Suharyanto Lapor Karhutla Sisa 639 Hektare, Kepala BNPB Akan Periksa Ulang - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru, Letjen Kristomei Sianturi mengatakan, dirinya akan mengecek ulang laporan Kepala BNPB yang lama, Letjen Suharyanto mengenai area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersisa 639 hektar saja.
Sebab, masyarakat tidak percaya dengan laporan Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto itu, mengingat asap karhutla masih banyak, bahkan sampai ke negara lain.
Kristomei pun menekankan dirinya akan mengecek luasan karhutla berdasarkan pantauan NASA.
"Pasti (diperiksa ulang) dong. Tadi kan saya bilang, saya konsolidasi internal dulu. Saya cek dulu data fakta yang ada saat ini dengan berdasarkan satelit, bisa SiPongi, kan ada tuh," ujar Kristomei, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Reaksi 4 Gubernur di Kalimantan soal Karhutla yang Tak Kunjung Padam
Baca juga: Kepala BPGMN: Prabowo Minta Tambah 70.000 Polisi Hutan untuk Cegah Karhutla
"Kemudian, hasil pantauan NASA juga berapa sih luasan yang sebenarnya itu? Kan itu bisa dihitung gitu loh. Dan dampaknya apa? Gitu," sambung dia.
Kristomei pun berjanji akan mengumumkan hasil perhitungan ulang mengenai luas karhutla.
Dia menyampaikan, yang terpenting adalah jangan sampai ada korban dari setiap bencana.
"Akan diumumkan. Dan gini, yang paling penting adalah jangan sampai ada korban lagi. Itu dulu yang pertama. Ya, jadi untuk apa pun kebakarannya, bencananya, yang paling utama kita kerjakan, jangan ada korban jiwa. Itu loh," imbuh Kristomei.
Sebelumnya diberitakan, Kepala BNPB (sebelum dicopot Prabowo-red) Letjen Suharyanto melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa karhutla yang terjadi kini tersisa 639,23 hektar saja.
Baca juga: Kepala BPGMN Siapkan Strategi Tangani Karhutla: Basahi Gambut dan Buat Sekat Kanal
Suharyanto menyebut, ada enam provinsi yang menjadi prioritas, mengingat yang terbakar adalah lahan gambut.
Enam provinsi yang dimaksud ialah Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
"Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan jumlahnya adalah 639,23 hektar. Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan," ujar Suharyanto, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026).
"Per hari ini ada 513,89 hektar yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan. Pangdam Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan per hari ini. Kemudian ada penambahan pasukan dan peralatan satgas darat," sambung dia.
Suharyanto menyebut, satgas udara sudah mencoba bergerak dari bandara di Palangkaraya maupun Banjarmasin.
Hanya saja, kata dia, visibilitas atau jarak pandang terlalu tipis akibat asap kabut yang begitu tebal.
"Dan di Kalimantan Tengah ini, operasi-operasi udara, baik heli water bombing, operasi modifikasi cuaca maupun pesawat komersial sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah," kata Suharyanto.
Baca juga: Baru Dilantik, Kepala BNPB Segera Tangani Karhutla: Rakyat Sudah Terdampak!
Selanjutnya, Suharyanto menyampaikan, ada dua provinsi yang masih dalam kondisi cukup berat, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Menurutnya, karhutla di daerah lain lebih mudah dipadamkan.
"Kami juga tetap mengerahkan heli water bombing untuk tempat-tempat yang susah dijangkau, sebagai contoh Taman Nasional Way Kambas, Tanjung Puting di Pangkalan Bun, dan Halmahera Timur di Maluku Utara," jelasnya.
Suharyanto membeberkan, di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan, petugas berfokus pada operasi darat.
Dia mengeluhkan helikopter tidak bisa melakukan water bombing karena tidak bisa terbang akibat visibility rendah.
"Untuk Sumatera Selatan baru hari ini bisa terbang. Dan nanti kami akan padukan dengan operasi modifikasi cuaca, kami tambah armadanya. Kalimantan Tengah menggunakan 4 pesawat, dan Sumatera Selatan menggunakan 2 pesawat dari Pangkal Pinang," papar Suharyanto.
Meski begitu, Suharyanto berjanji akan terus bekerja keras sekuat tenaga dalam mengatasi karhutla.
Dia pun berharap kepada prediksi BMKG bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
"Paling tidak di bulan Oktober ini, mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG sudah mulai turun hujan alami di pertengahan Oktober sampai dengan November dan selanjutnya, setelah musim hujan turun tentu saja kondisi karhutla akan lebih baik. Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki," imbuhnya.
Mendengar laporan Suharyanto itu, Prabowo melakukan konfirmasi ulang.
Prabowo memastikan kepada Suharyanto apakah betul karhutla yang tersisa hanya seluas 639,23 hektar saja.
Sebab, Prabowo berpikir luas karhutla saat ini masih mencapai angka ratusan ribu hektar, atau minimal puluhan ribu hektar.
Baca juga: Respons Yusril soal Pemerintah Indonesia Digugat Terkait Karhutla
"Kepala BNPB, saya mau rekonfirmasi ya. Jadi, kondisi sekarang, total di 6 provinsi yang masih, masih harus dipadamkan berarti masih terbakar ya, adalah 639,23 hektar. Apa benar itu?" tanya Prabowo.
"Betul, Bapak Presiden," jawab Suharyanto.
"Tadinya saya mengira masih ratusan ribu, masih puluhan ribu, ternyata sudah jauh ya," kata Prabowo.
"Alam kita berat. Tapi dari ratusan ribu beberapa minggu lalu, kita sekarang di bawah 1.000. Saya kira ini kalau enggak kita turun tangan secara besar-besaran, enggak, enggak bisa. Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi kan ke depan," lanjut dia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
