Waspada Hantavirus, Pakar IPB Beri Tahu Cara Terbaik Menyapu Kotoran Tikus - Kompas
Waspada Hantavirus, Pakar IPB Beri Tahu Cara Terbaik Menyapu Kotoran Tikus
KOMPAS.com — Membersihkan kotoran tikus yang muncul di dalam rumah ternyata tak bisa asal disapu begitu saja. Karena kalau tidak berhati-hati, justru bisa menjadi awal munculnya wabah hantavirus.
Paparan partikel dari kotoran tikus yang mengering bisa meningkatkan risiko penularan penyakit ini. Sebab partikel kecilnya bisa terhirup ke saluran pernapasan.
Beberapa waktu lalu saja, wabah hantavirus menjadi penyebab kematian utama beberapa penumpang kapal pesiar yang bersandar di Belanda.
Supaya tak menjadi wabah dari dalam rumah, Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Upik Kesumawati, memberikan cara khusus bagaimana menyapu lantai yang ada kotoran tikusnya.
Sesumbar Menang dari Iran Pakai Cara Apapun, Trump: Kami Unggul Militer dan di Atas Kertas
Baca juga: Ramai Unggahan soal Jangan Beli Beras dalam Bungkus Karung Goni karena Tercemar Kotoran Tikus
Cara menyapu kotoran tikus di lantai yang benar
Umumnya kotoran tikus akan menimbulkan bau saat mengering. Kalau menemukan kotoran yang kering, jangan langsung disapu begitu saja atau dibersihkan dengan penyedot debu.
“Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup” jelasnya, dikutip dari laman IPB University pada Selasa, (2/6/2026).
Ia menuturkan manusia dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang sudah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Lihat Foto
Virus yang berterbangan ini bisa mengkontaminasi makanan yang ada di dalam rumah.
Sehingga cara yang benar untuk membersihkan lantai, yaitu membasahi terlebih dahulu area yang ada kotoran tikusnya menggunakan larutan disinfektan.
Baca juga: 4 ABK di Jakbar yang Berlayar ke Somalia Suspek Hantavirus
Jika sudah disemprot atau dibasahi pakai larutan disinfektan kotoran bisa dibersihkan dengan sapu atau dilap dengan tisu sekali buang.
Setelah menyapu lantai jangan lupa untuk segera mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.
Jangan lupa untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.
Baca juga: Pentingnya Periksakan Benjolan di Leher, Gejala Pembesaran Tiroid
Gejala awal terkena hantavirus
Upik menjelaskan bahwa hantavirus bukanlah wabah baru. Penyakit ini merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Di Indonesia sudah ada penelitian terkait virus ini sejak tahun 1980-an.
“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utama nya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,“ ujarnya
Kata Upik, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus memang tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi.
Baca juga: 3 Kasus Positif Hantavirus di Jakarta, Siapa Kelompok Paling Rentan Terinfeksi?
Hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Gejala awal terinfeksi hantavirus ini meliputi demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, badan lemas, sakit kepala, serta gangguan saluran pencernaan.
Pada kondisi lebih lanjut setelah 4–10 hari, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.
Baca juga: Benarkah Hujan-hujanan Bisa Menyebabkan Anak Sakit? Ini Kata Dokter...
Sementara pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.
Ia mengatakan kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5–15 persen.
Karena itu, ia meminta masyarakat bisa ikut mengendalikan populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penyebaran hantavirus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Mojtaba Waspada Perang Hibrida AS-Israel, Ini Pesannya untuk Warga Iran