Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gempa Bumi Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Gempa NTT Magnitudo 7,7 Picu Banyak Longsoran - Liputan6

    3 min read

     

    Seorang pria memeriksa ponselnya di dekat bangunan yang runtuh akibat gempa bumi di Reok, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Minggu, 16 Agustus 2026. (Foto AP/Aquila Handayani Abbas)

    Liputan6.com, Jakarta - Kerentanan geologi lokal dan besarnya energi seismik yang dilepaskan, membuat gempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores NTT, Sabtu (15/8/2026) silam, memicu longsoran yang masif di sepanjang jalur strategis Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere. Hal itu diungkap Daryono, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI). 

    Daryono dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026), lebih jauh menjelaskan, Pulau Flores didominasi oleh batuan vulkanik muda dan endapan piroklastik, seperti tuf dan aglomerat yang mengalami pelapukan lanjut.

    "Material tanah dan batuan pelapukan ini, memiliki struktur rapuh serta kuat geser yang rendah, sehingga sangat tidak stabil ketika menerima guncangan dinamis secara mendadak," katanya. 

    ​Kerentanan material batuan tersebut, kata Daryono, diperparah oleh kondisi morfologi Flores yang didominasi oleh pegunungan dan lereng-lereng terjal dengan kemiringan ekstrem.

    Pemotongan lereng untuk jalur jalan nasional Trans-Flores secara alami mengurangi tumpuan bawah tebing dan memperbesar gaya pendorong gravitasi.

    "Ketika gempa Magntudo 7,7 terjadi, nilai percepatan tanah maksimum terlampaui secara drastis, sementara durasi guncangan yang berlangsung lama merusak ikatan kohesi antarbutir tanah hingga memicu runtuhan lereng serentak di berbagai titik," katanya.

    ​Faktor gelombang seismik juga mengalami pembesaran akibat efek tapak lokal pada lapisan tanah lunak dan fenomena amplifikasi topografi.

    Gelombang gempa memantul serta terkonsentrasi di area puncak bukit dan tebing, membuat guncangan di bagian atas lereng jauh lebih kuat ketimbang area lembah.

    "Pada saat yang sama, guncangan siklik yang seketika menghilangkan daya dukung material dan meruntuhkan ribuan ton tanah serta batuan hingga menutupi akses jalan utama," kata Daryono.

    Survei Makroseismik

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik di lokasi terdampak, usai gempa Magnitudo 7,7.

    Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, Selasa (18/8/2026) mengatakan, pengujian karakteristik tanah dilakukan melalui pengukuran mikrotremor dan Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) pada wilayah-wilayah terdampak.

    "Tim dari pusat dan UPT BMKG itu melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan," katanya

    Dia menjelaskan, hasil dari pemetaan teknis tersebut nantinya diproyeksikan sebagai basis pemetaan mikro-zonasi bencana, sekaligus menjadi landasan utama penyusunan rekomendasi rekonstruksi tata ruang dan bangunan yang aman gempa bagi pemerintah daerah maupun masyarakat setempat.

    Survei teknis ini memprioritaskan kawasan dengan tingkat kerusakan sedang hingga berat di Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, untuk kemudian dibandingkan dengan area yang relatif tidak terdampak.

    Sementara berdasarkan data BMKG Rabu (19/8/2026), per pukul 05.00 WIB, tercatat ada sebanyak 2.768 kali gempa susulan, dengan Magnitudo terbesar M6,2 dan terkecil M1,1. Magnitudo di atas 5 ada sebanyak 24 gempa, sementara gempa susulan yang dirasakan ada 81 gempa.

    Komentar
    Additional JS