Polisi Sebut Siswa SMP Tewas di Lumajang Bukan Bullying, tapi Kekerasan Terhadap Anak - Kompas
LUMAJANG, KOMPAS.com - Kepolisian Resor Lumajang menegaskan kasus yang menewaskan MI (16), siswa SMP PGRI Sukodono, bukan perundungan (bullying), melainkan tindak kekerasan terhadap anak.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lumajang Ipda Rahmat Budy Prasetyo mengatakan, peristiwa yang menimpa korban tidak memenuhi unsur perundungan karena tidak terjadi secara berulang.
"Ini bukan bullying, tapi kekerasan terhadap anak," kata Rahmat saat dihubungi, Kamis (2/7/2026).
Baca juga: Kasus Bullying Maut di Lumajang, Dindikbud Tak Temukan Kelalaian Guru
Menurut Rahmat, tindakan pelaku dipicu rasa kesal yang berujung pada penganiayaan terhadap korban.
Ledakan Bom Guncang Damaskus, 5 Orang Tewas, 16 Lainnya Terluka
"Karena di situ tidak ada perundungan atau bullying, tetapi murni kejengkelan pelaku dan langsung melakukan penganiayaan," ujarnya.
Satu Orang Jadi Tersangka
Kasi Humas Polres Lumajang Ipda Suprapto mengatakan, penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Lumajang telah mengamankan seorang remaja berinisial S yang merupakan teman korban.
Baca juga: Terkuaknya Motif di Balik Penganiayaan Caddy Golf Tangerang
Setelah melalui proses penyelidikan, S telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.
"Terduga pelaku sementara satu orang diamankan oleh PPA Polres Lumajang, statusnya sudah tersangka," kata Suprapto.
Meski demikian, polisi masih mendalami kemungkinan keterlibatan pelaku lain.
Baca juga: Bullying Siswa SMP Lumajang Berujung Kematian, Pelaku Sempat Beri Ganti Biaya Berobat Rp 60.000
Keluarga Sebut Ada Dua Pelaku
Sebelumnya, keluarga korban menyebut dugaan penganiayaan terhadap MI dilakukan oleh dua siswa yang merupakan teman sekelas korban.
Informasi tersebut, menurut keluarga, diperoleh dari keterangan korban sebelum meninggal dunia serta hasil mediasi yang digelar pihak sekolah dengan menghadirkan dua siswa tersebut.
Menanggapi hal itu, Suprapto mengatakan penyidik masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain.
"Untuk kemungkinan pelaku lain masih dalam penyelidikan Unit PPA," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Gelombang Panas Datang Lagi, 2.000 Orang Tewas di Spanyol dan Perancis