Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bencana Berita Featured Gempa Bumi Kesehatan Lintas Peristiwa NTT Spesial

    Kisah Dokter Novi di Garis Depan Gempa Flores, Tetap Obati Pengungsi Meski Serba Terbatas - Kompas

    7 min read

     


    MANGGARAI TIMUR, KOMPAS.com - Suasana di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih diliputi kekhawatiran pascagempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Flores. Namun, di tengah kepanikan dan trauma warga, seorang tenaga medis memilih untuk tetap berdiri teguh di garis terdepan pelayanan kesehatan.

    Adalah dr. Regina Novita B. Jehalu, yang akrab disapa Dokter Novi, dokter dari Puskesmas Pota yang tanpa lelah memberikan penanganan medis bagi warga terdampak. Bersama puluhan tenaga kesehatan (nakes) lainnya, ia bersiaga penuh menjaga Posko Central yang dipusatkan di SMK Muhammadiyah Sambi Rampas.

    Sejak hari pertama bencana gempa bumi Flores menghentak, bangunan sekolah tersebut langsung dialihfungsikan. Sebagian ruang kelas disulap menjadi ruang Unit Gawat Darurat (UGD) sekaligus fasilitas rawat inap darurat bagi pengungsi.

    Baca juga: Gempa NTT: Infrastruktur Rusak, Bantuan Terus Disalurkan

    Lonjakan Pasien Rawat Inap dan Kondisi Darurat Medis

    Seiring berjalannya hari di tenda pengungsian, jumlah masyarakat yang membutuhkan bantuan medis terus merangkak naik secara signifikan. Lonjakan pasien terasa kian nyata saat gangguan kesehatan pascabencana mulai bermunculan.

    China Pantau Gempa NTT: Warganya Terluka, Beijing Siap Kirim Bantuan

    Dokter Novi mencatat, lonjakan kunjungan medis terjadi sangat tajam hanya dalam rentang waktu 24 jam. Pada hari sebelumnya, tim medis di Posko Sentral SMK Muhammadiyah hanya menangani dua pasien. Namun, angka tersebut melonjak menjadi sembilan pasien pada hari berikutnya.

    "Untuk malam ini yang pasti opname ada enam. Ada satu pasien yang dirujuk dan sudah sampai di Rumah Sakit Borong. Tadi ada satu pasien anak yang pulang, kemudian dua pasien juga sudah pulang. Jadi hari ini kami sembilan," ujar dr. Novi kepada tim media, Selasa (18/8/2026).

    Baca juga: Cerita Pengungsi Gempa Flores di Manggarai Timur, 4 Hari Tanpa Bantuan Makanan dan Obat

    Jangkau Warga Lewat Anak Posko dan Kunjungan Rumah

    Angka penanganan di Posko Sentral tersebut rupanya belum mencerminkan keseluruhan warga terdampak gempa Flores yang membutuhkan pertolongan. Banyak korban gempa Manggarai Timur yang belum terevakuasi atau enggan meninggalkan lokasi pengungsian karena trauma gempa susulan.

    Menyikapi kondisi tersebut, tim gabungan tenaga kesehatan berinisiatif mendirikan anak posko di dua lokasi strategis, yakni Wilayah Biting dan Wilayah Pacipanda. Bidan dan perawat ditempatkan secara khusus di anak posko guna mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga yang enggan beranjak dari tempat pengungsian.

    Dokter Novi menekankan bahwa pihak medis tidak hanya menunggu di tempat. Bagi warga yang terkendala akses atau terlalu takut untuk keluar dari tenda pengungsian, tim medis siap menerjunkan personel secara langsung (door-to-door).

    "Jangan sungkan kalau ada yang sakit atau mulai ada keluhan untuk datang ke posko. Kalau tidak bisa mengakses posko utama, kabari petugas. Kami bisa melakukan kunjungan rumah," imbau Dokter Novi.

    Baca juga: Cerita Korban Gempa Flores, Rambut Dipenuhi Semen Warna Abu-abu Saat Selamatkan Anak dari Reruntuhan

    Krisis Alat Kesehatan dan Pergeseran Pola Penyakit Pengungsi

    Bekerja di medan bencana alam bukan tanpa hambatan. Dokter Novi mengungkapkan bahwa Posko Sentral Sambi Rampas saat ini menghadapi kendala serius terkait keterbatasan alat kesehatan (alkes) serta bahan medis habis pakai (BMHP).

    Beberapa peralatan darurat yang ketersediaannya mulai sangat menipis dan mendesak untuk disalurkan antara lain:

    • Set peralatan infus
    • Peralatan bedah minor/menjahit luka (minor surgery set)
    • Nasal kanul (selang oksigen untuk bantuan pernapasan)

    Meskipun serba terbatas, pelayanan medis tetap berjalan optimal berkat pasokan bantuan obat-obatan yang mulai berdatangan dari berbagai pihak.

    Baca juga: Cerita Korban Gempa Flores, Rambut Dipenuhi Semen Warna Abu-abu Saat Selamatkan Anak dari Reruntuhan

    Uluran tangan mengalir dari relawan bencana, organisasi profesi (seperti Ikatan Dokter Indonesia), bantuan keluarga, instansi swasta, hingga pasokan resmi dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD).

    Di sisi lain, pola penyakit yang dialami pengungsi gempa Flores mulai bergeser. Pada fase awal bencana, mayoritas warga dirawat akibat luka fisik trauma benturan, seperti luka robek, memar berat (hematom), hingga cedera akibat tertimpa material bangunan atau kayu. Kini, ancaman penyakit lingkungan dan psikologis mulai menghantui pengungsi.

    "Paling banyak sekarang hematom atau memar, kemudian luka robek, luka ringan, bekas tertindih bahan bangunan atau kayu. Di luar itu, penyakit yang berkaitan dengan stres seperti gastritis (asam lambung) juga lumayan," ungkap Novi.

    Kondisi kesehatan anak-anak di pengungsian juga memprihatinkan. Akibat cuaca buruk dan sanitasi yang kurang ideal di dalam tenda, kelompok rentan ini mulai terserang Batuk, Demam, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga Diare.

    Baca juga: Listrik di Ende NTT Pulih 100 Persen Pascamustika Gempa M 7,7 Flores, PLN Imbau Warga Tetap Waspada

    Sinergi 20 Tenaga Kesehatan dan Dukungan Lintas Wilayah

    Dalam menjalankan misi kemanusiaan ini, Dokter Novi tidak bekerja seorang diri. Sinergi lintas sektor terbentuk erat di lapangan. Selama tiga hari terakhir, ia bekerja secara bergantian dengan para dokter sukarelawan dari IDI Cabang Manggarai Timur.

    Dukungan personel medis dipastikan akan bertambah seiring rencana kedatangan tim dokter dari Crisis Center Jakarta dan Crisis Center Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara untuk tenaga perawat dan bidan, bantuan disokong oleh puskesmas sekitar:

    • Puskesmas Pota: Menyiagakan 10 hingga 15 personel secara bergantian.
    • Puskesmas Mano: Mengirimkan 6 orang tenaga kesehatan.
    • Puskesmas Lebi & Puskesmas Nalang: Mengirimkan bantuan personel medis pendukung.

    Secara akumulatif, terdapat sekitar 20 tenaga kesehatan yang berjibaku di Sambi Rampas. Kendati demikian, mereka harus membagi konsentrasi karena sebagian nakes disebar ke anak posko di Biting dan Pacipanda, serta beberapa di antaranya turut menjadi korban terdampak gempa yang harus mengurus keluarga masing-masing.

    Baca juga: Listrik di Ende NTT Pulih 100 Persen Pascamustika Gempa M 7,7 Flores, PLN Imbau Warga Tetap Waspada

    Pesan Menguatkan di Tengah Duka Bencana

    Bagi dr. Novi, profesi medis di area bencana bukan sekadar menyuntikkan obat atau membalut luka, melainkan juga menghadirkan rasa aman agar warga tidak merasa berjuang sendirian di masa-masa sulit.

    Menutup perbincangannya, dr. Novi menyampaikan pesan menyentuh yang mengajak seluruh lapisan masyarakat Sambi Rampas untuk tetap solid dan saling menguatkan.

    "Bencana ini adalah ujian untuk kita semua. Jangan jadikan duka ini sebagai cobaan yang mematahkan semangat. Di tengah duka, bencana dan kekurangan ini, kita harus bersatu. Jika kita bersatu, pasti akan ada bantuan yang datang," tutur dr. Novi memungkas.

    Artikel ini telah tayang di Tribunflores.com dengan judul Di Tengah Keterbatasan, Dokter Novi Bertahan Layani Korban Gempa di Sambi Rampas

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS