Pemanis Buatan Berpotensi Ganggu Metabolisme dan Kesehatan Usus - Media Indonesia
PENELITIAN terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Current Atherosclerosis Reports mengungkapkan bahwa pemanis buatan atau pemanis nonkalori mungkin memengaruhi tubuh dengan cara yang tidak terduga. Bukti baru menunjukkan ada keterkaitan antara konsumsi pemanis tersebut dengan perubahan metabolisme dan kesehatan usus.
Para peneliti dari Food is Medicine Institute di Tufts University melakukan tinjauan terhadap 21 uji klinis acak pada orang dewasa dan melakukan meta-analisis untuk menilai dampak pemanis nonnutrisi terhadap kesehatan kardiometabolik. Studi ini mencakup berbagai jenis pemanis rendah kalori yang umum ditemukan dalam minuman diet, permen karet bebas gula, hingga protein bar.
"Hal yang membuat analisis kami menonjol adalah dengan berfokus pada pembanding nonkalori, kami dapat mengisolasi efek fisiologis langsung dari pemanis itu sendiri, bukan karena kalori yang mereka gantikan," ujar Meng Wang, asisten profesor riset di institut tersebut sekaligus penulis utama studi.
Dampak pada Insulin dan Gula Darah
Temuan ini menantang asumsi lama bahwa pemanis buatan bersifat metabolik inert alias hanya melewati tubuh tanpa memengaruhi proses biologis. Ketika dibandingkan dengan kontrol nonkalori seperti air atau plasebo, konsumsi pemanis dikaitkan dengan kadar insulin puasa yang lebih tinggi dan peningkatan HbA1c, yang merupakan penanda kontrol gula darah jangka panjang. Analisis tersebut juga menemukan tren memburuknya sensitivitas insulin.
Bryan Quoc Le, seorang ilmuwan pangan dan penulis buku 150 Food Science Questions Answered, memberikan catatan penting. Meski ada temuan ini, manfaat dari pengurangan asupan gula tetap tidak boleh diabaikan. "Kita tahu bahwa konsumsi gula tinggi dalam jangka panjang menyebabkan banyak kondisi kronis, sehingga manfaat mengganti gula sudah diketahui dan mapan," jelasnya kepada Newsweek.
Peran Mikrobioma Usus
Salah satu penjelasan potensial mengenai efek ini melibatkan mikrobioma usus, komunitas mikroba di saluran pencernaan yang berperan penting dalam imunitas dan kesehatan metabolik. Pemanis buatan biasanya melewati usus dan bersentuhan langsung dengan mikroorganisme ini.
Tinjauan tersebut menunjukkan bukti bahwa pemanis rendah kalori tertentu mengubah komposisi dan fungsi bakteri usus. Para peneliti menggunakan profil mikrobioma terperinci dan eksperimen transfer mikroba dari manusia ke tikus untuk mengidentifikasi perubahan tersebut.
Namun, Le menekankan bahwa apakah perubahan mikrobioma ini benar-benar berdampak pada konsekuensi kesehatan jangka panjang masih menjadi perdebatan. "Ini masih menjadi bahan diskusi, terutama mengingat kompleksitas mikrobioma usus, variasi antarindividu, dan jenis pemanis yang berbeda pada konsentrasi yang bervariasi dari waktu ke waktu," tambahnya.
Perbedaan Jenis Pemanis
Para ahli mengingatkan bahwa kategori pemanis nonnutrisi sangat luas, mencakup produk sintetis seperti aspartam, sakarin, dan acesulfame potasium, hingga alternatif alami seperti stevia dan buah biksu (monk fruit). Peneliti mencatat bahwa setiap jenis pemanis mungkin memiliki efek biologis yang berbeda, sehingga beberapa di antaranya mungkin lebih bermasalah dibandingkan yang lain.
Selain uji klinis, para penulis juga meninjau studi observasional populasi besar yang menemukan hubungan antara pemanis nonnutrisi dengan risiko penyakit kardiometabolik yang lebih tinggi. Meski demikian, studi observasional tidak dapat membuktikan sebab-akibat karena ada kemungkinan orang yang sudah berisiko tinggi terkena penyakit tersebut cenderung memilih pemanis rendah kalori. (I-2)