Produsen Plastik Cari Pasokan Bahan Baku di Luar Timur Tengah, Harga Masih Terus Bergejolak - Tribunnews
Produsen Plastik Cari Pasokan Bahan Baku di Luar Timur Tengah, Harga Masih Terus Bergejolak
Indonesia masih mengimpor nafta yang menjadi bahan baku plastik dari Timur Tengah sebanyak 60-70 persen.
Ringkasan Berita:
- Industri plastik Indonesia mencari pasokan bahan baku dari luar kawasan Timur Tengah untuk mengatasi kelangkaan pasokan.
- Indonesia masih mengimpor nafta yang menjadi bahan baku plastik dari Timur Tengah sebanyak 60-70 persen.
- Tantangan utama pengiriman bahan baku dari luar Timur Tengah adalah waktu pengiriman yang menjadi jauh lebih lama.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Industri plastik nasional mulai mencari jalan keluar dari tekanan pasokan global dengan mengalihkan sumber bahan baku dari luar kawasan Timur Tengah.
Upaya ini diharapkan dapat meredam lonjakan harga yang belakangan terjadi, meski di sisi lain memunculkan tantangan baru dalam rantai pasok.
Indonesia saat ini masih mengimpor nafta yang menjadi bahan baku plastik dari Timur Tengah sebanyak 60-70 persen.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan, pelaku industri kini mulai menjajaki sumber bahan baku alternatif dari berbagai kawasan.
"Kita mulai mencari alternatif bahan baku nafta di luar Middle East. Mudah-mudahan nanti kita bisa mendapatkan di luar Middle East, entah itu nanti dari Afrika, dari Asia Tengah atau dari Amerika," tutur Fajar saat dihubungi Tribunnews.com, Jumat (3/4/2026).
Inaplas menyebut, sejumlah upaya sudah menunjukkan titik terang. Namun, peralihan sumber pasokan ini tidak serta-merta tanpa hambatan.
Salah satu tantangan utama adalah waktu pengiriman yang akan jadi jauh lebih lama dibandingkan pasokan dari Timur Tengah.
"Kalau kita beli dari Middle East waktu pengiriman atau pengapalan itu antara 10 sampai 15 hari. Kalau di luar Middle East itu paling cepat adalah 50 hari sehingga nanti supply chains akan berubah," jelas Fajar.
Baca juga: Harga Plastik Naik hingga 70 Persen, Pedagang Juga Keluhkan Daya Beli yang Anjlok
Perubahan rantai pasok ini diperkirakan akan berdampak pada pergerakan harga dalam jangka pendek. Fajar menilai, fluktuasi harga masih akan terjadi setidaknya hingga siklus pengiriman baru mulai stabil.
"Nanti dari sekarang plus 50 hari, itu kemungkinan masih ada gejolak harga naik turun di situ. Kita berharap setelah 50 hari sudah mulai agak gampang prediksinya pergerakan harga, kita berharap sudah mulai agak stabil," ucapnya.
Di sisi lain, peluang mulai terbuka seiring perubahan sikap sejumlah negara produsen yang sebelumnya menahan pasokan bahan baku plastik. Kini, sebagian negara mulai melepas stoknya ke pasar global.
"Negara-negara yang tadinya tidak mau lepas dia punya persediaan bahan baku plastik, ini sudah mulai ada beberapa yang bisa mereka lepas," terang Fajar.
Baca juga: Harga Plastik Naik Usai Lebaran, Pedagang Ungkap Setiap Hari Berubah, Ini Kata Inaplas
Ia menambahkan, kondisi ini memberi peluang bagi industri hilir di dalam negeri untuk mengakses pasokan melalui impor, meskipun sebagian besar tetap berasal dari luar kawasan Timur Tengah.
Dengan berbagai dinamika tersebut, Inaplas berharap tekanan harga tidak akan setajam sebelumnya dalam beberapa pekan ke depan, meski potensi kenaikan masih tetap ada.
"Kita berharap dari sekarang sampai minggu-minggu ke depan itu pergerakan harga sudah tidak terlalu tajam lagi kalaupun ada kenaikan," ujarnya.
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pedagang-di-toko-plastik-yang-berada-di-Pasar-Baung.jpg)