Cerita Korban Gempa Flores, Rambut Dipenuhi Semen Warna Abu-abu Saat Selamatkan Anak dari Reruntuhan - Kompas
MAUMERE, KOMPAS.com – Kepanikan luar biasa melanda warga saat gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Guncangan hebat yang terjadi saat suasana pagi masih hening di Kampung Kangae, Kabupaten Sikka, memaksa para penghuni rumah berlarian menyelamatkan diri di tengah material bangunan yang runtuh.
Pengalaman mencekam salah satunya dialami oleh Sisilia, seorang warga Kampung Kangae. Saat gempa Flores terjadi, ia tengah tertidur pulas bersama anak laki-lakinya. Sementara sang suami, David, sedang berada di Kota Maumere.
Pagi itu, di atas bukit Kampung Kangae belum ada aktivitas warga karena sebagian besar warga tengah bersiap mengikuti agenda jalan sehat dalam rangka menyambut peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Kangae.
Media Asing Soroti Indonesia, Rayakan HUT RI di Tengah Duka Gempa NTT
Baca juga: Listrik di Ende NTT Pulih 100 Persen Pascamustika Gempa M 7,7 Flores, PLN Imbau Warga Tetap Waspada
Guncangan Hebat dan Rambut Berubah Abu-abu
Sebelum sempat beranjak dari tempat tidur, seng atap rumah Sisilia mendadak berbunyi bising disertai guncangan tanah yang sangat kuat.
"Gempa... gempa... Adik, bangun," tutur Sisilia saat mengisahkan detik-detik mencekam kejadian gempa bumi yang mereka alami.
Tanpa berpikir panjang, Sisilia menarik paksa putranya yang masih tertidur pulas di kasur, lalu menggendongnya berlari keluar rumah melalui pintu belakang.
Jalur evakuasi di belakang rumah yang mereka lalui melewati bale-bale bambu tinggi. Beruntung, tiang penopang bambu tersebut tidak patah maupun roboh meski diguncang gempa kuat.
"Kami berdua berjalan pelan-pelan saat keluar," ujar Sisilia.
Baca juga: Pulang Cari Beras di Pasar Usai Gempa, Warga Desa Selalejo Terjebak Longsor di Jalan Desa Ua
Saat berusaha keluar, material bangunan rumahnya mulai berguguran. Pasir dan adonan semen berjatuhan tepat di atas kepala ibu dan anak tersebut, hingga rambut hitam mereka berubah menjadi abu-abu tertutup debu material bangunan.
Kamar Ambruk dan Batu Bata Menimpa Kasur
Bunyi benda-benda rumah tangga yang berjatuhan dan hancur di dalam rumah tak dihiraukan Sisilia. Ia terus melangkah fokus menyelamatkan nyawa anaknya.
Setelah berhasil mencapai area terbuka di badan jalan yang jauh dari pepohonan, guncangan gempa ternyata masih berlangsung kuat. Dari tempat aman tersebut, Sisilia mendengar dentuman keras dari arah rumahnya.
Rupanya, dinding kamar tidur tempat ia dan anaknya berbaring beberapa saat sebelumnya telah ambruk total. Batu-batu bata berukuran besar berserakan menimpa kasur.
Baca juga: Pemerintah Gratiskan Pengurusan Dokumen Penting Korban Gempa NTT, dari KTP hingga Sertifikat Tanah
"Syukur saja waktu itu kami berdua tidak tidur di sini (kamar yang dijatuhi reruntuhan batu bata)," ungkap Sisilia penuh rasa syukur.
Rumah berkonstruksi batu dengan dua kamar tidur tersebut diakui Sisilia baru selesai dibangun dan baru ditempati selama kurang lebih dua tahun.
Berdasarkan pantauan TribunFlores.com di lokasi pada Selasa (18/8/2026), bagian dalam rumah Sisilia kini hanya menyisakan puing-puing bangunan dan debu tebal.
Gempa dahsyat yang mengguncang kawasan Flores, NTT ini mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup parah di beberapa titik.
4 Hari Mengungsi di Perbukitan Tanpa Bantuan
Dampak gempa Flores tidak hanya dirasakan di Kabupaten Sikka. Di Kampung Nasaret, Desa Nampar Sepang, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, ratusan warga pesisir pantai utara Flores terpaksa melarikan diri ke area perbukitan karena khawatir terjadi gempa susulan maupun potensi ancaman bahaya laut.
Baca juga: BMKG Catat 2.403 Gempa Susulan di NTT, Warga Flores Masih Mengungsi di Tenda dan Kebun
Hingga Selasa (18/8/2026) atau hari keempat pascagempa, warga Kampung Nasaret masih bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat yang didirikan secara swadaya di atas lahan perkebunan dataran tinggi.
Di dalam tenda-tenda terpal berwarna biru sederhana yang minim fasilitas, tampak anak-anak, lansia, dan kaum ibu duduk berselimut ketidakpastian. Mereka tidur beralaskan terpal tipis dengan barang bawaan seadanya yang dikemas dalam tas pakaian.
Salah seorang warga Kampung Nasaret, Remigildus Ndiru, mengungkapkan bahwa hingga hari keempat pengungsian, belum ada bantuan logistik maupun medis yang menyentuh lokasi mereka.
"Kami membuat tenda sendiri dan makan seadanya. Kami minta tolong dibantu makanan dan obat-obatan. Kami membutuhkan bantuan dari pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat," tegas Remigildus dalam rekaman video pada Selasa (18/8/2026).
Baca juga: Lompat dari Lantai 3 Saat Gempa M 7,7 Guncang NTT, Frater Muda di Sikka Meninggal di RS
Remigildus menjelaskan, terdapat sedikitnya 17 tenda pengungsian swadaya yang berdiri di dataran tinggi tersebut. Warga enggan kembali ke pemukiman karena rumah mereka telah hancur total dan masih membayangi ketakutan akan gempa susulan.
"Rumah sudah tidak ada. Semuanya rusak. Kami terus bertahan karena ingin selamat dan tetap aman jika terjadi gempa susulan," tuturnya.
Ia sangat berharap pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat tidak melupakan keberadaan warga di wilayah terpencil yang terdampak bencana gempa bumi di Flores, NTT ini.
Artikel ini telah tayang di Tribunflores.com dengan judul Kisah Sisilia Lari Bersama Anak saat Gempa Flores, Rambut Penuh Pasir dan Semen
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT