Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Chatib Basri Featured Keuangan Menteri Keuangan Spesial

    Chatib Basri Soroti Tiga Opsi Menteri Keuangan dalam Mengelola Fiskal - asatu

    7 min read

     

    Chatib Basri Soroti Tiga Opsi Menteri Keuangan dalam Mengelola Fiskal


    Arya Pratama Author

    Komisaris Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Menteri Keuangan (2013/204), M. Chatib Basri di Mandiri Investment Forum 2023. (Youtube 12thMIF2023)

    Smallest Font

    Largest Font

    Mantan Menteri Keuangan sekaligus Ekonom Senior Chatib Basri memaparkan tiga langkah utama yang dimiliki Menteri Keuangan dalam mengelola kebijakan fiskal negara saat menghadiri Grab Business Forum di Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

    Opsi penanganan anggaran negara tersebut mencakup peningkatan pendapatan, pemotongan belanja belanja publik, serta penarikan pinjaman baru jika kondisi keuangan negara mulai tertekan, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

    "Karena tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang. Dia hanya punya opsi 3. Naikkan, potong, pinjem. Itu hanya 3 itu," kata Chatib Basri.

    Menurut penjelasan Chatib, ketika instrumen pendapatan tidak dapat digenjot, opsi rasional berikutnya adalah melakukan penghematan anggaran, dan langkah terakhir adalah mengajukan pinjaman.

    "Kalau Anda nggak bisa naikkan, Anda harus potong. Kalau Anda nggak bisa potong, Anda harus pinjem. As simple as that," kata Chatib Basri.

    Ia menilai dalam situasi perekonomian saat ini, sektor pajak idealnya dinaikkan karena biaya penarikan pinjaman internasional sudah tergolong sangat mahal, sehingga pemerintah perlu memangkas belanja secara selektif atau menerapkan kombinasi pendapatan.

    Meskipun demikian, Chatib melihat bahwa kondisi perekonomian domestik pada dasarnya tidak seburuk kekhawatiran masyarakat luas karena pelemahan dipicu oleh sentimen global.

    "Yang menarik adalah, situasi di domestik itu nggak seburuk yang dibayangkan. Mungkin bapak/ibu banyak yang tidak setuju sama saya. Kenapa? Karena kalau dilihat, di kuartal pertama, household consumptionnya itu masih lumayan," kata Chatib Basri.

    Indikator positif ini terlihat dari pertumbuhan konsumsi masyarakat pada kuartal pertama yang didorong oleh momentum Lebaran serta kontribusi belanja pemerintah sebesar 20 persen hingga 22 persen yang menyokong pertumbuhan ekonomi.

    Kendati demikian, Chatib mengingatkan bahwa porsi pengeluaran negara tidak bisa terus dipertahankan di level tinggi tanpa diimbangi oleh peningkatan rasio perpajakan yang sepadan.

    "Pertanyaannya adalah, bisakah government spending ini akan terus setinggi ini ke depan? Karena growth-nya itu 35% spending dari government. Sementara tax revenue-nya, itu kalau kita lihat, dia tumbuh di sekitar 18%, sementara spending-nya 34%," kata Chatib Basri.

    Ketimpangan antara laju belanja negara yang mencapai 34 persen dengan pertumbuhan penerimaan pajak yang hanya berkisar 18 persen memicu kekhawatiran terjadinya perlambatan setoran pajak pada kuartal III dan IV.

    Situasi tersebut berpotensi memaksa pemerintah untuk mengerem belanja demi menjaga agar defisit APBN tidak melewati ambang batas aman yang ditetapkan undang-undang.

    "Mau nggak mau, itu spending-nya juga akan slowdown. Kalau nggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3%. Inilah yang menimbulkan anxiety dari orang, dari investor," sebut Chatib Basri.

    Editors Team

    Daisy Floren

    Daisy Floren

    • Like

      0

      Like

    • Dislike

      0

      Dislike

    • Funny

      0

      Funny

    • Angry

      0

      Angry

    • Sad

      0

      Sad

    • Wow

      0

      Wow

    Komentar
    Additional JS