Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Karhutla Kebakaran Hutan Kesehatan Lintas Peristiwa Spesial

    Silent Hill Karhutla Banjarbaru: Udara Muram, Napas Sesak, Keluarga Cemas - Kompas

    8 min read



    JAKARTA, KOMPAS.com - Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti kehidupan warga Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

    Selama berbulan-bulan, mereka harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah udara yang dipenuhi asap.

    Bagi Intan (18), warga Banjarbaru, kondisi itu terasa seperti berada di dalam film horor Silent Hill.

    Film yang pernah ditontonnya itu menggambarkan sebuah kota yang diselimuti kabut tebal.

    BEGINU : Cerita Membuat Orang Belajar Tanpa Digurui

    Selama sekitar empat bulan terakhir, suasana serupa dirasakan Intan di kawasan Landasan Ulin, tempat tinggalnya.

    Bahkan, hujan yang sempat turun sempat membuatnya berharap kabut asap akan segera menghilang.

    Baca juga: Kemenkes Bantah Informasi Menteri Budi Gunadi Sesak Napas karena Karhutla

    "Kemarin pernah kan sekali hujan, dikira sudah bakal hilang (asap). Malah kayak di film-film Silent Hill gitu," ujar Intan, ketika bercerita kepada Kompas.com, di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (25/10/2026).

    Asap makin pekat setelah matahari terbenam

    Alih-alih menghilang, kabut asap justru semakin terasa setelah matahari terbenam.

    Ketika warga mulai bersiap beristirahat, bau asap kian menyengat di sekitar rumah mereka.

    "Habis maghrib itu saja sudah turun asap, terus pagi, subuh itu sudah bau asap banget, pekat banget," tutur dia.

    Kondisi yang dirasakan warga di lapangan, menurut Intan, berbeda dengan gambaran yang beredar di media sosial.

    Sejumlah unggahan dinilai seolah menunjukkan bahwa kabut asap di Kalimantan Selatan tidak terlalu parah.

    Baca juga: Saat Intan Ungkap Realita Karhutla di Kalsel, Terasa Seperti di Film Silent Hill

    Padahal, warga Landasan Ulin harus menghirup udara yang dipenuhi asap setiap hari selama sekitar empat bulan terakhir.

    "Kadang orang-orang ngelihat di media sosial kan katanya enggak terlalu parah. Cuma realitanya itu parah banget," ujar dia.

    Air bersih ikut menjadi persoalan

    Di tengah persoalan kabut asap, warga juga menghadapi masalah lain, yakni ketersediaan air bersih.

    Dodi (58), warga Landasan Ulin Tengah, Banjarbaru, mengungkapkan bahwa kondisi air di lingkungannya mengkhawatirkan.

    Air yang keruh dan kotor menjadi persoalan yang harus dihadapi warga.

    "Diare juga karena kekeringan, masalah air, airnya keruh, airnya sudah kotor," ucap dia.

    Dodi mengaku telah melaporkan persoalan air bersih tersebut kepada pihak Kelurahan Syamsudin Noor.

    Baca juga: 4 Bulan Dikepung Asap Karhutla, Dodi Bertahan dengan Air Keruh dan Batuk yang Tak Kunjung Usai

    Namun, hampir sebulan setelah laporan disampaikan, bantuan air bersih yang diharapkannya belum juga datang.

    "Saya kan lapor ke kelurahan Syamsudin Noor, kata dia 'iya nanti saya laporkan dulu sama lurahnya' gitu saja jawabannya. Belum ada bantuan air bersih," imbuh dia.

    Relawan yang rela tinggalkan keluarga

    Di tengah kebakaran yang terus mengancam kawasan lahan dan hutan, Abidin (50) memilih tetap berada di garis depan untuk membantu pemadaman.

    Bergabung dengan Tim Pemadam 07 Seka Fire Rescue (Posko Induk Pemadam Kebakaran Seka), Abidin kerap harus menginap di dekat lokasi kebakaran.

    Langkah itu dilakukan agar api tidak semakin meluas.

    Bagi Abidin, meninggalkan lokasi kebakaran bukan pilihan mudah ketika api masih berpotensi menjalar.

    Bahkan, ia terkadang harus menginap di sekitar lokasi demi memastikan lahan yang terbakar tetap terpantau.

    Baca juga: Kisah Relawan Karhutla di Kalsel, Rela Nginap, meski Keluarga Cemas Menanti

    "Kalau memungkinkan kita tidur di situ ya, terpaksa lah, istilahnya, kada kawa (enggak bisa) ditinggalkanlah lahan itu," kata Abidin, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

    Keputusan itu bukan tanpa konsekuensi.

    Di rumah, istri dan anaknya menunggu dengan perasaan cemas setiap kali Abidin bertugas memadamkan kebakaran.

    Abidin mengakui, istrinya sempat merasa takut karena pekerjaan sebagai relawan pemadam kebakaran memiliki risiko terhadap keselamatannya.

    Menurut dia, kekhawatiran keluarga merupakan hal yang wajar ketika seseorang menjalani pekerjaan yang mengancam keselamatan.

    Karena itu, Abidin berusaha memberikan penjelasan kepada keluarganya mengenai tugas yang dijalaninya.

    Ia bersyukur, perlahan, kekhawatiran tersebut dapat diredam.

    "Ya kalau rasa (takut) itu sih pasti ada, ada merasakan. Tapi, kan kita beri penjelasan, alhamdulillah enggak terlalu (cemas)," kata dia.

    Baca juga: Asap Karhutla dan Ancaman Kesehatan bagi Warga

    Karhutla capai 18.973 hektar

    Hingga Jumat (23/10/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan yang masih dalam penanganan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi Kalimantan mencapai 18.973 hektar.

    Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, Kalimantan Tengah tercatat sebagai provinsi dengan jumlah luas lahan terbakar tertinggi.

    "Di Kalimantan Tengah dalam penanganan saat ini ada 16.097 hektar, ini yang paling tinggi. Di Kalimantan Selatan ada 1.506 hektar, Kalimantan Barat 1.370 hektar, sehingga total untuk tiga provinsi ini 18.973 hektar," kata Berton dalam konferensi pers secara daring, Jumat (23/10/2026).

    Untuk penanganan, BNPB menyiagakan 38.772 personel.

    Rinciannya, 16.387 personel berada di Kalimantan Tengah, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, dan 11.458 personel di Kalimantan Barat.

    Selain personel, BNPB menyiagakan 35 armada udara untuk mendukung operasi penanganan karhutla.

    Baca juga: PBNU Dukung Polisi Tindak Tegas Pelaku Karhutla

    "Sebanyak 22 armada digunakan untuk water bombing dan 13 armada untuk patroli serta operasi modifikasi cuaca," kata dia.

    Untuk mencegah semakin luasnya lahan yang terbakar, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah.

    Sebanyak tujuh sorti dilakukan dengan menyemai 5.000 kilogram dry ice dan 1.000 kilogram NaCl.

    "Dengan sasarannya adalah Murung Raya, Gunung Mas, Palangka Raya, dan Taman Nasional Tanjung Puting," imbuhnya.

    Sementara operasi penerbangan untuk modifikasi cuaca maupun water bombing tidak dilakukan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat karena kondisi awan dinilai tidak mendukung.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS