0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Gen Z Hipertensi Kesehatan Spesial

    Ancaman Hipertensi pada Gen Z, Mengapa Usia Muda Kini Rentan Penyakit Jantung? -

    7 min read

     

    Ancaman Hipertensi pada Gen Z, Mengapa Usia Muda Kini Rentan Penyakit Jantung?

    Jakarta -

    Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding arteri terlalu tinggi. Hal ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

    Seiring waktu, hipertensi bisa merusak arteri dan jantung serta menyebabkan komplikasi serius, seperti serangan jantung atau stroke. Sayangnya, tekanan darah tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala sehingga sering disebut sebagai silent killer.

    Hipertensi Banyak Menyerang Anak Muda

    Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Penyakit ini bahkan tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga orang berusia muda.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada kelompok usia 18-24 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7 persen. Sementara itu, pada kelompok usia 25-34 tahun angkanya mencapai 17,4 persen.

    Penentuan status hipertensi didasarkan pada pengakuan responden yang pernah didiagnosis hipertensi oleh dokter dan hasil pengukuran rata-rata tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.

    Sebagai catatan, menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, generasi muda adalah individu berusia 16-30 tahun. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI mengelompokkan anak muda mulai dari usia remaja hingga dewasa muda dengan rentang usia 15-24 tahun.

    Penyebab Hipertensi-Masalah Jantung pada Anak Muda

    Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Berlian Idriansyah Idris, SpJP, mengatakan secara umum hipertensi dan masalah kardiovaskular memang semakin banyak mengintai anak muda. Menurutnya, kondisi ini berkaitan dengan perubahan gaya hidup dan tingkat stres yang tinggi di kalangan usia muda.

    "Masalah jantung kini banyak dialami anak muda karena gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, kurang gerak, serta pola makan tinggi garam, lemak, dan gula," kata dr Berlian ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

    "Sangat mungkin anak muda sering begadang dan kurang tidur, yang diketahui berhubungan dengan masalah jantung," tambahnya.

    Lantas, bagaimana hipertensi memengaruhi jantung?

    Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Vito Damay, SpJP, menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi memang dapat memicu berbagai masalah jantung. Salah satu mekanismenya adalah menyebabkan pembesaran jantung atau kardiomegali.

    "Jantung membesar dapat memicu gumpalan darah atau gangguan irama jantung yang fatal," kata dr Vito.

    Tekanan darah tinggi juga dapat merusak pembuluh darah koroner. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya plak pada pembuluh darah dan mengurangi pasokan oksigen ke jantung atau menyebabkan iskemia.

    "Iskemia pada otot jantung ini juga dapat menyebabkan gangguan sistem kelistrikan jantung yang fatal dan mendadak," jelas dr Vito.

    "Plak pada pembuluh darah koroner ini bisa pecah sehingga pembuluh darah yang seharusnya memberikan oksigen dan nutrisi ke jantung menjadi tersumbat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan serangan jantung, kerusakan permanen pada otot jantung, atau henti jantung mendadak," tandasnya.

    Dikutip dari Mayo Clinic, beberapa faktor risiko hipertensi antara lain:

    • Terlalu banyak mengonsumsi garam: Kelebihan natrium atau garam dalam tubuh dapat menyebabkan retensi cairan yang meningkatkan tekanan darah. Diet tinggi garam, lemak, dan gula sering dilakukan oleh gen Z, seperti yang dikatakan dr Berlian. Padahal hipertensi bisa berdampak pada jantung.
    • Stres: Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah sementara. Kebiasaan yang sering menyertai stres, seperti makan berlebihan, merokok, atau minum alkohol, juga dapat meningkatkan tekanan darah lebih lanjut. Menurut survei Cigna International Health tahun 2023, gen Z muncul sebagai demografis yang paling stres di tempat kerja dan berjuang keras untuk mengatasinya.
    • Obesitas: Kelebihan berat badan menyebabkan perubahan pada pembuluh darah, ginjal, dan bagian tubuh lainnya serta sering kali meningkatkan tekanan darah. Dalam dua dekade terakhir, jumlah anak yang masuk kategori overweight hingga obesitas meningkat, remaja dengan rentang umur 13-18 tahun mengalami dua kondisi tersebut.
    • Kurang olahraga: Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Orang yang tidak aktif juga cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi. Seperti yang disebutkan dr Berlian, salah satu pola tidak sehat yang dilakukan anak muda adalah kurang gerak.
    • Riwayat keluarga: Seseorang lebih mungkin mengalami hipertensi jika memiliki orang tua atau saudara kandung yang mengalami kondisi tersebut.
    • Kadar kalium rendah: Kalium membantu menyeimbangkan jumlah garam dalam sel-sel tubuh. Keseimbangan kalium yang tepat penting untuk menjaga kesehatan jantung.

    Pentingnya Pemeriksaan Tekanan Darah

    dr Berlian mengingatkan bahwa pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan secara rutin. Tujuannya adalah menjaga tekanan darah tetap stabil dan mencegah hipertensi memicu penyakit lainnya.

    "Bila sudah didiagnosis hipertensi, pemeriksaan diperlukan untuk melihat dampaknya pada organ, terutama jantung dan ginjal," ujarnya.

    Tekanan darah normal berada di bawah 120/80 mmHg. Sementara itu, seseorang dikategorikan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya mencapai atau melebihi 140/90 mmHg.

    (elk/kna)

    Komentar
    Additional JS