0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Apa Saja Keuntungan yang Didapat Iran dari Kesepakatan Damai dengan AS? - Kompas

    8 min read

     

    Apa Saja Keuntungan yang Didapat Iran dari Kesepakatan Damai dengan AS?

    03:55

    KOMPAS.com - Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang serta potensi untuk dapat membuka kembali Selat Hormuz. 

    Kesepakatan tersebut juga membawa kedua negara kembali ke meja perundingan untuk membahas terkait program nuklir Iran.

    Dilansir dari Associated Press, Kamis (18/6/2026), berdasarkan teks perjanjian yang dibaca oleh pejabat AS, Iran mendapat keuntungan dari kesepakatan tersebut, berupa potensi untuk dapat kembali menjual minyaknya dengan bebas.

    Selain pemasukan baru dari penjualan minyak, kedua pihak pada dasarnya kembali pada posisi yang sama seperti 3,5 bulan lalu sebelum Israel dan AS menyerang Iran pada 28 Februari 2026.

    Baca juga: Meski Sudah Teken MoU, Intelijen AS Nilai Iran Tetap Bisa Lumpuhkan Selat Hormuz Kapan Saja

    Selat Hormuz akan dibuka

    Perjanjian kesepakatan antara AS dan Iran telah ditandatangani pada Rabu (17/6/2026) malam waktu setempat.

    Meski nota kesepahaman telah resmi berlaku, baik Washington maupun Teheran memastikan agenda pertemuan lanjutan di Swiss pada Jumat (19/6/2026) tetap akan dilaksanakan.

    Baca juga: Kesepakatan AS-Iran Disebut Hampir Rampung, Selat Hormuz Akan Dibuka?

    Dalam kesepakatan disebutkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dan AS menyebut akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. 

    Langkah tersebut diperkirakan akan berdampak pada penurunan harga bahan bakar.

    Menurut pejabat AS, kapal-kapal dapat melintasi jalur pelayaran tanpa biaya selama 60 hari.  Namun, mereka mengatakan tidak menutup kemungkinan akan kembali diberlakukan biaya di masa mendatang.

    Baca juga: Trump Umumkan Damai dengan Iran, Teheran Sebut Negosiasi Belum Tuntas

    Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, meskipun Trump bersikeras Selat Hormuz terbuka lebar untuk melintas, para pejabat Iran menegaskan setiap transit melalui selat tetap harus dikoordinasikan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

    Mereka mengatakan untuk kapal-kapal tetap mengikuti rute yang dekat dengan garis pantai Iran.

    Operator pelayaran kapal saat ini diketahui masih waspada terhadap permusuhan yang dapat kembali meletus kapan saja.

    Pertukaran rudal dan drone bersenjata di Teluk dalam beberapa pekan terakhir telah meningkatkan kekhawatiran keamanan di Selat Hormuz.

    Baca juga: Grok Milik Elon Musk Dipakai dalam Serangan ke Iran, Begini Pengakuan AS

    Iran disebut dapat jual minyak dengan bebas

    Kesepakatan antara AS dan Iran secara langsung menangguhkan sanksi yang diberlakukan Trump terhadap ekspor minyak Iran. Iran dapat kembali menjual minyak mentahnya di pasar global.

    Tahun lalu, Iran diperkirakan memperoleh pendapatan sekitar 45 miliar dollar AS (sekitar Rp 800 miliar per kurs hari Kamis, 18/6/2026) dari penjualan minyak. 

    Iran diketahui hanya memiliki satu pembeli utama, China, dan harus menggunakan armada tanker bayangan untuk menghindari sanksi yang mengurangi keuntungan mereka.

    Sementara itu, sejak blokade diberlakukan pada April, ekspor minyak Iran nyaris terhenti.

    Dengan penangguhan sanksi, Iran diperkirakan dapat memperoleh lebih banyak pelanggan dan menjual minyaknya dengan harga pasar yang lebih tinggi.

    Baca juga: Trump Bantah AS Akan Gelontorkan Dana ke Iran sebagai Bagian dari Kesepakatan Damai

    Potensi pencabutan seluruh sanksi internasional Iran

    Rancangan perjanjian mencakup ketentuan mengenai uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran. 

    Berdasarkan isi kesepakatan, uranium setidaknya harus diturunkan tingkat pengayaannya di lokasi penyimpanan.

    Namun, rincian lebih lanjut mengenai program nuklir Iran masih akan dibahas dalam negosiasi berikutnya.

    Baca juga: Amerika Sepakat Damai dengan Iran, Selat Hormuz Siap Dibuka

    Pada 2018, Presiden AS Donald Trump menarik negaranya dari perjanjian nuklir dengan Iran karena menilai kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan Teheran secara ekonomi.

    Namun, pada rancangan kesepakatan terbaru justru menawarkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Iran.

    Salah satu keuntungan yang dijanjikan adalah peluang pencabutan seluruh sanksi internasional terhadap Iran. Jika terwujud, langkah ini akan melampaui perjanjian nuklir tahun 2015.

    Baca juga: Begini Sikap Kelompok Garis Keras Iran soal Kesepakatan dengan AS

    Dana rekonstruksi 300 miliar dollar AS untuk Iran

    Kesepakatan tersebut juga menjanjikan pembentukan dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dollar AS (sekitar Rp 5,3 kuadriliun) untuk memperbaiki kerusakan akibat perang di Iran.

    Salah satu pejabat AS mengatakan perjanjian tersebut tidak mewajibkan AS menyumbang dana ke dalam skema itu, tetapi mengizinkan negara lain, termasuk negara-negara Arab Teluk, untuk memberikan kontribusi.

    Sebagai perbandingan, Bank Dunia memperkirakan Suriah membutuhkan sekitar 215 miliar dollar AS untuk membangun kembali negaranya setelah 13 tahun perang saudara. 

    Sementara Jalur Gaza diperkirakan membutuhkan sekitar 53 miliar dollar AS setelah dua tahun perang dengan Israel.

    Perjanjian tersebut juga menjanjikan pencairan kembali aset-aset Iran bernilai miliaran dollar yang selama ini dibekukan di luar negeri, melalui mekanisme yang akan dirundingkan kedua pihak.

    Baca juga: [POPULER TREN] Rincian 12 Poin Perjanjian Damai AS-Iran | Dampak Pertalite Dicampur Pertamax

    Program rudal Iran tak masuk pembahasan

    Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan tujuan perang adalah menghancurkan arsenal rudal Iran, memutus dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan, melumpuhkan angkatan laut Iran, serta memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir.

    Selama tujuh minggu pengeboman oleh AS dan Israel, kemampuan militer Iran diyakini mengalami kerusakan besar, termasuk fasilitas produksi rudal.

    Namun, tingkat kerusakannya belum diketahui secara pasti, dan Iran masih mampu melancarkan serangan ke Israel hingga pekan lalu.

    Hubungan Iran dengan kelompok-kelompok sekutunya seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak juga tampaknya tetap kuat.

    Meski demikian, baik isu rudal maupun dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok tersebut tidak termasuk dalam agenda negosiasi mendatang. Kesepakatan sementara hanya menyebut bahwa pembicaraan akan berfokus pada program nuklir Iran.

    Baca juga: Trump Bantah AS Akan Gelontorkan Dana ke Iran sebagai Bagian dari Kesepakatan Damai

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS