IRGC Sebut Ada yang Tiru Drone Iran untuk Menyerang Arab Saudi, UEA, Kuwait hingga Turki - Tribunnews
Drone tempur itu kemudian digunakan menyerang target di negara-negara tetangga Iran di kawasan Teluk.
Ringkasan Berita:
- Media Iran sebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menuduh ada yang sengaja meniru rudal Iran kemudian dipakai menyerang tetangga.
- Tujuan utamanya adalah fitnah sekaligus menjebak Iran dan menabur perselisihan Iran dengan negara tetangga di Timur Tengah.
- Sementara media Israel menegaskan alasan para negara tetangga tidak balas menyerang.
TRIBUNNEWS.COM, IRAN - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui markas komando tempur terpadu Angkatan Bersenjata (KCHQ) Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa musuh-musuh Iran telah melakukan rencana jahat dengan meniru pesawat tak berawak Shahed buatan Iran.
Drone tempur itu kemudian digunakan menyerang target di negara-negara tetangga Iran di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, UEA, Kuwait, Turki, Irak, dan Qatar.
Juru Bicara Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, seperti dikutip dari media Iran Tasnim, Senin (16/3/2026), menjelaskan tujuan utamanya adalah fitnah sekaligus menjebak Iran dan menabur perselisihan Iran dengan negara tetangga di Timur Tengah.
"Mereka telah beralih ke tipu daya dan telah meniru drone Shahed-136 Iran, melancarkan serangan terhadap target yang tidak adil di negara-negara regional dengan nama baru drone 'Lucas'," demikian Ebrahim Zolfaqari memperingatkan semua negara tetangga Iran.
“Tujuan musuh adalah untuk menumbuhkan ketidakpercayaan dan tuduhan langsung terhadap Republik Islam Iran dan pada akhirnya menciptakan perpecahan antara Iran dan negara-negara tetangganya, sehingga melemahkan tindakan pertahanan yang sah dan legal dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran,” kata juru bicara tersebut dikutip dari media Iran Tasnim News.
Dia menegaskan negara tetangga Iran bahwa doktrin pertahanan Republik Islam Iran didasarkan pada prinsip-prinsip yang sepenuhnya legal dan memiliki landasan logis yang kuat untuk melawan agresi militer Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Dia sekali lagi menegaskan bahwa Iran hanya menyerang target dan pusat kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah seperti pangkalan militer dan kedutaan besar. bukan tempat lain.
"Dan setiap tempat yang menjadi sasaran Iran secara resmi akan diumumkan, kami mengambil tanggung jawab atas konsekuensinya,” tegasnya.
Juru bicara tersebut kemudian memberikan contoh "serangan jahat" terhadap pusat-pusat di negara-negara tetangga yang bersahabat seperti Turki, Kuwait, dan Irak, yang secara keliru dikaitkan dengan Angkatan Bersenjata Iran.
“Reaksi bijaksana para pejabat negara-negara tersebut terhadap tindakan-tindakan yang menipu dan jahat tersebut akan mematahkan konspirasi ini sejak dini. Jangan terperangkap dalam tipu daya dan sikap yang memecah belah akan mendorong perluasan lebih lanjut dari rencana-rencana tersebut. Oleh karena itu, sangat penting untuk saling percaya dan menjaga persatuan serta kerja sama agar musuh asing yang menyerang menyesali intrik-intriknya yang terus berlanjut,” kata Zolfaqari.
Terbaru, IRGC menyatakan bahwa Iran tidak ada hubungannya dengan serangan pesawat tak berawak baru-baru ini di Riyadh dan Provinsi Timur Arab Saudi.
Kantor Humas IRGC pada hari Minggu mengutip pengumuman Arab Saudi bahwa sepuluh drone telah menargetkan Riyadh dan Provinsi Timur, dan bahwa UAV tersebut telah dicegat oleh kerajaan.
IRGC menegaskan bahwa dugaan serangan tersebut tidak ada hubungannya dengan Republik Islam Iran, dan mendesak pemerintah Saudi untuk menyelidiki asal muasal serangan tersebut.
Mengapa Arab Saudi Cs Tidak Membalas Iran?
Media Israel The Jerusalem Post menegaskan rudal-rudal yang menyerang sejumlah negara di Timur Tengah berasal dari Iran.
Media itu menegaskan lebih dari 2.000 rudal dan drone diluncurkan oleh Iran ke negara-negara Teluk.
Namun sumber The Jerusalem Post menegaskan negara-negara tetangga Iran tidak mau membalas karena khawatir situasi di Timur Tengah akan semakin runyam.
“Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana perang ini akan berakhir,” kata seorang pejabat Teluk kepada Post.
“Ada kemungkinan bahwa pada akhirnya, rezim tersebut tidak akan jatuh, bahwa [Presiden AS Donald] Trump akan memutuskan bahwa peristiwa itu telah berakhir, dan Korps Garda Revolusi Islam akan tetap berkuasa. Dalam hal itu, negara-negara Teluk harus terus berurusan dengan Teheran dan mempertahankan beberapa bentuk hubungan dengannya.”
Alasan lain mengapa negara-negara Teluk enggan menyerang Iran adalah kekhawatiran akan peningkatan signifikan dalam serangan Iran, termasuk perluasan daftar target yang mungkin akan dihantam dengan rudal dan drone.
“Tetapi situasinya bisa jauh lebih buruk. Kita tahu Iran masih memiliki kemampuan yang belum digunakan, dan kekhawatiran itu selalu ada.”
Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan kampanye militer skala besar 28 Februari lalu.
Dalam serangan itu pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama dengan beberapa komandan militer senior dan warga sipil tewas.
Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara besar-besaran terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.
Sumber: Tasnim/Jerusalem Post