Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Autoimun Berita Featured Kesehatan Spesial

    Mengapa Autoimun Lebih Banyak Menyerang Perempuan? Jawabannya Ternyata Ada di Dalam Tubuh - Viva

    6 min read

     


    ilustrasi pengidap autoimun.

    VIVA – Penyakit autoimun menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin banyak mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dari virus dan bakteri, justru menyerang sel serta jaringan tubuh sendiri. 

    Baca Juga

    Akibatnya, berbagai organ dapat mengalami peradangan dan kerusakan, mulai dari kulit, sendi, kelenjar tiroid, hingga organ dalam.

    Yang menarik, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Bahkan, para peneliti memperkirakan sekitar 80 persen kasus autoimun terjadi pada perempuan. 

    Baca Juga

    Fakta ini memunculkan pertanyaan besar, mengapa perempuan jauh lebih rentan mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki laki? Berikut penjelasan ilmiah yang telah ditemukan para peneliti, sebagaimana dihimpun Viva dari National Institutes Health, Jumat, 10 Juli 2026. 

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Autoimun?

    Baca Juga

    1. Sistem Imun Perempuan Lebih Aktif

    Salah satu alasan utama adalah karena sistem kekebalan tubuh perempuan secara alami bekerja lebih aktif dibandingkan laki laki. Respons imun yang lebih kuat membuat tubuh perempuan lebih efektif dalam melawan infeksi akibat virus maupun bakteri. 

    Namun, kelebihan tersebut juga memiliki sisi lain. Sistem imun yang terlalu aktif berisiko salah mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai ancaman sehingga memicu penyakit autoimun. Inilah sebabnya perempuan cenderung lebih rentan mengalami berbagai penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, penyakit Hashimoto, maupun sindrom Sjögren.

    2. Hormon Estrogen Diduga Memengaruhi Sistem Kekebalan Tubuh

    Peran hormon juga menjadi salah satu faktor yang banyak diteliti. Hormon estrogen diketahui mampu memengaruhi aktivitas berbagai sel dalam sistem kekebalan tubuh. Selama masa pubertas, kehamilan, hingga menopause, kadar hormon perempuan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Perubahan inilah yang diduga dapat memicu munculnya gejala autoimun atau memperburuk penyakit yang sudah ada.

    Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa hormon bukanlah satu satunya penyebab. Hingga saat ini, hubungan antara estrogen dan penyakit autoimun masih terus dipelajari.

    3. Perempuan Memiliki Dua Kromosom X

    Perbedaan genetik juga diduga menjadi salah satu penyebab tingginya angka autoimun pada perempuan. Perempuan memiliki dua kromosom X, sedangkan laki laki hanya memiliki satu kromosom X. Selama bertahun tahun, para ilmuwan menduga bahwa kromosom X berperan dalam meningkatkan risiko penyakit autoimun, tetapi mekanismenya belum benar-benar dipahami.

    Penelitian terbaru memberikan petunjuk baru mengenai hal tersebut. Para peneliti menemukan bahwa molekul RNA bernama Xist, yang bertugas menonaktifkan salah satu kromosom X pada perempuan, ternyata dapat membentuk kumpulan protein tertentu. Dalam kondisi tertentu, kumpulan protein tersebut diduga dapat dikenali secara keliru oleh sistem kekebalan tubuh sehingga memicu reaksi autoimun.

    Temuan ini menjadi salah satu penjelasan biologis paling kuat mengapa perempuan lebih sering mengalami penyakit autoimun.

    4. Faktor Genetik dan Lingkungan Berperan Bersama

    Penyakit autoimun tidak hanya dipengaruhi oleh jenis kelamin. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit autoimun diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, faktor genetik saja biasanya tidak cukup untuk memicu penyakit.

    Berbagai faktor lingkungan juga diduga ikut berperan, seperti infeksi virus tertentu, kebiasaan merokok, paparan polusi, hingga stres berkepanjangan. Kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan inilah yang diyakini menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun pada orang yang memiliki kerentanan.

    Apakah Semua Penyakit Autoimun Lebih Banyak Menyerang Perempuan?

    Jawabannya tidak. Meskipun sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, tidak semua jenis penyakit autoimun memiliki pola yang sama. Beberapa penyakit autoimun justru lebih sering ditemukan pada laki laki atau memiliki jumlah kasus yang relatif seimbang.

    Artinya, angka 80 persen merupakan gambaran keseluruhan dari berbagai jenis penyakit autoimun, bukan berlaku untuk setiap penyakit secara individual.

    Penyakit Autoimun yang Lebih Sering Terjadi pada Perempuan

    Beberapa penyakit autoimun diketahui memiliki angka kejadian yang jauh lebih tinggi pada perempuan, antara lain:

    - Lupus
    - Rheumatoid arthritis
    - Penyakit Hashimoto
    - Penyakit Graves
    - Sindrom Sjögren
    - Skleroderma
    - Multiple sclerosis

    Masing-masing penyakit memiliki gejala yang berbeda tergantung organ yang diserang. Ada yang menyebabkan nyeri sendi, ruam kulit, gangguan tiroid, mata dan mulut kering, hingga gangguan saraf.

    Bisakah Penyakit Autoimun Dicegah?

    Hingga saat ini belum ada cara yang dapat mencegah penyakit autoimun secara pasti karena penyebabnya sangat kompleks dan melibatkan faktor genetik maupun biologis. Namun, menjaga gaya hidup sehat tetap penting untuk mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh. Menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta rutin berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan.

    Jika Anda mengalami gejala yang menetap, seperti mudah lelah tanpa sebab, nyeri sendi berkepanjangan, ruam kulit, atau gangguan pada organ tertentu, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu mengendalikan penyakit autoimun serta mencegah komplikasi yang lebih serius.

    Presiden Prabowo Subianto

    Prabowo: Negara Butuh Uang Buat Bayar Gaji Guru hingga Beri Layanan Kesehatan dengan Baik

    Prabowo menegaskan proyek strategis dinilai menjadi instrumen penting menambah penerimaan negara, seperti untuk membayar gaji guru hingga beri pelayanan yang baik.

    img_title

    VIVA.co.id

    16 Juli 2026

    Komentar
    Additional JS