagi, karena dinilai lebih banyak mudaratnya.

    Mantan Ketua MK itu menyadari, Presiden Prabowo sebagai pimpinan tertinggi di RI memang memiliki wewenang untuk membuat keputusan tentang hubungan internasional.

    Namun Mahfud menilai Indonesia harus bisa kembali rasional, dan kembali pada dasar-dasar perjuangan untuk mendukung kebebasan semua bangsa.

    Baca juga: PKS Soroti Kredibilitas BoP di Tengah Konflik Bersenjata Timur Tengah

    "Menurut saya memang perlu dipertimbangkan kelanjutan keterlibatan Indonesia di dalam BoP, Dewan Perdamaian tadi, Board of Peace itu iya. Menurut saya perlu dipertimbangkan, karena banyak orang melihat itu lebih banyak mudaratnya. 

    "Kita tahu Presiden eh Presiden Prabowo itu eh punya hak dan kewenangan-kewenangan tertentu, untuk membuat keputusan tentang hubungan-hubungan internasional karena dia kepala negara di sini."

    "Tetapi juga saya kira secara rasional harus kembali ke dasar-dasar perjuangan kita untuk mendukung kebebasan semua bangsa, hak semua bangsa."

    "Termasuk dalam hal ini, dalam situasi seperti ini juga, Indonesia harus berada di posisi yang ingin menyelamatkan perdamaian," jelas Mahfud.

    Baca juga: Prabowo Diminta Keluar BoP usai Konflik AS-Iran Memanas, BRIN: Khawatir Dianggap Tunduk pada Trump

    MUI Minta Indonesia Pertimbangkan Kembali Keanggotaan BoP

    Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran

    Dia menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang merusak upaya perdamaian global.

    Menurut Sudarnoto, serangan tersebut menunjukkan bahwa Presiden Amerika SerikatDonald Trump, tidak memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia. 

    Serangan Amerika-Israel terhadap Iran memberikan bukti kasat mata bahwa Trump, baik sebagai presiden maupun chairman Board of Peace, bukanlah sosok yang mempunyai kepedulian untuk menciptakan perdamaian. Dia justru perusak brutal perdamaian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3/2026).

    Ia juga menilai Board of Peace (BoP) yang dipimpin Trump tidak bisa dipercaya sebagai lembaga yang berorientasi pada perdamaian. 

    Baca juga: Kutuk Serangan ke Iran, PBNU Harap Pemerintah Indonesia Manfaatkan Posisi di BoP Desak AS-Israel

    Sudarnoto menyebut keberadaan BoP hanya kamuflase bermotif imperialistik. 

    "BoP sudah runtuh secara moral dan kehilangan legitimasinya," katanya. 

    Dalam konteks tersebut, Sudarnoto meminta Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan kembali posisi Indonesia sebagai anggota BoP. 

    Dia bahkan mendorong agar negara-negara Muslim mengambil sikap serupa.

    "Hemat saya, Presiden Prabowo perlu memperhitungkan kembali keberadaan Indonesia sebagai anggota BoP. Sikap yang sama seharusnya juga dilakukan negara-negara Muslim lainnya," katanya.

    Ia menilai BoP tidak efektif dalam menciptakan perdamaian maupun memperjuangkan kemerdekaan Palestina. 

    Karena itu, ia menyerukan persatuan negara-negara Muslim agar tidak terpecah belah oleh kepentingan imperialisme Amerika dan Israel.

    Baca juga: Ketua MPR Ahmad Muzani Respons Desakan Indonesia Mundur dari BOP: Presiden Sudah Tahu

    Meski demikian, Sudarnoto menekankan bahwa langkah Indonesia harus tetap ditempuh secara diplomatik dan terukur. 

    Ia mengingatkan pentingnya menjaga kepentingan nasional (national interest) dalam setiap kebijakan luar negeri.

    "Indonesia berkewajiban ikut menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanah Pembukaan UUD 1945. Sikap proaktif penting, tetapi harus dilakukan dengan langkah diplomatik dan sangat terukur serta persuasif, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional kita," ujarnya.

    Ia juga menyatakan seluruh elemen masyarakat dan kekuatan masyarakat sipil Indonesia akan mendukung Presiden jika memutuskan mundur dari BoP. 

    Menurutnya, langkah tersebut merupakan pilihan terhormat yang bisa membuka peluang baru bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian sejati dan ketertiban dunia.

    (Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Fahdi Fahlevi)

    Baca berita lainnya terkait Iran Vs Amerika Memanas.


    Komentar
    Additional JS