Gunung Anak Krakatau 51 Kali Erupsi, Petugas: Tak Ada Kaitan dengan Gempa NTT dan Cincin Api - Kompas
LAMPUNG SELATAN, KOMPAS.com - Rentetan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda dalam beberapa waktu terakhir memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Apakah aktivitas gunung api di Lampung Selatan itu berkaitan dengan gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT)?
Lalu, apakah aktivitas tersebut ada hubungannya dengan posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik?
Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Andi Suwardi, memastikan kedua hal tersebut tidak menjadi penyebab aktivitas GAK saat ini.
Warga NTT Masih Syok Usai Gempa Magnitudo 7,7, BNPB: Teringat Tsunami 1992
"Tidak ada kaitannya. Sebelum NTT juga Krakatau sudah aktif. Ini karena aktivitas Krakatau memang sedang meningkat," kata Andi kepada Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Bukan Dipicu Gempa NTT
Menurut Andi, aktivitas vulkanik GAK sudah berlangsung sebelum gempa NTT terjadi.
Karena itu, erupsi yang terjadi beruntun tidak dapat dikaitkan sebagai dampak dari gempa tersebut.
Ia menjelaskan, aktivitas GAK lebih berkaitan dengan proses vulkanik yang berlangsung di dalam tubuh gunung api.
Baca juga: NTT Memanggil Jakarta
Sepanjang 2026, aktivitas tersebut tercatat cukup intens.
Berdasarkan data MAGMA Indonesia yang dihimpun, sedikitnya 51 erupsi GAK tercatat sejak Januari hingga Juli 2026.
Aktivitas kemudian kembali meningkat pada Agustus 2026, termasuk rangkaian erupsi dalam jumlah banyak pada 16-17 Agustus, yaitu 28 kali letusan.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari, Aktivitas Berlangsung hingga Malam
Setiap Gunung Punya "Dapur Magma"
Andi juga menepis anggapan bahwa aktivitas GAK terjadi karena Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik.
Menurut dia, Cincin Api merupakan kawasan yang memiliki banyak gunung api dan aktivitas tektonik, tetapi setiap gunung memiliki sistem magmanya sendiri.
"Ini hanya jalur. Tiap gunung api punya dapur magmanya sendiri," ujar Andi.
Baca juga: Mengapa Indonesia Rawan Gempa? Memetakan Ancaman di Tengah Cincin Api Pasifik
Dengan demikian, aktivitas vulkanik GAK tidak bisa semata-mata dijelaskan karena gunung tersebut berada di kawasan Cincin Api Pasifik.
Banyaknya erupsi dalam waktu berdekatan juga menimbulkan kekhawatiran akan adanya akumulasi energi yang kemudian memicu letusan lebih besar.
Andi menjelaskan, ketika energi vulkanik cukup untuk mendorong magma ke permukaan, sebagian energi tersebut akan dilepaskan melalui erupsi.
Baca juga: Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
"Itu karena energinya cukup untuk mendorong magma ke permukaan sudah dikeluarkan. Nanti energinya berkurang dan dikumpulkan lagi," katanya.
Sebaliknya, menurut dia, apabila energi vulkanik tidak dikeluarkan dalam waktu lama, potensi erupsi yang lebih besar tetap dapat terjadi.
"Kalau energinya lama tidak dikeluarkan, bisa menyebabkan erupsi yang agak besar atau besar," ujar Andi.
Baca juga: Gempa Flores M 7,7 dan Letusan Gunung Api Ibu Hari Ini, Adakah Kaitannya?
Karena itu, aktivitas GAK tetap dipantau secara berkala untuk melihat perubahan aktivitas kegempaan maupun kondisi visual gunung api.
Peningkatan aktivitas GAK juga telah menimbulkan dampak di wilayah sekitar, khususnya Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa.
Debu vulkanik berwarna hitam sempat terbawa angin hingga mencapai permukiman dan mengotori halaman serta bagian luar rumah warga.
Baca juga: Ahli ITB: Gempa M 7,7 Flores Mirip Gempa Dahsyat 1992, Waspada Gempa Susulan
Untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik, Dinas Kesehatan Lampung Selatan telah membagikan masker kepada masyarakat.
Warga juga diimbau menggunakan masker dan, bila tersedia, kacamata saat beraktivitas di luar rumah.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
Baca juga: Erupsi Lagi, Gunung Anak Krakatau Muntahkan Kolom Abu 200 Meter
Status GAK Masih Siaga
Andi mengingatkan masyarakat tidak mengaitkan aktivitas GAK dengan informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu mengenai gempa di daerah lain.
Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan instansi terkait.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Baca juga: Pakar ITB Ungkap Gempa Flores M 7,7 Mirip Gempa Besar 1992, Jaraknya Kurang dari 40 Km
Masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki dilarang mendekati atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
“Lebih baik jangan ke sana dulu selama Status Siaga," kata Andi.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT