0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Dolar Amerika Serikat Featured Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Spesial

    Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali - Tribunnews

    7 min read

     

    Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali

    Kompas.com/Rahel A-A+ PURBAYA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (5/2/2026). 
    Ringkasan Berita:
    • Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian luas pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat.
    • Kondisi ini dinilai sebagai salah satu tekanan eksternal yang cukup kuat di tengah dinamika global, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dunia dan gejolak harga komoditas.
    • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan skenario nilai tukar dalam perencanaan fiskal

    SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian luas pelaku pasar, ekonom, hingga masyarakat.

    Kondisi ini dinilai sebagai salah satu tekanan eksternal yang cukup kuat di tengah dinamika global, terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi dunia dan gejolak harga komoditas.

    Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan skenario nilai tukar dalam perencanaan fiskal, termasuk jika rupiah bergerak melewati asumsi awal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

    Masih Sesuai Perhitungan Fiskal

    Dalam keterangannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6), Purbaya menyebutkan bahwa meskipun asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 ditetapkan di level sekitar Rp16.500 per dolar AS, pemerintah telah menyiapkan simulasi jika terjadi pelemahan lebih lanjut.

    Menurutnya, posisi rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp18.000 masih berada dalam rentang perhitungan risiko fiskal yang telah dipetakan sebelumnya, sehingga belum menimbulkan gangguan signifikan terhadap stabilitas anggaran negara.

    Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.900 per Dollar AS, Cetak Rekor Terlemah di Tengah Gejolak Global

    Rekomendasi Untuk Anda

    Beban Utang Dinilai Tetap Terkendali

    Salah satu perhatian utama dari pelemahan rupiah adalah dampaknya terhadap pembayaran utang pemerintah yang memiliki denominasi dolar AS.

    Namun, Purbaya menjelaskan bahwa sebagian besar kewajiban tersebut berbentuk obligasi dengan kupon tetap (fixed rate), sehingga besaran bunga yang dibayarkan tidak berubah meskipun nilai tukar berfluktuasi.

    “Kuponnya fix. Jadi secara nominal dolar tidak berubah. Pembayaran utang lewat obligasi, dan kuponnya tetap,” ujarnya yang dikutip dari Kompas.tv.

    Dengan struktur tersebut, pemerintah menilai bahwa risiko utama dari pelemahan rupiah bukan pada kenaikan bunga utang dalam dolar, melainkan pada konversi nilai pembayaran ke dalam rupiah yang menjadi lebih besar ketika kurs melemah.

    Artinya, meskipun secara kontrak internasional pembayaran tetap, beban fiskal dalam rupiah dapat meningkat karena dibutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli dolar guna membayar kewajiban tersebut.

    Dampak terhadap APBN dan Subsidi

    Purbaya menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar tetap memiliki implikasi terhadap postur APBN, terutama pada pos belanja yang berkaitan dengan impor dan pembayaran utang luar negeri. Namun, pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario penyesuaian untuk menjaga defisit tetap dalam batas yang direncanakan.

    Selain itu, fluktuasi rupiah juga berpotensi mempengaruhi harga barang impor dan energi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kebutuhan subsidi dan kompensasi energi. Meski demikian, pemerintah menyatakan telah mengantisipasi risiko tersebut melalui mekanisme penyesuaian asumsi makro ekonomi.

    Dipengaruhi Faktor Global

    Lebih lanjut, pemerintah menjelaskan bahwa perubahan asumsi nilai tukar dalam APBN tidak terlepas dari dinamika global, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

    Lonjakan harga minyak tersebut turut memberikan tekanan tambahan pada neraca perdagangan dan stabilitas mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Dalam situasi seperti ini, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio yang berdampak pada aliran modal dan nilai tukar.

    Pemerintah Klaim Sudah Siapkan Skenario

    Meski menghadapi tekanan eksternal, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan fiskal tetap berada dalam jalur yang terukur.

    Berbagai skenario nilai tukar, harga minyak, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi telah disusun untuk memastikan APBN tetap adaptif terhadap kondisi global yang berubah cepat.

    Dengan demikian, meskipun rupiah sempat menembus level psikologis baru, pemerintah menyatakan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikelola tanpa mengganggu stabilitas fiskal secara keseluruhan.

    Komentar
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Menyiapkan Link & Penunjuk Waktu...
    Additional JS