Kisah Nelayan Rasakan Gempa NTT di Tengah Laut, Ada Ikan Besar, Kapal Bergetar hingga Air Terasa Mendidih - Kompas
NAGEKEO, KOMPAS.com – Raut wajah Patta Daeng masih menyiratkan trauma mendalam saat ditemui di pinggir Pantai Nangadhero, Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (19/8/2026) pagi.
Puluhan tahun mengarungi lautan tak lantas membuat nelayan tangguh ini luput dari rasa takut. Pengalaman menegangkan melintas di benak Patta Daeng saat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi.
Gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer itu berpusat di koordinat 8,33 Lintang Selatan (LS) dan 121,32 Bujur Timur (BT), atau sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Namun, alih-alih berpijak di tanah daratan, Patta Daeng bersama 14 rekannya justru sedang berada di tengah laut menggunakan kapal lempara untuk mencari ikan.
Warga NTT Masih Syok Usai Gempa Magnitudo 7,7, BNPB: Teringat Tsunami 1992
Pengalaman memancing yang semula biasa berujung pada peristiwa mengejutkan, mengingatkannya kembali pada memori kelam gempa besar Flores 34 tahun silam.
Baca juga: Kisah Maria Merangkak Selamatkan Diri Saat Gempa Sikka, Patah Kaki Bertahan di Tenda Pengungsian
Kemunculan Ikan Besar "Dede" Sebelum Gempa Nagekeo
Kisah ini bermula saat Patta Daeng dan rombongannya bertolak dari pesisir pada Jumat (14/8/2026) sore sekitar pukul 16.00 WITA menuju rompong. Setelah bermalam di laut, mereka bersiap melingkar jaring pukat pada Sabtu pagi.
Namun, sebelum jaring dilepaskan, seekor ikan berukuran raksasa tiba-tiba muncul ke permukaan laut di dekat kapal mereka. Menurut Patta Daeng, ukuran ikan yang dikenal nelayan Sulawesi dengan sebutan "dede" tersebut diperkirakan sebesar kapal lempara yang mereka tumpangi.
"Kami akhirnya tidak jadi lingkar pukat karena takut. Kalau dipaksakan lingkar pukat pasti rusak," ujar Patta Daeng saat mengingat detik-detik sebelum fenomena gempa Flores M 7,7 terjadi.
Meski kerap melaut, kemunculan ikan berukuran raksasa tersebut sangat jarang terjadi. Sinyal alam itu pun membuat para nelayan ragu dan memilih menyudahi aktivitas menangkap ikan.
"Pernah lihat ikan itu, tapi dia jarang muncul. Pada saat kami mau lingkar pukat, tiba-tiba muncul ke permukaan dekat pembakar kalau lempara. Mungkin itu sudah ada tanda-tanda bencana," tuturnya dengan aksen khas Sulawesi.
Baca juga: Jembatan Penghubung di Jalur Trans Flores Terancam Putus Akibat Gempa NTT
Kapal Bergetar Hebat dan Air Laut Terasa Mendidih

Lihat Foto
Tak ingin mengambil risiko, rombongan nelayan ini memutar haluan kembali ke daratan. Namun di tengah perjalanan, kapal lempara yang mereka tumpangi tiba-tiba bergetar hebat.
Kepanikan sempat melanda kapal. Para nelayan menduga getaran dahsyat itu berasal dari kerusakan mesin kapal hingga juragan memutuskan untuk mematikan mesin.
"Saat dalam perjalanan pulang, kapal bergetar seperti mesin rusak. Kami matikan mesin, sama juga, kapal tetap bergetar," kata Patta Daeng.
Baca juga: Kesaksian Warga Saat Gempa Mengguncang NTT: Kalau 20 Detik, Pasti Satu Flores Rata
Guncangan tersebut berlangsung cukup lama, diperkirakan selama kurang lebih lima menit. Patta Daeng mengibaratkan getaran di tengah laut itu seperti kendaraan yang sedang dipacu di jalanan rusak parah.
"Getarannya seperti saat kita naik mobil di daratan, baru lewat di jalan yang rusak parah dan jalan batu-batu," ujarnya menceritakan kesaksian nelayan Nagekeo.
Tak berselang lama, sang juragan kapal menyadari apa yang sebenarnya terjadi di dasar laut.
"Tidak lama juragan kapal bilang ini bukan mesin rusak, tapi ini gempa karena air laut mendidih," tutur Patta Daeng mengutip perkataan sang juragan.
Uniknya, meski getaran gempa tergolong dahsyat, jauh melebihi gempa Magnitudo 3 atau 4 yang pernah mereka rasakan sebelumnya, kondisi permukaan laut di tengah justru tidak menunjukkan gelombang besar.
"Untungnya tidak ada ombak di tengah laut, mungkin gelombang hanya di dekat daratan saja," tambahnya.
Baca juga: Warga Nagekeo Bertahan dengan Sisa Makanan, Bantuan Sembako Belum Tiba
Kampung Sepi dan Terjangan Gelombang
Selama berlayar di tengah laut, Patta Daeng dan rekan-rekannya sama sekali tidak mengetahui bahwa gempa Nagekeo berkekuatan M 7,7 tersebut berpotensi memicu tsunami. Informasi baru mereka dapatkan setelah tiba di titik yang memiliki sinyal seluler dan membuka gawai masing-masing.
Setibanya di daratan Desa Nangadhero sekitar pukul 09.00 WITA, pemandangan pilu menyambut kedatangan mereka. Rumah-rumah warga mengalami kerusakan, air beserta lumpur menerjang kawasan permukiman, dan kapal-kapal kecil terseret hingga ke daratan.
Suasana kampung tempat tinggalnya pun mendadak sunyi tak berpenghuni.
Baca juga: Kisah Salmi Peluk Anak Lalu Terjun ke Laut Saat KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok
"Sudah tidak ada orang lagi. Sudah lari semua," tutur Patta Daeng.
"Masuk rumah lihat keadaan begitu saya pasrah saja. Apa boleh dibuat, ini musibah. Di rumah dan di tetangga-tetangga sudah tidak ada orang semua," lanjutnya.
Rasa lapar usai melaut sejak sore hari sebelumnya membuat Patta Daeng dan kelompok nelayan rompong lain yang selamat berkumpul untuk memasak dan makan bersama. Uniknya, momen kebersamaan tersebut mereka lalui dengan tenang di tengah ancaman gempa bumi Flores susulan yang terus bergoyang.
Baca juga: BNPB Minta Pemda Nagekeo Percepat Data Kerusakan Rumah, Harus Rampung Sebelum Sebulan
Bertahan di Tengah Trauma dan Pesisir yang Gelap
Meski keluarganya memilih mengungsi ke Desa Aeramo, Patta Daeng mengambil keputusan untuk tetap bertahan menjaga rumahnya di kawasan pesisir Desa Nangadhero.
Hingga Rabu (19/8/2026), aliran listrik di wilayah tersebut belum berhasil dipulihkan. Pesisir Nangadhero pun tenggelam dalam kesunyian dan kegelapan pada malam hari seiring sebagian besar warga yang masih bertahan di pengungsian.
Bagi Patta Daeng, bencana ini menghadirkan kilas balik kenangan pahit gempa besar Flores pada tahun 1992 silam. Pengalaman 34 tahun lalu itu memberinya ketabahan ekstra untuk menghadapi situasi pascabencana kali ini.
Baca juga: KMP Putri Yasmin Terbakar di Selat Lombok, Tangis Delsi Menanti Kabar Kakaknya yang Hilang
"Saya trauma dan sudah pengalaman waktu gempa 1992. Setelah air naik itu selanjutnya tidak lagi dan gempa susulannya lama-lama hilang," pungkasnya.
Kini, di balik sunyinya Desa Nangadhero, Patta Daeng tetap setia menunggu kampung halamannya kembali pulih dan bangkit dari dampak gempa Flores M 7,7.
Artikel ini telah tayang di Tribunflores.com dengan judul Patta Daeng : Ikan Raksasa di Tengah Laut, Kapal Bergetar dan Air Laut Mendidih
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT