Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Dimsum Featured Juara Kuliner Spesial

    Dari Keresahan Lidah Anak Menjadi Juaranya Dimsum Rumahan, Kisah DoAr Dimsum Naik Kelas Bersama BRI - Tribunnews

    22 min read

     

    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sayup-sayup suara deru mesin kendaraan di kawasan Palmerah dan Slipi, Jakarta Barat, perlahan meredup berganti kesunyian saat memasuki sebuah gang di daerah Kemanggisan. 

    Di Jalan H. Junaidi, berdiri tiga rumah sederhana yang posisinya berderet lurus tepat di belakang sebuah rumah utama. 

    Di rumah yang terletak paling pojok, di sanalah aktivitas padat penuh kehangatan dimulai sejak fajar menyingsing.

    Aroma gurih yang memikat—perpaduan antara minyak wijen, daging ayam segar, dan rempah-rempah pilihan—langsung menyeruak menyambut siapa saja yang melangkahkan kaki ke area pekarangan rumah tersebut. 

    Di dalam bangunan sederhana itu, terdapat sebuah dapur yang tidak biasa. Dapur tersebut telah dirombak total secara higienis, bersih, dan tertata rapi sedemikian rupa demi memenuhi standar ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.

    Di tempat inilah, seorang wanita paruh baya bernama Ariwiyanti (52) bersama keluarganya merajut mimpi besar melalui bendera usaha kuliner lokal bernama DoAr Dimsum.

    Saat Tribunnews tiba untuk wawancara, Ariwiyanti—atau yang akrab disapa Ari—menyambut dengan senyum khasnya yang hangat. 

    Di atas meja ruang tamu, ia telah menata rapi dua piring anyaman bambu berisi berbagai jenis dimsum yang mengepulkan asap tipis nan wangi. 

    Bukan hanya itu, ia juga menyuguhkan aneka menu inovasi orisinalnya seperti lumpia kulit tahu, spring roll, hingga spicy chicken samosa.

    "Silakan dicicipi dulu hangat-hangat," ujar wanita asal Lumajang, Jawa Timur tersebut dengan nada bicara yang ramah bertutur.

    Saat suapan pertama mendarat di lidah, kelembutan kulit pembungkus berpadu sempurna dengan isian daging ayam yang padat, gurih, dan sangat juicy, dengan berbagai variasi toping seperti wortel, smokedbeef, jamur, dan crabstik. 

    Tidak ada rasa tepung yang dominan; yang ada hanyalah sensasi kemewahan rasa khas hidangan restoran papan atas.

    Kualitas premium ini turut diakui oleh Willem, seorang karyawan swasta asal Palmerah yang kebetulan berkesempatan mencoba langsung hidangan DoAr Dimsum. 

    "Top banget rasanya. Ini persis seperti dimsum yang biasa disajikan di hotel bintang lima. Tekstur dagingnya terasa sekali dan bumbunya pas. Sangat recommended untuk dijadikan menu cemilan kalau kita sedang mengadakan acara-acara formal di kantor," puji Willem dengan antusias.

    Namun, di balik kelezatan sekelas hotel bintang lima tersebut, tersimpan sebuah cerita perjuangan panjang yang sarat akan lika-liku, air mata, kejutan pandemi, hingga momentum kebangkitan berkat sentuhan program pemberdayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).

    Ariwiyanti menunjukkan dapurnya yang sudah direnovasi tempat sehari-hari ia mengolah DoAr Dimsum. Dapur itu dibuat terpisah dari rumahnya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat.
    Ariwiyanti menunjukkan dapurnya yang sudah direnovasi tempat sehari-hari ia mengolah DoAr Dimsum. Dapur itu dibuat terpisah dari rumahnya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

    Berawal dari Keresahan Lidah Sang Buah Hati

    Nostalgia membawa ingatan Ari kembali ke medio Februari 2018. Pada masa itu, jajanan dimsum belum menjamur di setiap sudut jalan seperti sekarang. 

    Dimsum kala itu masih dianggap sebagai makanan mewah yang memiliki gengsi tersendiri. Masalahnya, anak-anak Ariwiyanti adalah penggemar berat kuliner asal Tiongkok ini.

    "Tahun 2018 itu kalau mau cari dimsum yang rasanya benar-benar enak, kita harus pergi ke restoran-restoran besar yang ada di dalam mal. Tapi kan kalau sering-sering makan di sana, harganya mahal sekali ya, menguras kantong," kenang Ari membuka cerita.

    Ia sempat mencoba membeli dimsum yang dijajakan di beberapa lapak pinggir jalan demi menuruti keinginan anak-anaknya. 

    Namun, kualitas rasa sering kali berujung pada kekecewaan. Anak-anaknya yang memiliki lidah sensitif sering melayangkan protes. 

    "Kayaknya yang ini kurang enak deh, Ma," tiru Ari mengingat ucapan buah hatinya.

    Berangkat dari keresahan itulah, sebuah ide besar muncul. Kebetulan, sang suami yang bernama Dodi memiliki latar belakang profesi sebagai seorang chef. 

    Dodi pernah bertahun-tahun bekerja di dapur sebuah hotel terkemuka, dan kini aktif mengelola katering makanan sehat (healthy food).

    Melihat keresahan sang istri, Dodi melayangkan sebuah tantangan: "Kamu mau kalau kita bikin dimsum sendiri? Ayo coba deh." 

    Kebetulan, Ari yang hanya lulusan SMA dan tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang kuliner ini, memang memiliki hobi memasak masakan Nusantara, seperti rawon, soto, hingga rujak cingur. 

    Ia bahkan pernah nekat mengikuti kompetisi memasak di salah satu stasiun televisi nasional, meski harus gugur di tahap seleksi awal. 

    "Mungkin waktu itu karena follower saya di media sosial masih kurang banyak," candanya sembari tertawa lepas.

    Tantangan sang suami pun disambut baik. Pasalnya, saat itu Ari tengah merasa jenuh dengan bisnis kerajinan tangan (craft) kain kanvas yang ia rintis selama dua tahun. 

    Meski produknya berupa tas pisau handmade bekerja sama dengan sekolah memasak dan tote bag terbilang awet, namun perputaran modalnya berjalan sangat lambat. 

    "Kain kanvas kan awet, jadi orang tidak mungkin beli tas setiap bulan. Ditambah lagi, kadang orang kurang menghargai nilai dari sebuah karya handmade. Karena perputaran uangnya lama, saya pikir kalau kami tidak menyatukan passion dalam satu bidang usaha yang sama, nanti kalau sudah tua bagaimana? Masa usahanya sendiri-sendiri," urai Ari.

    Keputusan besar pun diambil. Bisnis kerajinan kain kanvas dihentikan total karena tidak mungkin mencampur dapur makanan dengan debu konveksi. 

    Ari dan suaminya mulai fokus melakukan proses Research and Development (R&D) untuk menciptakan formula dimsum terbaik. 

    Prosesnya tidak mudah. Mereka berkali-kali menemui kegagalan, mulai dari adonan yang keasinan hingga tekstur yang terlalu lembek.

    Setiap kali sampel baru selesai dibuat, anak-anak mereka diposisikan sebagai juri utama. 

    "Anak-anak itu lidahnya tidak bisa bohong. Sampai suatu hari mereka bilang, 'Oh iya Ma, ini enak sekali. Rasanya persis seperti makan di restoran mal tempat kita makan kemarin,'" kata Ari menirukan respon anaknya.

    Optimisme Ari kian membubung tinggi ketika seorang rekannya yang bekerja sebagai tim pemasaran apartemen di Bekasi memesan dimsum buatannya untuk disajikan kepada konsumen yang mayoritas warga keturunan Tionghoa. 

    Responnya luar biasa positif. Mereka memuji rasa DoAr Dimsum yang dinilai sangat autentik.

    Produk DoAr Dimsum yang siap santap. Di segmen ritel, varian ready to eat (siap santap) menjadi produk paling laris manis di area Jakarta Barat, Senen, hingga Benhil karena kepraktisannya.
    Produk DoAr Dimsum yang siap santap. Di segmen ritel, varian ready to eat (siap santap) menjadi produk paling laris manis di area Jakarta Barat, Senen, hingga Benhil karena kepraktisannya. (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

    Hantaman Pandemi dan Berkah Tersembunyi di Dalam Rumah

    Melihat potensi pasar yang besar, pada tahun 2019, Ariwiyanti memberanikan diri mengepakkan sayap bisnisnya dengan membuka dua gerobak/kios pinggir jalan di kawasan strategis depan kampus Binus (Bina Nusantara) Kemanggisan. 

    Target pasarnya sangat jelas: para mahasiswa yang gemar jajan. Usaha tersebut mulai berjalan stabil dan menjanjikan.

    Namun, roda kehidupan berputar cepat. Pada akhir tahun 2019, badai pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. 

    Kebijakan pembatasan sosial berskala besar memaksa aktivitas perkuliahan dialihkan secara daring (online). 

    Kampus Binus sepi seketika, mahasiswa pulang ke kampung halaman masing-masing, dan dua gerobak milik Ari pun kolaps berujung gulung tikar.

    Di saat yang bersamaan, pil pahit kembali harus ditelan keluarga ini. Hotel tempat suaminya bekerja mengalami krisis hebat akibat hantaman pandemi, membuat Dodi terpaksa dirumahkan tanpa menerima gaji penuh. 

    Di tengah situasi terjepit tersebut, Ari menolak untuk menyerah pada keadaan. "Kami tidak boleh berhenti begitu saja. Akhirnya, kami putuskan memindahkan seluruh titik penjualan ke rumah ini. Kami ubah strategi dengan menambah varian menu baru seperti bakmi," kenang Ari.

    Siapa yang menyangka, keputusan darurat tersebut justru mendatangkan berkah tersembunyi (blessing in disguise) yang teramat besar. 

    Di kala mobilitas manusia dibatasi, lini penjualan daring melalui aplikasi transportasi seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood justru meledak dahsyat. 

    Momentum tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh Ari, didukung oleh maraknya fenomena "bakar uang" promosi dari penyedia aplikasi yang menanggung subsidi diskon dan gratis ongkir bagi pelanggan.

    "Operasional di rumah dibantu oleh kedua anak saya yang saat itu juga sedang kuliah dan sekolah daring. Kami menerapkan protokol steril yang sangat ketat di depan gang. Aplikasi di ponsel itu rasanya berbunyi terus tanpa henti setiap hari," kata Ari.

    Pada masa-masa sulit pandemi tersebut, omzet penjualan DoAr Dimsum dari dalam rumah justru meroket tajam menyentuh angka Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari. 

    Dalam sebulan, omzetnya konsisten berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp35 juta. Dengan margin keuntungan bisnis makanan yang mencapai 50 persen, Ari mampu meraup keuntungan bersih sekitar Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan tanpa perlu memikirkan biaya sewa tempat di pinggir jalan.

    Dari keuntungan bersih melimpah selama pandemi itulah, keluarga kecil ini perlahan mampu membeli berbagai peralatan dapur standar industri, membiayai renovasi, hingga mencicil sebuah mobil operasional bekas demi kelancaran usaha.

    Boks DoAr Dimsum. Produk DoAr Disum ini dijual seharga Rp25 ribu untuk isi 5 pieces, dan Rp35 ribu untuk isi 10 pieces. Sedangkan varian frozen food isi 10 butir dijual seharga Rp40.000 (sudah termasuk saus cabai khas).
    Boks DoAr Dimsum. Produk DoAr Disum ini dijual seharga Rp25 ribu untuk isi 5 pieces, dan Rp35 ribu untuk isi 10 pieces. Sedangkan varian frozen food isi 10 butir dijual seharga Rp40.000 (sudah termasuk saus cabai khas). (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

    Menembus Batas Bersama BRInkubator Rumah BUMN BRI

    Seiring berjalannya waktu, pandemi Covid-19 mulai mereda dan kehidupan perlahan kembali normal. Kampus-kampus dibuka kembali, namun peta persaingan bisnis kuliner telah berubah total. 

    Penjual dimsum mulai menjamur di setiap sudut kota, dan suami Ari pun telah kembali bekerja penuh di katering kepingan fungsionalnya. 

    Imbasnya, omzet penjualan DoAr Dimsum di rumah mulai menyusut dan mengalami penurunan ke angka Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan.

    Ari menyadari bahwa ia tidak bisa lagi sekadar mengandalkan cara-cara lama yang konvensional di era digitalisasi yang kian kompleks. 

    Payung usaha yang ia ikuti sejak 2019 melalui Jakpreneur dirasa perlu diperluas jaringannya. 

    Titik balik itu pun tiba saat Ari berselancar di media sosial Instagram dan menemukan akun resmi Rumah BUMN BRI.

    Tertarik dengan program yang ditawarkan, Ari resmi bergabung sebagai anggota binaan Rumah BUMN BRI Jakarta pada medio 2021 hingga 2022. 

    "Saya masuk ikut pelatihannya. Alhamdulillah, para pendamping di Rumah BUMN BRI sangat welcome. Mereka mendidik kami dengan hati. Terjadi hubungan timbal balik yang positif; bukan cuma kami yang butuh ilmu, tapi mereka juga punya komitmen tinggi untuk memajukan kami," ungkap Ari.

    Puncak lompatan kelas DoAr Dimsum terjadi pada tahun 2023, ketika Ari terpilih untuk masuk ke dalam program BRInkubator. 

    Program ini merupakan salah satu pilar unggulan dari komitmen pemberdayaan Rumah BUMN BRI.

    Koordinator Rumah BUMN BRI Jakarta, Jajang Rohmana, menjelaskan bahwa institusinya saat ini telah menaungi dan membina sedikitnya 11.000 pelaku UMKM di wilayah Jabodetabek dan Banten. 

    Melalui model pendampingan dari hulu ke hilir yang terstruktur, Rumah BUMN BRI diposisikan sebagai wadah inkubator produktif untuk mencetak pengusaha lokal agar siap menembus pasar global.

    "Kunci dari akselerasi kelas UMKM ini terletak pada program bernama BRInkubator. Berbeda dengan pelatihan biasa yang sifatnya sporadis atau sekali selesai, BRInkubator adalah program inkubasi berkelanjutan selama satu hingga dua bulan dengan kurikulum berjenjang. Kami memberikan pelatihan secara kontinu, dari tingkat paling dasar hingga materi tingkat lanjut seperti kesiapan ekspor dan digitalisasi secara mendalam," urai Jajang Rohmana.

    Sistem seleksi untuk masuk ke BRInkubator pun tergolong sangat ketat melalui metode open call terbuka, yang kemudian disaring ketat lewat proses kurasi demi melihat komitmen nyata dari para pelaku usaha.

    Bagi Ari, materi-materi di BRInkubator membuka cakrawala baru yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. 

    "Kami diajarkan public speaking, literasi keuangan, cara menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan akurat agar harga tetap stabil meski bahan baku naik, hingga pemahaman tentang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta strategi menjadi content creator," papar Ari. 

    BRI bahkan memfasilitasi Ari untuk menimba ilmu langsung dari para dosen pakar di kampus MNC University secara cuma-cuma.

    Jajang Rohmana menambahkan, Rumah BUMN BRI sangat memahami tantangan terbesar pelaku usaha mikro, di mana kehadiran di kelas pelatihan berhari-hari berisiko menyita waktu produksi yang berpotensi menurunkan omzet harian mereka. 

    "Karena itu, sebagai solusi penyeimbang, goal utama kami adalah membawa mereka langsung ke pameran-pameran dagang strategis, baik skala lokal, nasional, hingga internasional seperti Trade Expo," tegas Jajang.

    Langkah konkret tersebut dirasakan langsung manfaatnya oleh Ariwiyanti. 

    Berkat statusnya sebagai salah satu lulusan terbaik BRInkubator, DoAr Dimsum berkali-kali dilibatkan dalam pameran-pameran spektakuler secara gratis tanpa biaya sepeser pun.

    Ari pernah diajak memamerkan produknya di ajang bergengsi Piala Presiden di Gelora Bung Karno (GBK). Di sana, ia mendapatkan momentum emas diwawancarai langsung oleh Menteri Perumahan Rakyat. 

    Tidak berhenti di situ, DoAr Dimsum juga ikut serta dalam festival musik populer "Koplo Keliling" (Kopling) selama dua hari di Kemayoran dan Cibinong, serta pameran Gerakan Nasional (Gernas) Bangga Buatan Indonesia yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI) di Kota Tua Jakarta. 

    "BRI itu luar biasa. Saya yang awalnya cuma ingin cari ilmu dan jaringan, malah diberi bonus fasilitas pameran besar yang menaikkan citra merek kami," tutur Ari sumringah.

    Infografis: Profil usaha Doar Dimsum, dari hobi menjadi bisnis beromzet puluhan juta.
    Infografis: Profil usaha Doar Dimsum, dari hobi menjadi bisnis beromzet puluhan juta. (Tribunnews.com/NotebookLM)

    Suntikan Permodalan KUR

    Selain transformasi ilmu manajerial dan perluasan akses pasar, Rumah BUMN BRI juga menjadi jembatan bagi Ariwiyanti untuk menyelesaikan masalah klasik UMKM: akses permodalan. 

    Statusnya sebagai anggota aktif Rumah BUMN mempermudah pengurusan Nomor Izin Berusaha (NIB) sebagai syarat mutlak legalitas usaha.

    Berbekal NIB tersebut, Ari memberanikan diri mengajukan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI

    Langkah permodalannya dimulai dari plafon kecil di kantor cabang pembantu terdekat guna memudahkan kontrol berkala, bukan langsung di kantor pusat.

    "Saya ambil KUR mulai dari nominal kecil dulu, lalu setelah lunas kita top up (tambah plafon) lagi. Total saya sudah dua kali mengambil KUR BRI, dan yang terakhir plafonnya naik hingga Rp65 juta," ungkap Ari.

    Dana KUR gelombang pertama sebesar Rp15 juta sepenuhnya dialokasikan Ari untuk merombak total area dapur kontrakan pojoknya agar memenuhi standar sanitasi dan higienis ketat yang disyaratkan oleh BPOM. 

    Berkat renovasi modal KUR itulah, DoAr Dimsum sukses mengantongi izin edar resmi MD BPOM untuk produk frozen food (makanan beku) mereka, di samping sertifikasi Halal resmi dari MUI yang sudah mereka miliki untuk seluruh varian produk.

    "Proses pengajuan KUR BRI itu gampang dan cepat sekali. Yang penting BI checking kita bersih dan omzet usaha nyata. Bunganya sangat rendah dan bersahabat karena memang disubsidi pemerintah khusus untuk UMKM. Kalau kita pakai pinjaman reguler bank biasa, bunganya besar sekali, kami tidak akan sanggup," kata Ari jujur.

    Adanya legalitas izin MD BPOM dan sertifikat halal menjadi senjata ampuh bagi DoAr Dimsum untuk memperluas jangkauan pasar secara masif. 

    Di segmen ritel, varian ready to eat (siap santap) menjadi produk paling laris manis di area Jakarta Barat, Senen, hingga Benhil karena kepraktisannya. 

    Produk siap santap ini dijual seharga Rp25 ribu untuk isi 5 pieces, dan Rp35 ribu untuk isi 10 pieces

    Sementara untuk varian frozen food isi 10 butir yang dijual seharga Rp40.000 (sudah termasuk saus cabai khas), pasarnya kini telah menembus batas kota hingga dikirim rutin ke Malang, Surabaya, bahkan terjauh hingga ke Makassar menggunakan ekspedisi kargo beku khusus.

    Tak hanya itu, lini bisnis DoAr Dimsum merambah ke sektor Business-to-Business (B2B). 

    Ari menjadi pemasok rutin produk maklon mentah beku (seperti lumpia kulit tahu dan spring roll) ke sebuah restoran terkenal di Depok dengan kuantitas mencapai lebih dari 1.000 pieces setiap bulannya. 

    Kualitasnya yang diakui juga membawa produk dapur kontrakan ini masuk sebagai hidangan wajib di katering-katering mitra yang menyuplai acara rapat kerja anggota DPR RI di Senayan, hingga kerja sama berkala untuk acara pernikahan (wedding event) di hotel-hotel besar dengan pesanan berkisar 1.000 hingga 2.000 pieces per acara.

    Baca juga: Kisah Inspiratif Findy: Lepas Seragam PNS, Sulap Daster Rumahan Mendunia Bersama BRI

    Komitmen Nyata BRI 

    Keberhasilan Ariwiyanti dalam mengembangkan skala usaha DoAr Dimsum dari dapur kontrakan kecil hingga menembus pasar luar pulau merupakan satu dari jutaan potret keberhasilan penyaluran fasilitas KUR yang dijalankan secara konsisten oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

    Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa selaku pilar penyalur KUR terbesar di skala nasional, BRI memegang komitmen penuh untuk memperkuat kontribusi nyata terhadap program Asta Cita ke-2 yang dicanangkan oleh Pemerintah, yakni mewujudkan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan serta penguatan sektor usaha mikro produktif.

    Komitmen tersebut dibuktikan lewat angka penyaluran yang sangat masif. 

    Berdasarkan data kinerja terbaru, dalam kurun waktu empat bulan pertama tahun 2026, BRI telah berhasil menyalurkan stimulus permodalan KUR dengan total nilai mencapai Rp65,95 triliun. 

    Fasilitas permodalan ini sukses didistribusikan kepada sekitar 1,3 juta debitur yang tersebar di seluruh pelosok wilayah Indonesia.

    "KUR merupakan instrumen pembiayaan strategis bagi BRI dalam mendukung penuh sektor usaha mikro dan sektor produktif lainnya. Mayoritas dari total penyaluran triliunan rupiah tersebut dialokasikan secara tajam ke sektor-sektor produksi utama yang meliputi pertanian, perikanan, serta industri pengolahan, dengan porsi kontribusi mencapai 66,47%," jelas Akhmad Purwakajaya dalam keterangan tertulisnya.

    Dari keseluruhan angka tersebut, sektor pertanian tampil sebagai kontributor paling dominan dengan nilai penyaluran menyentuh Rp27,95 triliun atau setara dengan 42,38%. 

    Di dalamnya, jangkauan pembiayaan dalam empat bulan pertama tahun 2026 ini telah berhasil menyentuh sedikitnya 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan di berbagai penjuru tanah air.


    Capaian ini tidak hanya menegaskan posisi dominan portofolio mikro perseroan, namun juga mempertegas peran aktif BRI dalam menyokong ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

    Lebih lanjut, Akhmad Purwakajaya memaparkan bahwa esensi utama dari penyaluran KUR oleh BRI tidak hanya berhenti pada pemberian fasilitas kredit semata, melainkan menitikberatkan pada proses pendampingan agar para pelaku usaha mampu berkembang naik kelas seiring meningkatnya akses modal. 

    Skala usaha yang meluas serta peningkatan kapasitas bisnis debitur menjadi indikator utama keberhasilan.

    Hal tersebut tecermin nyata dari pencapaian jumlah debitur KUR BRI yang tercatat sukses naik kelas, yakni mencapai 307 ribu debitur atau setara dengan 31,96?ri keseluruhan target tahunan yang dipatok di angka 962 ribu debitur.

    Di sisi lain, penetrasi jangkauan KUR BRI terhadap sektor rumah tangga di Indonesia juga memperlihatkan tren pertumbuhan yang sangat positif dan konsisten dari tahun ke tahun. 

    Berdasarkan data hingga April 2026, tercatat sekitar 19 dari setiap 100 rumah tangga di Indonesia telah aktif mengakses fasilitas KUR BRI

    Angka keikutsertaan ini menunjukkan tren kenaikan yang stabil jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni 18 rumah tangga pada tahun 2025 dan 17 rumah tangga pada tahun 2024.

    Kendati penyalurannya bergerak sangat agresif dan masif, Akhmad Purwakajaya memastikan bahwa BRI senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) yang sangat ketat dengan selalu mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. 

    "Hal ini menjadi aspek yang sangat krusial, mengingat dana KUR sepenuhnya bersumber dari likuiditas perbankan yang dihimpun dari tabungan masyarakat. Oleh karena itu, kualitas mutu kredit harus tetap terjaga dengan sangat baik," tegas Direktur Micro BRI tersebut.

    Baca juga: Kisah Ipeh Bangkit dari Badai PHK: Modal Rp134 Ribu Menembus Pasar Global bersama Rumah BUMN BRI

    Asa di Masa Depan

    Kembali ke sudut dapur rumahnya, Ariwiyanti membagikan pandangan serta tips berharga bagi generasi muda maupun masyarakat luas yang baru ingin atau sedang merintis usaha di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). 

    Menurutnya, sektor kuliner tetap menjadi primadona bisnis yang tidak ada matinya karena berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia sehari-hari.

    Namun, Ari memberikan catatan kritis berdasarkan pengalaman empirisnya selama bertahun-tahun. 

    "Kalau mau memulai bisnis kuliner, carilah produk yang tidak mengundang risiko kerugian besar akibat sisa makanan terbuang (waste). Usaha di bidang frozen food (makanan beku) adalah pilihan yang sangat bijak dan menjanjikan," sarannya bertutur.

    Menurut Ari, merintis usaha frozen food tidak menuntut modal awal yang sangat besar. Pelaku usaha pemula bisa memulainya hanya dengan bermodalkan satu unit mesin pembeku (freezer). 

    Bahan baku dasar seperti udang, ikan, ayam, atau olahan daging sapi bisa dikreasikan menjadi aneka produk menarik, misalnya bakso atau dimsum

    "Risiko kegagalannya kecil karena produk dalam kondisi beku bisa bertahan berbulan-bulan di dalam freezer. Berbeda jika kita nekat membuka warung makanan matang harian; jika hari itu tidak laku terjual, makanannya otomatis akan basi dan tidak bisa diolah lagi esok hari. Itu namanya gambling yang risikonya terlalu tinggi," imbuh Ari memberikan formula sukses.

    Meski saat ini operasional DoAr Dimsum masih berstatus usaha rumahan dengan bantuan satu orang karyawan lepas saat pesanan melonjak, mimpi dan asa Ariwiyanti tidak lantas ikut membeku di dalam mesin pendinginnya. 

    Didukung penuh oleh keahlian memasak sang suami, Ari menyimpan sebuah angan-angan besar teratur di masa depan.

    Ari memimpikan sebuah tempat komersial yang nyaman, bersih, dan estetik, di mana anak-anak muda dan keluarga bisa datang berkumpul, bersantai (nongkrong), dan pulang dengan perasaan bahagia karena lidah serta dompet mereka sama-sama dimanjakan.

    "Saya punya impian, suatu hari nanti kalau ada rezeki atau mendapatkan dukungan dana hibah—bukan investor sistem bagi hasil ya—saya ingin sekali membuka sebuah outlet fisik mandiri. Saya ingin menyajikan aneka menu makanan dengan kualitas rasa premium khas restoran mal berbintang, namun dikemas dengan harga yang sangat terjangkau oleh kantong masyarakat luas," ungkap Ari dengan binar mata penuh harap.

    Komentar
    Additional JS